
"Bagian mananya kau biasa-biasa saja! Kau sedari tadi menghindar seranganku bahkan teman-temanku! Apakah kau pikir aku idiot!" Emosi pemuda itu mendarah daging dan identitasnya adalah sepupu busuk dari Chen yang ingin menjadi pewaris selanjutnya dari keluarga aliansi pemburu singa malam.
Nami memiliki ekspresi kecut, jangan dia tak ingin ketahuan, kau tahu dia sudah mempersiapkan banyak untuk masuk ke sekolah ini.
Bahkan biaya pemerasannya kepada keluarga kaya sombong sebelumnya habis karena sistem pemerasan sekolah ini memungut biaya dalam bentuk apa pun, "Tuan hebat sepertinya anda salah paham. Itu hanya gerakan refleks saja." Tampik Nami berusaha kabur dari masalah.
"Jangan menipuku!" Tuduh Sepupu Chen itu mengeluarkan tombak dari tempat cincin parsial merah kuliatas rendahnya.
'Wadah penyimpanan parsial bisa di mana saja. Cincin, tas, atau apa pun asal yang punya nyaman menggunakannya.
Dan kualitas penyimpanan tergantung pada warna, semakin tinggi tingkat warnanya maka kemampuan penyimpanannya semakin tinggi juga.
Tingkatannya di mulai dari warna; Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, perak, dan emas.
Khusus kerajaan ini tempat penyimpanan tertinggi hanya milik kaisar, gelang parsial hijau, nenek Nami kalung parsial ungu, dan tentunya yang berada pada puncak tanpa batas yaitu milik Nami, tas selempang ajaib parsial berada tingkat emas.
Alat parsial harus merogoh kocek sangat tinggi, bahkan satu benda saja bisa seharga 10 koin ruby, dan itu pun hanya berada di tingkat merah.
Maka bayangkan saja jika semahal itu. Mungkin Nami akan mencari sampai ke ujung dunia menipu para kucing robot abad 21 lainnya, dan menjual tas mereka ke pasar gelap. Atau ke tempat pelelangan barang langka di kerajaan matahari.'
SWOSH!
Nami menghindari dari serangan tombak sepupun Chen yang dilancarkan ingin memukul dalam jarak sedekat ini.
"Apakah kau gila anak muda?! Bahkan jika aku masih anak biasa-biasa saja dengan kemampuan biasa saja harus menerima mati dibunuh tombakmu, asal kau tau, aku belum menjadi orang kaya!" Seru Nami ketakutan dalam hati sambil mengelus dadanya, hampir saja.
"Kenapa kau menghindar!" Marah sepupu Chen itu tak terima.
Mendengar itu membuat Nami tidak habis pikir dengan jalan pikiran pemuda ini, "Apakah hidupmu dipenuhi untuk menyusahkan anak lemah sepertiku? Tidak ada yang mau terluka anak tidak jelas!" Balas Nami masuk akal.
"Kau pikir aku peduli?! Diam di sana aku akan menusukmu!"
Nami meremas tangannya depan dada frustasi, "Tidak, aku yang peduli pada diriku. Kau tahu fisik yang kuat diperlukan menjadi ksatria sihir. Kalau aku lecet bagaimana caranya aku menjadi kaya?"
"Aku tidak bertanya padamu!"
"Terserah kau saja." Datar Nami sebaiknya dia pergi saja. Kau bermasalah seluruh keluargamu bermasalah, jangan menyeret aku karena memukul bokong adikmu!
SWOSH!
__ADS_1
Karena sepupu Chen sudah tidak memegang bahu Nami. Jadi bocah miskin itu berhasil berjalan jauh dengan sedikit demi sedikit menggunakan teleport tipuan.
"Bagaimana bisa dia lebih cepat dariku! Jangan ka--!" Sebelum selesai menyebutkan kata kabur Nami sudah menghilang sangat jauh, apakah mata mereka bermasalah bagaimana bisa.
Keberadaan Nami yang sudah begitu jauh hanya bisa mendesah panjang.
Bagaimana bisa mereka begitu bersenang-senang menggertak orang lemah sepertinya? Dia harus mencari rute keselamatan lainnya untuk menghindari dari pertemuannya dengan musuh.
***
Bug!
Bunyi gedoran papan tulis berhasil menghentikan semua siswa-siswi kelas bermasalah ini dari aksi kejar-kejaran, berdandan, makan bekal, bermain kartu, atau tidur dalam kelas.
Semua orang terfokus pada Nami, apa yang dilakukan bocah kurus itu. Apakah ini adalah hari tantangan kelas mengajak teman lainnya berkelahi demi mencari pengikut kelas?
Nami menatap mereka balik dengan bola mata berairnya sepertinya dia lupa sesuatu...
15 menit berlalu...
"Tidak! Mataku perih!" Jerit mereka tak mampu bertahan, dan sampai kapan Nami akan mengatakan sesuatu yang butuh perhatian banyak orang.
Acer yang dipaksa bangun dari rasa kantuknya. Terlebih lagi teman duduknya akar dari semua permasalahan ini, dan mengajak yang lain untuk bertingkah bodoh bersamanya.
