Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu

Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu
BAB 20 - DITOLAK


__ADS_3

Semua orang tak hentinya memberi tatapan iri pada sang gadis yang berhasil menggaet orang besar.


Sedangkan gadis bernama Nami dengan nama samaran Onami sedang memberi senyum jatuh.


Dia hanya ingin menjadi rata-rata bukan mencari guru hebat.


Dia cukup sadar, jika dia mengambil pilihan guru besar itu, toh cepat atau lambat kekuatan tersembunyi akan ketahuan, perih hatinya melihat uangnya melayang.


"Kepada murid yang bernama Onami tentukan pilihan anda." Ujar sang kepala sekolah sambil menggertakkan giginya, seolah dia tidak senang.


Nami memberi tatapan nyeleneh. "Master, anda adalah yang terhebat!" Kagum Kenta dengan mata berbinar penuh sujud untuk gurunya.


Gadis itu tersenyum kaku, nak jangan beri tatatapan seolah aku menyembunyikan kekuatanku selama ini.


Di sisi lain Phoenix mendengus kesal melalui pikirannya.


Puih! Manusia rendahan! Memikirkan begitu lama. Dan menyadari tuanku hebat. Akhirnya kalian tahukan siapa yang sampah sebenarnya! Ledek Phoenix kesal melihat manusia serakah dan biasa itu.


Nami merasa kepalanya sangat sakit. Burung bodoh berhenti mengeluh. Siapakah yang harus kupilih?


Tuanku! Aku melihat tidak ada yang lebih baik darimu. Mereka harusnya yang diajar bukan anda. Jawab Phoenix dengan sungguh-sungguh.


Diam! Aku meminta pendapatmu, bukan membandingkan dengan kata melebih-lebihkan diriku.


Tuanku aku tak bisa memilih. Tidak ada yang bagus dari mereka.


Sudahlah. Tidak ada gunanya bertanya padamu. Selain bodoh kau tak memiliki kelebihan apa pun. Dengus Nami dan dia sudah memutuskan.


"Siapa yang menawarkan uang lebih banyak dia yang bakal menjadi guruku!" Ujar Nami sudah begitu bingung dalam memilih guru. Sekaligus dia bisa memanfaatkan keadaan ini lebih jauh lagi, jika mereka benar-benar memberinya uang.


Semua yang mendengar itu membentuk rahang jatuh. Apa-apaan anak muda miskin ini.


Bagaimana bisa dia mengambil kesempatan untuk mendapatkan uang. Beritahu mereka siapa yang mau memberinya uang? Harusnya dia yang membayar gurunya.


Sedangkan dua tetua guru besar


Itu terhenyak dengan tawaran anak muda miskin ini dengan mata membulat.


Nami yang tidak bisa menunggu jawaban lama, hanya menggelengkan kepala. Jika berhubungan dengan uang mengapa mereka begitu pelit.


"Tidak ada? Sayang sekali. Bukankah ada yang mengatakan. Seorang murid yang pantas diterima, harus berada tingkat kesejahteraan yang tinggi? Bisa dilihat bahwa di sini menunjukkan perbedaan.


Mengeruk habis uang yang miskin. Memperkaya diri untuk orang kaya. Aku Onami, tidak akan memilih salah satu dari tetua guru tersebut. Guru yang di sana, karena anda menerima murid ku. Maka aku akan masuk ke dalam kelasmu." Tunjuk Nami dengan penuh kebanggaan.


Respon semua orang langsung, apa-apaan anak ini? Selain miskin dia berbicara begitu lancang. Bahkan mengatakan kata-kata yang tidak harus dikatakan.


"Apa hebatnya anak miskin bertubuh kurus itu. Syukurlah tetua guru tidak menjadikan dia muridnya. Kalau tidak, dia hanya akan membawa aib."


"Dia benar-benar sombong hanya karena tetua guru agung sedikit menyukainya. Dia berpikir seenaknya, ingin meminta uang? Pada dasar bocah miskin akan menjadi rendahan, saat mengemis meminta uang."


"Dengan tubuh lemah tanpa Mana. Apa yang terlihat baik dari dirinya!" Ledek semua orang satu persatu sambil menunjuknya.


Sedangkan Nami hanya acuh tak acuh. Dia kembali pada muridnya, dan berjalan bersama dua anak burungnya, atau Great Mythogical beast miliknya.


Jika orang tahu dia sanggup memiliki binatang roh hebat itu, mereka akan membungkam mulut dan menyesali melontarkan kata penuh cemohan padanya.


Dasar manusia rendahan! Beraninya kalian menghina tuanku. Hanya akan membawa aib untuk kentut tua bau itu?! Sebaliknya, tuanku akan kesusahan melihat betapa lemahnya mereka. Jika kalian menyemburkan kata acak seperti itu. Aku akan mengalahkan kalian. Lihat saja! Mengamuk Phoenix mengeluarkan cicitan penuh hinaan.

