
Bocah berlemak yang tidak pernah mendapat teriakan itu, segera menoleh.
Dan baru sekarang dia memperhatikan bocah kurus itu.
Sejak kapan dia ada di sini. Lalu dari keluarga mana dia.
Hingga begitu berani meneriaki dirinya yang hebat ini.
"Lalu apa? Aku takkan menyingkir!
Kau tak layak masuk ke dalam mataku!" Ledek lelaki bertubuh berlemak dan jelek itu.
Phoenix menelan ludah, lupakan kau bisa mati dalam sekejap.
Tuannya ini sekarang akan melakukan hukuman kepada bocah berlemak yang lancang itu.
Dan dia pastikan bahwa bocah berlemak ini lebih memilih kematian segera daripada harus disiksa sampai dia mengingikan mati.
"Apa katamu jelek dan menjijikkan?!" Tampang Nami jelek saat mengatakannya,
darimana kata hebat itu, selain dia hanya melihat bahwa anak ini begitu dimanjakan.
Hingga menjadi tubuh kelebihan lemak begini.
Kelas penyihir miliknya tergolong dalam biasa-biasa saja,
dan tahapan kekuatannya hanya sampai penyihir pemula menengah, apa yang hebat dari itu.
"Apa yang hebat darimu. Selain kata anak manja dan tidak berguna.
Jangan terlalu meninggikan dirimu. Dan aku yakin otak keluargamu di simpan di lutut.
Hingga mereka perlu membuat bisa sesombong ini dengan kekuatan menyedihkan seperti itu." Lanjut Nami dengan ekspresi meremehkan.
Bocah berlemak itu menunjuk Nami. Dan ingin menghinanya lagi.
Namun sebelum itu terjadi, "Apa kau bil---Argh!" Jerit pemuda itu kesakitan sebelum menyelesaikan perkataan.
Dia sudah terlempar jauh menabrak pohon dengan sekali tendangan biasa Nami menggunakan kaki kanannya.
"Bos!" Jerit bawahan bocah berlemak itu segera mendekati bos nya yang kesakitan menabrak pohon,
dan langsung memuntahkan darah.
"Kau begitu berani padaku?!" jerit bocah berlemak itu sambil memuntahkan seteguk darah.
Nami mengangkat satu alisnya. Lalu dia berkata,
"Lalu apa? Kau ingin berkelahi denganku? Kemarilah mumpung aku lagi bosan.
Apakah tendangan itu masih belum memuaskanmu.
Oh baiklah apakah aku harus mengunakan serangan keren lainnya?
Tunggu itu terlalu baik untukmu!
Bagaimana kalau begini saja, kau memiliki daging yang berlebihan dan alot.
Mungkin saja para penjaga binatang roh akan teralihkan pandangannya.
Saat aku mencoba mengambil tanaman langka.
Dan kau bisa merasakan bahwa lemakmu akan berkurang setelah para binatang roh itu menyedot lemakmu!
Burung bodoh apa yang aku katakan,
benar 'kan?" Pikir Nami dengan ide cemerlang sambil meminta konfirmasi idenya kepada phoenixnya.
Si phoenix yang dalam keadaan menjadi burung pipit,
telah mencicitkan dukungan seolah yang dilakukan tuannya adalah sebuah kebaikan.
Sontak wajah bocah gendut itu dari putih, hijau, biru, lalu ke ungu.
Dia rasanya ingin mual kala mendengar penuturan bocah kurus itu.
"Hei bocah kurus! Apa yang kau katakan?
Apakah kau tidak mengenal bos ku berasal dari keluarga mana?" Kata bawahan berbaju kuning itu dengan ekspresi menghina.
"Ya! Tuanku ini adalah satu-satunya keturunan keluarga Hawk,
yang akan menjadi pewaris keluarga! Tidakkah kau pernah mendengar reputasi keluarga Hawk dalam bidang archer!
Kau hanyalah manusia rendahan yang sia-sia!" Timpal bocah berbaju merah itu menyetujui ucapan temannya.
Nami mendecih mendengar penuturan mereka seolah keluarga Hawk bisa menyainginya dalam hal kekuatan.
Dia pun menoleh pada bocah lusuh yang dijadikan sasaran penindasan sebelumnya.
Dia pemuda yang kurus, namun seorang Nami tidak bisa menampik wajah bocah segar itu,
dia tampan, dan itu poin baik. Apalagi jika dia lebih berisi.
Itu akan menjadikan pemandangan yang bisa mendapatkan uang.
Nami berhenti berpikir menjual anak orang.
"Anak muda apakah kau mendengar suara kecoa memadu kasih itu?
