Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu

Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu
Bab 22- Hari Pertama Wajah berubah!


__ADS_3

Nami yang awalnya menyuruh pemuda ini berpura-pura pingsan, pada akhirnya benar-benar pingsan.


Memiliki ekspresi kecut di wajahnya, padahal pemuda di hadapannya masih memiliki beberapa kekuatan untuk sedikit lagi bertahan namun pada kenyataannya dia sangat lemah.


Pantas saja dia gagal di beberapa ujian. Sedangkan Nami tidak menyadari. Bahwa dia terlalu menghayati perannya.


Guncangannya yang membuat Marco tak sanggup menahan sakit seperti tubuhnya dipaksa remuk, padahal dia sudah terluka parah.


Terlebih lagi saat dia selesai mengguncangkan Marco, dia langsung menjatuhkannya bukan dengan cara lembut. Akan tetapi dengan cara kasar.


Tentu saja kepala pemuda itu  terbentur tanah begitu keras. Alhasil dia langsung tak sadarkan dirim


"Eh berdarah? Kepalanya bagaimana bisa?" Pucat Nami seperti ada yang salah, padahal sebelum dia memberi pelajaran pada anak nakal tadi, anak berambut emas ini terluka hanya di bagian sekujur tubuh, kenapa dengan kepalanya, aneh.


"Apakah kepalanya selembut kertas? Di-dia sangat lemah..." Ucap Nami terbata-bata pada orang yang tidak sadarkan diri ini, dan dia mulai menyadari siapa yang menyebabkannya terluka buruk seperti saat ini.


Secret Roman : Woi! Ini salahmu. Peka dikit napa *banting meja*


"Mama?" Bingung vermillion menyadarkan Nami dari wajah bekunya.


Nami menoleh lemah dengan senyum miring dan pucat, memperingatkan bola bulu kecilnya. "Jangan menjadi sepertinya setelah dewasa!"


"Hmm..." Bingung vermillion mengerjakan matanya berulang kali.


Nami memberi ekspresi jatuh. Pertama dia hampir membunuh kaisar sihir sebelumnya. Sekarang dia hampir membunuh teman satu sekolahnya.


"Oi nak! Jangan mati di sini. Aku belum punya banyak uang mengkremasi mu." Guncang Nami sekarang dengan cara yang lembut.


***


Di lain tempat seorang pria paruh baya berkelebihan berat badan, berambut putih, berjenggot panjang, dan memiliki mata yang tajam. Tampak sangat marah dan terkesan begitu menakutkan.


Sedangkan seorang wanita muda yang masih berusia 27 tahunan sedang menangis keras meratapi bayi kecilnya yang sudah tidak berguna di atas tempat tidur dengan raut wajah pucat.


"Kurang ajar! Siapa yang melakukan pada anakku sampai dia seperti ini!" Marah kepala keluarga yang begitu di hormati dibidang archer, Hawk.


Sedangkan dua pemuda yang membawa bocah berlemak tak sadarkan diri itu berjongkok di lantai menatapi tuannya.


"Lapor tuan. Itu karena teman tuan muda utama. Yang menjadikannya seperti ini." Lapor anak muda bertubuh kurus itu.


"Betul tuan. Kami tidak memiliki kekuatan lebih melawannya. Dia terlalu kuat." Balas pemuda lainnya berkulit pucat itu.


Bug!


Kepala keluarga Hawk memukul meja dengan bunyi gedebuk yang keras. Dia tampak marah dan tak menyembunyikan urat-urat syaraf di keningnya.


"Benar-benar berani! Apakah dia tahu siapa yang ia hadapi? Keluargaku, Hawk,  yang menjadi pilar keluarga paling utama dibidang archer, sungguh menggali kuburannya untuk menghadapi keluarga Hawk." Ungkap kepala keluarga Hawk dengan berulang kali memuntahkan banyak omong kosong.


Dia melihat selir muda tersayangnya bersedih sehingga membuatnya sakit hati.