__ADS_1


"Berisik! Diam burung bodoh! Kau menggunakan bahasa burung tepat ditelingaku." Tegur Nami membuat Phoenix bungkam, sedangkan sang anak ayam yang lagi menyamar atau bisa dikatakan sang vermillion di sebelahnya telah tertidur nyenyak di bahu Nami, tidak begitu pusing dengan keadaan sekitar.


Sontak saja sang Phoenix terdiam kala ditegur tuannya. Dia lupa berbicara dalam hati.


"Master ini..." Bingung Kenta bukankah gurunya harus memilih tetua guru hebat itu untuk mengajarnya tapi kenapa dia lebih memilih kelas bermasalah? Walau dia mengatakan itu dengan gugup, tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Tidak perlu mengatakannya lagi. Keputusanku sudah bulat. Aku sudah mencium bau uang ditubuh guru bermasalah itu. Dia terlihat bernampilan miskin.


Tapi tidak bisa menutupi bau uangnya. Dan kedua tetua guru itu terlalu boros. Bahkan teh yang mereka esap berkualitas rendah, dan bagaimana aku, Nami, menerima guru yang mudah ditipu." Ujar Nami dengan senyum licik dan terlihat mesum, padahal dia sedang memikirkan uang, terlebih lagi dia tak mampu membendung liur yang jatuh dari sudut mulutnya.


Sedangkan Phoenix dan Kenta mengetahui alasan di baliknya. Mereka pikir Nami menyuarakan keadilan untuk tidak membedakan orang lain berdasarkan kasta.


Akan tetapi, dia sudah memperkirakan seberapa kaya orang yang akan menjadi gurunya. Mereka langsung terpeleset jatuh.


Tuanku bahkan sekarang kau hanya memikirkan uang. Dan bagaimana bisa kau tahu bahwa guru yang akan menjadi gurumu. Begitu kaya?! Aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu. Tapi kau masih tetap menawan dimataku! Puja Phoenix penuh penyembahan.


Sedangkan Kenta hanya terlihat kaku. Dia pikir gurunya memiliki tujuan senang bersamanya. Tapi pada kenyataannya memiliki maksud lain yaitu uang.


Akan tetapi, dia tetap saja penuh syukur. Setidaknya, dia masih bersama gurunya.


Sedangkan di sisi lain pemuda bernama Chen memfokuskan matanya pada penyelamatnya penuh dengan penyembahan.


Bahkan orang yang keras kepala seperti dirinya. Bisa begitu kagum dengan penuturan katanya.


Walau dia meminta uang, siapa yang sanggup membayarnya dia akan menjadi muridnya.


Dengan begitu santainya, tanpa memandang siapa pun, bahkan dia harus berhadapan dengan orang superior dan menjadi orang terhormat di sekolah ini.


Bahkan dia menyuarakan untuk anak lain mengenai perbedaan. Padahal tidak seorang pun dari mereka berani protes, dan hanya menangis tak menyuarakan pendapatnya.


"Tuanku memang hebat!" Kagum Chen penuh penyembahan.


Sedangkan Anna memiliki pandangan lain. Dia terlihat memucat. Apa bagusnya dari lelaki lusuh tampang biasa saja mampu membuat tunangannya memberi tatapan penuh cinta.


Sedangkan dia seorang wanita tulen, cantik, dan dari keluarga terpandang tidak pernah diperlakukan dengan tatapan penuh cinta itu. Segera dia memutuskan bahwa Nami adalah saingan cintanya.


"Hatchi!" Bersin Nami mengelus hidungnya.


***


Sang Kaisar Sihir yang berada di tribun bersama murid lainnya terpaku melihat anak muda itu.


Dia menolak gurunya. Bahkan lebih memilih kelas bermasalah? Dan juga mata anak itu tidak buruk.


"Derek akhirnya kau tertarik mengambil murid. Sangat menarik hahaha..." Tawa Sang Kaisar Sihir melihat sahabat seperjuangannya, atau lebih tepat tidak banyak orang tahu bahwa Derek merupakan saingan Kaisar Sihir dalam urusan kekuatan.


Tawanya menggelegar membuat para gadis di sekitarnya sedari tadi fokus ke arahnya. Malah tambah sesak napas mendengar suara tawa renyahnya yang berat dan sexy itu membuat mereka tak tahan dengan pesonanya.


"Dari mana asalnya siswa tampan ini? Aku tak pernah melihatnya. Sangat tampan!" Jerit para gadis dan berhasil membuat mereka mimisan semakin dia mendengar tawa Kaisar Sihir, maka semakin panas hati dan pikiran mereka.


Sedangkan para murid pria lainnya mendengus kesal. Bahkan mereka tambah kesal kala gadis yang menjadi wanita tercantik di sekolah ini, tak bisa memalingkan wajah darinya.