Siapa yang pewaris utama? Bagaimana bisa dia memuntahkan banyak nasi saat anak utama masih hidup.
Bukankah ini terlalu melanggar etiket keturunan.
Walau aku tak pernah memedulikannya,
tapi setindaknya informasi seperti itu tidak bisa aku abaikan." Tanya Nami dengan alis terangkat dan senyum merendahkannnya dia arahkan kepada bocah gendut terbujur kaku itu.
Benar informasi itu tidak bisa diabaikan,
mengingat setiap kali dia pergi kerja para karyawan yang sama bekerja dengannya akan selalu menceritakan silsilah keluarga besar,
yang di mana anak utama yang akan mewariskan harta dan kekuasaan orang tuanya.
Dan mereka selalu berangan-angan bisa menjadi bagian dari keluarga itu,
setidaknya menjadi menantu, selir tidak buruk juga.
"Tapi itu..." Bocah tertindas itu menoleh takut pada bocah gendut yang terluka di sana.
"Apa yang perlu kau takutkan?
Bagaimana kalau dia memiliki seorang ibu sebagai dukungan?
Selir hanyalah selir lalu apa yang akan terjadi.
Jika kepala keluarga memiliki selir baru maka favoritismenya akan memudar dan lebih memilih yang baru.
Dan saya Nami tidak menempatkan keluarga seperti itu yang mengabaikan anak utamanya yang masih hidup!"Ujar Nami mendeklarasikan ketidaksetujuannya sekaligus menampar wajah pemuda gendut itu berkali-kali dengan kata-katanya.
"Kamu..." Marah bocah gendut itu memuntahkan darah,
sungguh keberanian besar dia bisa membual dan tidak menempatkan keluarganya yang hebat itu dimatanya.
Phoenix menjatuhkan rahangnya,
dia benar-benar gemas dengan pengakuan identitas tuannya.
"Tuan bukankah sudah cukup sekali anda membuka nama asli anda pada umum?" Sedih phoenix di mana letak teguran sebelumnya,
bahwa tuannya tak ingin identitasnya terbongkar.
Tapi sejak daritadi dialah yang membocorkan identitas.
"Burung bodoh kenapa tidak memberitahukanku sebelumnya!" Marah Nami.
Apakah phoenix harus merayakannya dengan suka cita ataukah dia harus sedih.
Tuan anda yang salah, mengapa kesalahan terus dilemparkan padanya.
Sedih phoenix takkan berani menyuarakan pikiran,
apalagi membiarkan tuan kesayangannya mendengar ini.
Lupakan kebangkitan keturunan, dan pernikahan impiannya.
"Burung bodoh jangan menangis. Nama Nami adalah nama umum.
Jadi tidak mungkin itu hanya mengarah pada satu orangkan.
Jadi tidak masalah memproklamasikan nama asliku.
Toh ini hanya sekali terjadi, dan tidak untuk kedua kalinya." Tenang Nami lupa ini sudah kedua kalinya.
Tuan jika aku tidak mencintaimu. Mungkin aku dengan senang hati mengutukmu!
Nami yang sedang perang pikiran dengan phoenix. Tersadar kembali kala...
"Anu...apakah ini baik-baik saja anda mengatakan seperti itu mengenai keluargaku.
Ku mohon jangan mengambil keputusan gegabah hanya karena diriku." Khawatir pemuda itu dengan mata berkaca.
Sontak Nami membeku sejenak, mirip dengan mata kucing kesayangannya yang dia jual kepada betina belang yang lain.
"Jadilah penghangat ranjangku kalau begitu!" Tawar Nami dengan ekpresi lelaki jantan lihai dalam tempat tidur sambil menangkup dagu anak lelaki tertindas itu berat dan memikat.
__ADS_1
"A-apa?" Bingung pemuda itu bukankah orang di hadapannya adalah seorang lelaki?
Mengapa dia menawarinya hal tersebut.
Phoenix yang mendengar itu merasakan patah hati mendalam.
Bukankah dia jauh lebih baik sebagai penghangatnya?
Dan ayolah, jika dia mengubah dirinya menjadi manusia,
bahkan seperempat ketampanannya tidak ada di dalam diri anak muda itu.
Sontak phoenix melirik tajam penuh dengan permusuhan pada bocah tertindas.
Lalu apa penghangat? Cepat atau lambat dia akan menjadi suami tuannya.
Senyum terkekeh Nami senang menggoda anak kecil ini.
Dia benar-benar lupa umurnya jauh lebih muda dari pada anak lelaki di depannya mungkin satu atau dua tahun di atasnya.