Lalu dia membuang napas kasar. Dan menatap dua teman putra tersayangnya. "Kau bilang itu teman anak tidak berguna itu?"


"Iya, tuan besar." Jawab dua anak muda itu serempak dengan gugup.


"Apakah kalian sudah memberitahu siapa yang dia lawan?"


"Tentu saja, tuan! Dia bahkan membalas dengan kata, 'Siapa yang pewaris utama? Bagaimana bisa dia memuntahkan banyak nasi saat anak utama masih hidup. Bukankah ini terlalu melanggar etiket keturunan."  Jawab pemuda bertubuh kurus itu.


"Dan ini juga yang dia katakan tuan, 'Apa yang perlu kau takutkan? Bagaimana kalau dia memiliki seorang ibu sebagai dukungan?


Selir hanyalah selir lalu apa yang akan terjadi. Jika kepala keluarga memiliki selir baru maka favoritismenya akan memudar dan lebih memilih yang baru.


Dan saya Nami tidak menempatkan keluarga seperti itu yang mengabaikan anak utamanya yang masih hidup!" Timpal takut pemuda berkulit pucat itu.


"Lancang! Kurang ajar! Siapa yang mengajarinya hingga berani melawan keluargaku dengan jawaban seperti itu. Benar-benar berani mengajarkanku hitam dan putih!"  Marah Hawk mulai melempar gelas porselennya ke lantai.


Krek!


Gelas itu hancur berkeping-keping di tanah. Sedangkan sang ibu dari bertubuh berlemak itu yang mendengar tambah memecahkan suara tangis semakin lebih menyedihkan."

__ADS_1


"Sangat hebat! Sudah mengatakan berbagai lontaran buruk mengenai keluargaku, mengambil semua uang anakku. Kemudian membuat putraku menjadi tidak berguna!


Aku kepala keluarga Hawk tidak akan tinggal dia. Sebelum memberinya balasan berani melakukan itu. Kau tahu siapa anak itu dari mana dia berasal. Aku akan memberi perhitungan padanya." Marahnya sudah bersiap memberi perhitungan.


"Maaf tuan. Anak itu terlihat sangat miskin, kemudian dia bernama Nami, tuan." Balas pemuda kurus itu gemetaran melihat tatapan mematikan dari tuannya.


Mereka tak ingin berimbas penurunan jabatan keluarganya karena kelangsungan hidup tuan mudanya dalam masalah besar.


"Nami. Pemuda miskin?"


Kemudian Hawk memanggil pengawalnya untuk mencari informasi.


Tak berselang lama pengawal pembawa informasi itu segera memberitahukannya.


"Apa? Anak itu lulus!" Kaget kepala kularga Hawk tidak senang.


"Dan puih! Betapa memalukannya bagaimana dia bahkan tidak bisa menarik mata guruku. Dan berakhir pada kelas tidak berguna itu. Sekali anak itu tidak berguna maka selamanya dia tidak berguna." Miris kepala keluarga Hawk memutuskan apa pun bahkan dia mengatai anak kandungnya sendiri, terlebih lagi anak utamanya, dari istrinya yang telah meninggal.


Kemudian Kepala Keluarga Hawk mencari informasi yang lebih lagi, dan bahkan membuatnya kaget adalah...


"Anak lancang itu, berhasil menarik mata tetua besar agung warrior dan Elementalist. Bagaimana bisa?" Dia sangat marah mendapat informasi tersebut membuatnya mengepalkan tangannya menjadi tinju menahan amarah.


Lalu kemudian pengawal gelapnya memberi informasi yang paling disenanginya.


"Hahaha...pemuda bodoh! Dia mendapat dua pilihan hebat. Tetapi lebih memilih memasuki kelas tidak berguna. Sekali terlahir miskin maka dia akan berakhir di tempat yang miskin juga." Tawa pria paruh baya itu merasakan gejolak di dadanya berkurang sambil mengelus jenggotnya.


Selesai tertawa, dia melirik yang lainnya dengan senyum liciknya.