"Ternyata dia tak ada. Aku harus kembali sekarang. Awas kau Rainer, menipuku dengan mudah. Apakah kau masih kurang mengenalku." Batin Kaisar Sihir dengan senyum menakutkan dengan hukuman yang sudah terbesit dari pikiran mendalamnya.


Dia pun menghilang begitu saja. Dan semua murid yang menjadikannya sorotan terpaku. Teleportasi? Bagaimana bisa? Orang itu pasti sangat kuat.


Semua orang pun menjadikan Zen legenda di hati mereka. Padahal mereka tidak menyadari bahwa dia Kaisar Sihir dan merupakan murid terbaik di sekolah ini sebelumnya.

__ADS_1


Tapi semua orang sebenarnya hanya tahu bahwa seorang Kaisar Sihir yang menakjubkan selalu menyembunyikan wajahnya di balik topeng, dan menjadikannya misterius.


Di lain tempat seorang Rainer yang sedang menyesap secangkir teh pelanginya sontak merinding kedinginan, dan bersin.


"Hatchi!"


"Aku rasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi padaku." Keluh Rainer dengan ekspresi pucat.


***


Saudara kembar identik beda kelamin itu mengelus dada senang. Setidaknya mereka tidak jadi satu seperguruan. Jika tidak, bagaimana mereka tahan dengan ancaman di sekelilingnya.


"Kakak, luar biasa! Dia hanya memilih kelas rendahan dengan guru lemah menjadi tempatnya. Benar-benar cocok dengan penampilannya." Senang Troy menyuarakan pendapatnya.


"Ya, itu bagus. Tapi dia begitu berani meminta uang kepada guru kita, jika ingin menjadikannya murid. Benar-benar tidak tahu letak kematian sebenarnya." Balas Shopia dengan senyum liciknya.


Tapi mereka kembali tertegun kala mendapat tatapan menusuk dari Nami.


Bagaimana bisa dia tahu apa yang mereka katakan. Itu tidak benarkan?


Nami mengangkat sudut bibirnya menakutkan ke arah si kembar itu. Sontak si kembar buru-buru bersembunyi, ketakutan.


Di lain sisi seorang tetua guru agung archer dan Alchemist tidak mampu membendung tawa ledek mereka.


"Aku tak pernah menyangkan bahwa tetua besar agung dari Elementalist dan Warrior akan mendapatkan tamparan di wajah mereka. Di tolak karena tidak memberikan penawaran uang. Hari ini tidak membosankan seperti biasa. Haha..."


"Aku yang terbiasa ditolak. Akan melihat kekalahan di wajah dua tetua ini. Anak itu benar-benar bermulut tajam." Singgung tetua besar agung Alchemist yang tidak bisa menutupi kebahagiannya, ada saatnya dua orang ini mendapat tamparan diwajah sama seperti dirinya yang sudah terlalu sering ditolak.


"Benar-benar anak yang menarik hahaha...Aku awalnya khawatir anak itu akan memilihmu. Tapi ternyata, aku tak bisa membayangkannya." Tawa tetua besar agung warrior.


"Dia juga menolakmu. Jadi kita sama. Tapi anak itu benar-benar berani. Bahkan sebelum kita mengatakan apa pun dia langsung memotongnya dan menceramahi kita. Anak yang berani." Kecewa tetua besar agung padahal dia juga kebingungan, dia hanya memiliki 3 murid sekarang yang masuk dimatanya.


Namun tak lupa dia menyempatkan menyuruput secangkir teh itu dengan nikmat.


"Benar sekali, anak berani yang menarik!" Dia mengelus jenggotnya senang.


Sedangkan kedua tetua agung yang meledek mendengus, mengapa kedua kentut tua ini begitu tenang setelah ditolak.


Padahal mereka mengharapkan kemarahan. Dan mendapatkan tontonan lebih menarik.


"Lain kali. Perhatikan kondisi kalian sebelum kondisi orang lain." Ujar Tetua Agung Besar Warclock dengan santainya membantu tetua agung Elementalist menyeduh tehnya.


"Dasar kau wanita tua, perawan tua, yang mengharapkan cinta tak terbalas. Mengajariku sedemikian rupa. Perhatikan dirimu." Ledek tetua besar agung Archer tidak senang.


"Apa perawan tua?"


"Tentu saja!"


"Bisakah kalian bersikap seperti tetua besar agung yang dihormati para murid lainnya." Tegur tetua Elementalist tidak ingin terjadi perdebatan, dan juga ini menyangkut dirinya.


A/N


Halo para pembaca Budiman. Maafkan karena saya baru update sekarang. Karena jadwal di dunia nyata saya terlalu padat. Terlebih lagi saya harus membaca ini dari pertama agar tidak lupa dengan alur cerita awal.


Apa pendapat kalian mengenai kelanjutan ini? Aku harap kalian menyukainya. Sampai bertemu di part selanjutnya.


See u bye!!!

__ADS_1


__ADS_2