"Hoho...Aku hanya bercanda! Jangan dianggap serius.
Aku seorang lelaki sekarang, jadi aku tidak tertarik dengan sesama jenisku.
Kembali ke situasi awal karena aku membantumu.
Tidak ada yang gratis di dunia ini oke. Bayar aku 10 ruby bagaimana?" Timbang Nami dengan pemikiran sebelumnya,
di dunia ini tidak ada yang gratis, kebaikan, hanyalah omong kosong baginya.
"10 ruby?" Pucat lelaki tertindas itu.
Nami yang sadar akan ekspresi itu, mengurangi angkanya,
apakah itu benar-benar berat?
Dia sebelumnya baru saja mendapatkan banyak ruby dari anak utama dari kepala keluarga besar lainnya.
Dan itu sangat berat bagi anak lelaki ini.
"Kalau kau tak mampu maka aku akan meminta 7 ruby!"
Lelaki tertindas itu semakin pucat dari sebelumnya,
ayolah apakah 7 koin ruby begitu besar dibanding 10 koin ruby?
Oke ini bukan tindakan pemerasan,
tapi kebaikan dari orang dermawan seperti dirinya ini.
"Apakah itu masih tinggi untukmu?" Getir Nami dengan senyum kaku,
ayolah dia tak ingin kehilangan uang, dengan mengurangi jumlahnya.
Sebelum lelaki tertindas itu menerima tawaran Nami.
Bocah berlemak dengan cepat memberi tawaran lebih baik,
dan melupakan kutukannya terhadap Nami.
Lebih baik menyingkirkan awal bocah tertindas itu dari keluarganya,
hingga ia akan menjadi pewaris utama satu-satunya,
dan posisinya tak akan goyah lagi.
"Hei bocah kurus aku akan memberimu 29 ruby milikku dari ayah.
Kalau kau membelaku!" Bangganya masih ada sisa darah tertinggal di wajah dan bajunya.
Nami melirik tajam ke arah bocah berlemnak itu. Dengan suara dingin.
"Diam! 29 ruby milikmu akan menjadi ganti rugi untuk sekantung airku!"
Bocah berlemak yang awalnya bangga dengan uang sakunya,
sontak menjadi pucat dan kering. "Apa? Kau memerasku!" Marahnya tidak setuju.
"Siapa yang memeras? Dan siapa yang tidak? Semua orang yang ada di tempat kejadian ini.
Melihatmu menginjak kantung airku,
dan ke mana sikap sombongmu yang tidak mau pergi sebelumnya?" Ancam Nami yang berdiri di dekat pohon raksasa dan sekali menumbangkannya dengan tangan kosong.
Sontak bocah berlemak itu memucat.
"Bocah! Mari kita pada kesepakatan awal 10 ruby, dan kau bisa membayarku kapanpun.
Tapi kau harus tanda tangan dengan perjanjian ini.
dan selembar kertas lusuh yang di atasnya sudah ada catatan perjanjian.
Phoenix seperti kehilangan napas, tuannya benar-benar seorang tirani,
serakah, dan berdarah dingin.
Jangan pernah mengatakan tuannya baik hati, dan pembela kebenaran.
Kalau tidak, dia akan mencongkel mata kalian. Omong kosong.
"Lukai jarimu dengan jarum ini. Dan tempelkan jari mu di sini.
Maka aku akan membantumu." Ujar Nami begitu meyakinkan dan ekspresinya kali ini aku akan mendapatkan tambahan uang dengan air liur keluar dari sudut mulutnya.
Tuan kondisikan ekspresi anda! Jerit phoenix dalam hati.
"Tapi..." Sebelum lelaki itu mengajukan pertanyaan,
Nami sudah menarik duluan tangannya, menusuk jempolnya,
dan kemudian memberi cap di atas kertas perjanjian yang sudah disiapkannya jauh hari.
"Sangat baik. Senang menjadi mitra bisnis." Bangga Nami sekaligus bahagia, persiapan menjadi kaya tidak sia-sia baginya.
Sekali lagi air liurnya semakin parah.
Phoenix menjatuhkan rahangnya, tuanku yang penuh kebanggaan,
apakah anda benar-benar tidak tahu memutuskan ini secara sepihak?
Tanpa mendengarkan penimbangan dari sang penanda perjanjian.
Sedangkan lelaki tertindas itu menatap bingung dan sedikit meringis pada jarinya yang tertusuk sebelumnya.
"Bocah berlemak karena tuan ini telah menyetujui perjanjian denganku.
Maka yang harus berurusan dengannya adalah aku.