"Sekolah anak itu? Aku akan menyeret mereka ke bawah sama persis apa yang dia lakukan pada anakku seperti ini!"


***


"Hatchi!" Bersin Nami dengan hidung memerah.


"Kenapa hari-hariku dipenuhi dengan bersin." Pekik Nami merasa gatal di bagian hidung.


Oke, dia sudah terhindar dari masalah. Anak itu selamat dari pertolongannya. Setidaknya dia menaruhnya di tempat yang lebih aman.


Setidaknya uang ini akan digunakan sebagai pertahanan hidupnya di sini, dan entah kenapa dia harus mengurusi tiga anggota keluarga barunya.


Kenapa Nami selalu merasa, bahwa dia paling disulitkan. Dan bagaimana bisa dia yang miskin ini harus mengurusi mereka.


Apakah dia perlu menjual kedua ginjalnya, di pasar gelap!


Nami telah berdiri tepat di depan pintu. Jadi ini benar kamarnya? Tapi kenapa terlalu mewah.


Apakah dia tidak salah naik lantai? Ya sudahlah masuk saja. Kalau dia salah tinggal minta maaf.


Ceklek!


Saat Nami membuka pintu dia sedang melihat pemuda dengan dada bidang yang hebat. Wajahnya yang tampan, dan rambut hitam sampai pantat jatuh karena basah.


"Wow!" Pekik Nami meninggikan suaranya.


Pemuda itu menoleh pada asal suara. Perasaan dia mengambil kamar khusus dan terlebih lagi selama dia bersekolah di sini, dia tak memiliki teman kamar.


"Argh!" Jeritnya panik saat seseorang memasuki kamarnya tanpa permisi dan terlebih lagi bukan...


"Ada apa dengannya? Aku lelaki dia lelaki? Kenapa dia mesti teriak?" Bingung Nami ntah kenapa dia berjalan mendekat mengamati pemuda itu dengan mimisan keluar dari hidungnya saat menatap tubuh bagus pemuda itu.


"Jangan mendekat! Perempuan, apa yang kau inginkan padaku!" Pekik pemuda itu mencolos.


Membuat Nami gadis itu menatap datar. Perempuan bagian mana dari dirinya perempuan? Bukankah dia lagi menyamar?


Dan juga dia salah kamar. Teman kamarnya tidak segagah ini. Bahkan dia tak pernah melihat tubuh kotak-kotak menawan itu.


Dia lupa bahwa Phoenix tersayang suka memamerkan ototnya yang hebat itu.


Jika dia tahu tuannya tak menganggap bentuk tubuhnya yang rupawan, dia akan menikam siapa yang berani merebut sorotan dari tuannya.

__ADS_1


"Hei pemuda aku bukan wanita. Kau pasti salah. Aku anak baru masuk sekolah. Dan kelaminku laki-laki. Apa perlu kutunjukkan?" Tegur Nami ingin memastikan otak pria ini, dan membuatnya tersudut di dinding.


Pemuda itu terlihat memerah. Bahkan wanita memalukan ini sangat cantik. "Tidak tahu malu!" Jerit pemuda itu.


"Haah. Tidak tahu malu bagian mana dari diriku tidak tahu malu. Selain meyakinkanmu, tuan tampan? Apakah kau ingin aku bertanggung jawab atas tubuhmu." Ungkap Nami ngawur dibarengi mimisan.


Dia ini lelaki tahu, bukan kaleng-kaleng. Lebih tepatnya, menyamar.


Kenapa pemuda ini sangat ngotot dia wanita. Tunggu, ini aneh kenapa wajahnya aslinya terpantul dari bola mata pemuda itu.


"Tunggu sebentar!" Tahan Nami mendekatkan diri ke arah pemuda tampan itu hingga jarak mereka hampir tak memiliki batasan apa pun.


"Apa yang kau lakukan?" Panik pemuda itu dengan wajah bersemu merah, dia tak pernah bersentuhan dengan wanita, dia penggila kebersihan, bahkan tak ada seorangpun yang berani bertingkah kurang ajar padanya, dan memberinya penghormatan layak.