Dia menghela napas, dan berdiri dari tempat duduknya.
"Apa yang kau lakukan di sana? Cepat katakan! Apakah ini mengenai Mr. Derek? Apakah dia masuk kelas hari ini atau tidak?" Tanya Acer tanpa menahan apa pun sambil melipat kedua tanganya di perut bagian atasnya.
Nami yang mendengar itu tiba akal, dia baru ingat bahwa guru besarnya tidak bakal masuk ke kelas hari ini, dan juga dia menitip pesan padanya.
Mengingat itu lagi Nami menjatuhkan air liur sekali lagi, TELURKU.
"Begini telurku—salah maksudku guru besar mengatakan dia tidak masuk kelas hari ini." Ujar Nami gagap dia hampir keceplosan ingin menguasai semua telurnya.
Setelah Nami mengatakan sebagian orang lama tanpa bersorak kecuali Acer yang mendengarnya menunjukkan ekspresi cemberut dan anak baru yang tidak tau apa-apa mengenai pengejaran Derek.
Semua orang senang karena setiap Derek mengajar maka yang akan dilakukannya adalah melakukan latihan pertempuran bukan hanya sihir yang dibutuhkan tapi ototnya juga.
Dan orang-orang pemalas di kelas ini tidak ada mengharapkan pelatihan militer melelahkan, penuh luka, dan juga setiap kali Derek melihat mereka hampir pingsan, dia akan menendang pantat mereka dan menambah hukuman menyakitkan.
__ADS_1
Acer tidak bahagia dia adalah pengguna sihir lemah, tapi kekuatan ototnya mampu membuat dia menjadi tali rantai terkuat. "Lalu sampai kapan kau berdiri di sana?"
Semua orang sekali lagi kembali menatap Nami, dan lebih mengagetkan lagi bisakah dia mengkondisikan air liurnya yang tumpah berlebihan itu?
Nami mengelap liurnya malu sambil menatap teman kelasnya dengan ekspresi penuh bintang, "Satu hal lagi yang disampaikan Guru Besar padaku. Dia meminta kalian untuk mempersiapkan diri selama sebulan untuk ikut serta dalam pengambilan telur binatang roh katanya itu adalah hadiah dari sekolah."
"A-apa telur binatang roh? Apakah aku bermimpi?" Sukacita anak baru di kelas ini, sedangkan penghuni tua lainnya memiliki ekspresi pucat.
"Telur binatang roh apakah tahun ini aku bisa mendapatkannya? Aku akan sangat malu kalau telur itu menolak dan melecehkanku." Sedih murid tua lainnya di kelas ini, mereka memiliki hidup pahit pada hari itu.
"Apa maksudmu senior?" Tanya anak baru bingung.
"Itu hanya intrik permainan busuk dari sekolah ini. Selama kau mampu mendapatkan telur itu, maka akan menjadi milikmu. Akan tetapi, jika telur binatang roh itu menolak.
Maka kau akan menjadi bahan gunjingan yang lain. Mendapatkan telur binatang roh dari kolam suci tidak semudah yang kau pikirkan. Dia hanya mengenal pemilik kuat.
Karena pada saat itu para telur akan mengetesmu untuk mengejarnya, dan tahun itu aku dipermalukan.
Telur itu membuatku jatuh ke tanah berlumpur saat mengejarnya dengan terburu-buru alhasil semua orang menertawaiku, dan mengatakan sekali pencundang dalam kelas bermasalah, maka semuanya adalah pencundang dalam hidup." Kenang senior itu yang lama menetap di kelas ini sambil menghela napas panjang, putus asa.
"Jadi begitu." Pucat murid baru lainnya tidak memiliki semangat, mereka hanya murid biasa dengan kekuatan biasa, dan kekuasan keluarga biasa bahkan ada dari mereka berasal dari keluarga miskin.
Nami memiliki kening berlipat dijidatnya. Suasana canggung ini membuatnya tak bisa tinggal diam.
Apakah mendapatkan telur binatang roh sesulit itu? Mengapa saat itu si Lili kecil menjadi telur raksasa yang baik dan diam di tempat dengan ramah kemudian menetas dan memanggilnya Mama?
Apakah telur roh di sini begitu rendah? Apakah kekuatannya sederajat dengan Lilinya. Kalau itu benar maka,
Slurp!
Nami tidak perlu berhati ringan, dan menjadikan santapan isi perutnya.
Nami kemudian mendongak ke atas dan sekali lagi menggedor meja meminta perhatian semua temannya dengan ekspresi semangat membara.
Bug!
"Hei, apa yang salah dengan kalian? Menangkap telur begitu sulit? Maka yang perlu kalian lakukan mempersiapkan diri.
Aku Onami murid biasa-biasa saja dengan kemampuan rata-rata, akan membantu kalian menjadi kuat. Bahkan menangkap kecoa sekali pun, kalian bakal mampu melakukannya!" Seru Nami yang sudah ada di atas meja, ekspresinya kali ini begitu tiran dan sombong.
__ADS_1