Dan kau sekarang adalah urusanku.
Satu hal yang harus kau lakukan padaku serahkan 29 ruby yang kau katakan sebelumnya.
Maka membunuhmu sampai mati tidak ada akan terjadi." Ancam Nami seolah matanya berisi laser hingga kapan saja melelehkan tubuh bocah berlemak itu.
"Apa kau bilang? Aku takkan menyerahkan uangku padamu!"
"Tuan!" Pucat kedua bawahannya meminta pengertian tuannya,
akan lebih baik menghilangkan rencana kematian awal mereka.
"Ada apa dengan kalian? Apakah kalian sekarang ingin mengkhianati ku?" Marah bocah berlemak itu memukul kepala bawahannya dengan sedikit tenaga tersisa.
"Benar-benar meminta kematian di awal." Ujar Nami sarkartis.
Nami pun menjulurkan tangannya ke depan tanpa melakukan pertimbangan apa pun.
Tidak ada jenis kebaikan dari dirinya sekarang.
Batas kesabarannya hanya berlangsung 10 detik saja.
Jika melewati itu, negosiasi secara baik-baik batal dan dia takkan memberikan sedikit kebaikan.
Dari dalam tanah terjadi getaran.
Hingga ketiga orang itu tersadar sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka.
Dan benar sekali dengan kecepatan penuh,
akar-akar pohon muncul di atas permukaan tanah dan segera menuju ke arah mereka lebih tepatnya ke bocah berlemak itu.
Langsung saja melilit tubuhnya yang gemuk.
Dari awal wajahnya sudah memucat,
dan darah dari mulut dan hidungnya sudah mengotori pakaiannya.
Sekarang semakin memucat hingga wajahnya berubah jadi keunguan.
Seperti perendaran darahnya akan berhenti, dan itu sungguh menyakitkan.
Bocah berlemak itu hanya mengeluarkan suara jeritan di hutan terlarang ini dengan penuh kesakitan dan kesedihan,
tak ada kata apa pun yang ia bisa keluarkan selain itu.
Itulah jenis siksaan Nami dari beribu macam koleksi penyiksaannya sehingga orang-orang lebih memilih mati dalam sekejap dari pada disiksa seperti ini.
__ADS_1
Selama kurun waktu 6 bulan Phoenix telah berhasil mengenal tuannya luar dan dalam.
Jika kalian baik padanya, dan sedikit memberi tip dan keuntungan,
maka ia akan menghargai anda.
Akan tetapi jika anda bertindak sebaliknya. Menunjukkan kesombongan,
memprovokasi dirinya, bahkan menghinanya.
Maka katakan selamat tinggal pada dunia.
Dua bawahan bocah berlemak itu buang air kecil di tempat.
Nami tersenyum dingin. "Kau benar-benar belum menyadari apa yang baik bagimu,
dan apa yang tidak.
Aku sudah memberimu sedikit kebaikan.
Malah kau memarahi bawahanmu di saat kau berada dalam keadaan tidak aman." Cemooh Nami tersenyum miring sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Dua anak buah bocah berlemak itu,
sudah kehilangan sifat angkuh mereka berganti menjadi bodoh, dan ketakutan.
Demi menyalamatkan diri mereka dari mahkluk tirani dan mengganaskan ini.
Lebih baik mereka meminta belas kasihan.
Tidak ada harga diri yang tinggi untuk nasib sial ini."Biarkan kami bebas.
Kami tidak akan menganggu lagi." Pinta anak lelaki berbaju kuning itu,
yang awalnya penuh kesombongan.
"Benar maafkan kami. Kami salah!" Tangis mereka beriringan dengan bau pesing dari celana mereka yang basah.
Dan segera melakukan sujud berulang kali meminta pengampunan.
Sampai jidat mereka memiliki tanda hitam, bahkan tidak lama lagi berdarah.
"Oh benarkah? Apakah aku terlihat mudah?
Bukankah kalian juga ikut meledekku sebelumnya?
Di mana kebanggan kalian mendukung keluarga bocah gemuk itu?
Apakah kalian berpikir aku mudah dibodohi dan hatiku baik,
berhenti memuntahkan omong kosong!" Ujar Nami tidak senang, tapi begitu senang dengan respon gemetaran mereka.
Phoenix menggelengkan kepala, baiklah terserah tuannya,
dia sebagai pengikutnya, akan menyetujui segala jenis kekejaman tuannya.
Mereka menghentikan kowtow,
dan mengangkat kepala mereka melihat Nami penuh ketakutan.
"La-lalu apa yang harus kami lakukan?" Takut mereka gemetaran meminta kejelasan agar dibebaskan.