"Jangan mendekat!" Panik pemuda itu entah kenapa dia menutup mata.


Nami mulai sadar ada yang tidak beres. "Bagaimana bisa?" Dorongnya panik sehingga pemuda tampan itu terjatuh di lantai.


"Astaga ini sudah lewat 8 jam. Ramuannya sudah menghilang! Ah sial!" Umpat Nami kemudian melakukan teleportasi.


Pemuda yang jatuh tersungkur di lantai merasakan denyut jantungnya berdebar kencang. Apa maksudnya ini? Apa yang terjadi. Dan kenapa dia merasa menikmati sentuhan gadis itu? Apakah dia gila.


Dan tunggu? Teleportasi? Bagaimana bisa? Siapa gadis misterius itu. Sial!


***


Nami teleportasi ke tempat sepi, acak. Wajahnya sudah berubah. Dan ramuan perubah wajahnya ada pada burung bodoh itu.


Ke mana sebenarnya dia menghilang. Wajahnya sudah dilihat orang lain. Dan cerita ini baru berjalan! Dia tak ingin mengucapkan selamat tinggal, bukan, maksudnya sekolah ini.


"Burung bodoh ke mana kau! Aku memperingatimu untuk muncul sekarang juga! Kalau tidak semua bulumu akan kuberikan pada semua gadis muda, kau bisa menjadi selir mereka!" Perintah Nami dengan telepati batin antar hubungan binatang kontrak dengan tuannya.


Tak lama berselang. Si Phoenix muncul di hadapan Nami dengan keadaan?


Segera Nami melayangkan tendangan bebas dengan kedua kakinya ke perut burung bodoh itu.


Buk!


Burung bodoh itu terlempar jatuh telungkup di tanah. Dia memuntahkan seteguk darah dan menatap nanar tuannya.


"Burung bodoh kenapa kau bisa telanjang?! Ke mana kau pergi! Kau benar-benar merusak mataku!" Marah Nami tak habis pikir dengan kemunculan mengerikan dari Phoenix.


Pemuda tampan tadi masih memiliki etika sopan santun, menutupi anunya dengan sehelai handuk, dan dia!


"Tuanku, pelayanmu ini perlu membersihkan diri. Karena ini adalah malam pertama kita berada di sini. Setidaknya saat kita melakukannya anda akan puas." Ujar Phoenix dengan senyum malu melupakan dia memuntahkan darah tadi.


Sedangkan Nami merasa sudut mulutnya bergetar.


Dia memijit pelipisnya. "Apa maksudmu, burung bodoh? Apakah kau tidak ingin memiliki masa depan lagi?!" Kesalnya ingin menghabisi burung bodoh ini.


Andai kata dia tidak terjebak oleh kepicikannya, dia takkan harus melakukan kontrak binatang roh, dan berurusan dengan kemesumannya.


Dan terlebih lagi dia masih anak di bawah umur!


"Tuanku, jangan lakukan itu! Aku harus meneruskan keturunan keluargaku!" Tolak Phoennix terlebih lagi bagaimana caranya dia dan tuannya bisa bersatu?


"Burung bodoh aku akan benar-benar mengulitimu, berhenti berpikiran mesum! Lalu pakai pakaianmu cepat! Dan berikan aku ramuan pengubah wajah segera!" Titah Nami ingin rasanya dia melempar jauh burung bodoh itu dari dirinya.


"Tuanku, wajahmu?!"


"Tentu saja wajahku sudah berubah jadi perempuan tau! Maka cepat berikan ramuannya!"


"Bukan itu!"


"Lalu apa, burung bodoh?! Aku akan menendang bokongmu kali ini!"


"Sangat cantik!" Memberi jempol pada wajah tuannya rupawan, biar dari segi mana pun tuannya selalu cantik di matanya.


Bug!

__ADS_1


Lagi-lagi Nami melayangkan sekali tendangan supernya. Dan burung bodoh itu terpental jauh.


__ADS_2