"Sangat mudah serahkan semua uang di kantung kalian,
keluar dari tempat ini tanpa busana.
Dan bawah tuan kalian yang sudah tidak berguna.
Setelah aku menghancurkan meridian, dan mematahkan tangan serta kakinya.
Dan katakan kepada keluarga Hawk berhenti menindas anak utama,
kalau mereka tidak ingin nama keluarga Hawk hilang dari kerajaan ini.
Dan satu lagi kalau mereka mencariku, maka ingat namaku baik-baik,
Nami seorang pejuang malas, dan mengingikan kekayaan!" Ujar Nami santai dengan penuh kemalasan,
sontak dua orang itu pucat.
Phoenix apakah harus merayakan ini penuh dengan kesedihan atau tidak.
Tuanku yang sangat cantik bahkan orang lain hanyalah kotoran,
ini susah ketiga kalinya anda menyebutkan nama anda.
Pucat Phoenix memikirkan pesan nenek Nami yang sedang berlibur di pemandian air panas, di telaga air aurora.
Bahwa hentikan Nami dari membocorkan identitas kalau tidak dia akan mengulitinya.
Ngomong-ngomong Kalian pasti penasaran.
Kenapa ada pemandian air panas di sana, tapi makhluk di sana hidup?
Sebenarnya di sana ada 5 macam tempat telaga air salah satu air panas.
Sebenarnya itu bukanlah pemandian air panas,
tapi hanyalah tindakan bunuh diri, air mendidih di sana berasal dari perut bumi.
Dan suhu panasnya akan membuat seseorang mati mendadak,
dan ini tidak apa-apanya untuk nenek Nami.
Itu hanya seperti dia mandi dengan pemandian air panas biasa, umum.
Nami juga pernah menggunakan air panas itu, bukan untuk mandi.
Tapi masak mie, telur, bahkan merebus berbagai macam remoah,
dan daging, sekaligus menghemat mananya.
Kembali lagi ke situasi awal.
Bocah gemuk itu sudah berada di ambang kematian dengan lilitan kuat itu.
Tak lama...
Bunyi krek menggema, berhasil membuat kaki dan tangannya patah.
Langsung saja dia pingsan di tempat,
tak berselang lama akar yang melilitnya terlepas, dan secara perlahan menghilang.
Nami tersenyum mistis. Oh pekerjaannya sudah hampir selesai.
Dia pun perlahan mendekat ke arah bocah gendut itu,
dan ia merogoh tas serba gunanya, tak lama sebuah belati sudah ada di genggamannya.
Kemudian...
Srk!
Nami tanpa belas kasihan langsung melakukan teknik menyayatnya yang halus, dan rapi.
Begitu akurat pada bagian meridian bocah berlemak itu,
hingga air mancur darah menyebar dan mengenai wajahnya.
Nami tersenyum horror seperi boneka chuky.
Pekerjaan mudahnya kali ini telah selesai. Uangku aku akan merawatnu dengan baik.
Lalu dia menoleh dingin ke arah dua pemuda itu yang memucat dan ingin memuntahkan isi perut.
Kala mereka melihat kekejaman seorang bocah kurs tersebut tanpa mengedipkan mata, jijik.
"Apa yang kalian tunggu?" Tanya Nami dingin di dukung dengan wajah berlumuran darah,
menambah sisi horror untuk dirinya.
Tanpa berpikir panjang lagi kedua bocah yang merupakan bawahan bocah berlemak yang tidak berguna ini.
Mengeluarkan semua uang pemberian orang tua mereka,
lalu tanpa aba-aba segera membuka pakaian mereka tanpa menghilangkan sehelai benang apa pun.
"Tidak buruk." Nami mengelus dagunya melihat tubuh lumayan berotot itu,
walau wajah mereka tidak bisa dikatakan tampan dan umur yang tidak lagi memasuki tahap kedewasaan.
Sang phoenix yang mendengar rasa haus akan lelaki dari tuannya membuatnya memerah,
segera menutup mata tuannya.
Dia lupa bahwa dirinya sebenarnya perempuan,
oke dia tidak ingin tuannya yang memiliki mata suci harus dinodai dengan padangan bugil.
Dan seseorang yang harus bugil hanya dirinya untuk tuannya. Cemburu phoenix.
"Hei apa yang kau lakukan!" Ujar Nami tidak senang.
Phoenix tak ingin menggubris dan tetap pada posisinya menghalau mata tuannya sampai kedua pemuda telanjang itu membawa bocah berlemak itu keluar dari tempat ini.
__ADS_1