
Nami dengan seragam sekolah kebesarannya sekarang berada di ruangan para alkemis. Mengapa mereka berada di sini sedangkan mereka di tempatkan pada murid bermasalah?
Itu karena murid bermasalah masih belum memiliki pilihan untuk ditempatkan pada kelas sebenarnya. Jadi mereka perlu mempelajari semua minat ini dari alkemis, warrior, elementalis, warclock, dan archer.
Pelajaran pertama telah berakhir dan mereka berada di sini. Semua murid bermasalah tampak memiliki raut wajah bermasalah di wajah mereka dengan tatapan tidak senang para alkemis pada mereka.
Sedangkan Nami terlihat tidak peduli dengan para alkemis dan melakukan aktivitas mencium bau dari obat serbuk kualitas jauh lebih rendah dari pil buatannya.
Bahkan bahan untuk pembuatan obat serbuk itu terasa seperti gulma dan tidak berguna.
Dia tak pernah mengira alkemis seburuk ini. “Apakah ini disebut obat bernilai tinggi? Hatchi!” Bersin Nami terhadap serbuk itu yang berhasil menggelitik hidungnya sambil memperhatikan label yang ditandai pada obat itu bertuliskan 'sangat berharga, jangan di sentuh.'
Alkemis yang berdiri di samping Nami yang mendengar keluhannya terlihat sangat tidak senang. Dia pun mengangkat tangannya melapor pada gurunya.
“Guru!”
“Ada apa?”’
“Kenapa kita harus memberikan kelas kita sementara pada mereka!” Ujarnya melirik Nami tidak suka.
“Itu sudah aturan yang ditetapkan. Jadi terima saja. Anak bermasalah jangan menghancurkan lab ku. Jika kau tak mampu menetralkan obat itu!” Kesal guru itu anak bermasalah tetaplah bermasalah, ada yang terlihat baik, dan ada yang badung senang mengacau di kelas ini.
Murid alkemis yang melapor itu tampak tak senang, dia menoleh ke arah Nami dan mendengus pergi menjauh darinya.
Nami yang mendapat keluhan seperti itu hanya mengangkat bahunya, dan melirik obat lainnya yang membuatnya masih penasaran apakah ada yang lebih menarik dari pil obatnya.
***
Setelah menjalani 2 mata pelajaran yang begitu melelahkan. Waktu yang paling ditunggu Nami tiba. Bahkan air liur yang ditahannya tumpah ruah begitu saja.
Dia sudah menyiapkan nampan makanan ditangannya, Kenta mengekori di belakangnya seperti biasa namun raut wajah yang ditunjukkannya jauh lebih pucat dibanding perkenalan kelas.
__ADS_1
Siapa yang tidak pucat. Gurunya benar-benar tak melihat tempat. Hanya karena makanan yang disediakan untuk kelas bermasalah tidak memiliki daging, dia menolak untuk makan di situ, dan mengikuti insting penciumannya bahwa daging berada di kantin atas.
Tidak masalah dia berada pada satu tingkat di atas kelas bermasalah. Tapi ini? Gurunya memasuki kantin yang hanya dikhususkan oleh orang yang dipilih langsung para Tetua Agung.
“Daging di sini benar-benar berkualitas tinggi! Kenta lihatlah bagaimana Mana itu menyelimutinya dan jangan lupa cairan lemon dan saus pedas manis yang menyatu.” Jelas Nami dengan suara besar semakin menambah orang-orang yang berada di kantin ini marah dan tidak senang.
Mereka tahu bahwa dua penyusup ini berasal dari kelas bermasalah. Itu hanya perlu dilihat dari lingkaran merah yang melingkar di lengan mereka sebagai penambahnya.
“Gu-- Guru! Sepertinya kita tidak diterima di sini.”
Nami menepuk punggung Kenta keras, “Jangan khawatirkan mereka, perut kita jauh lebih penting!” Jelas Nami sekarang gilirannya meminta petugas kantin untuk memberinya daging lebih banyak daripada lauk lainnya.
Semua piring terisi penuh bahkan melebihi makanan milik murid lainnya. Perut kenyang dia bahagia. Namun ekspresinya hancur kala dia diberhentikan oleh sistem kantin.
Sebuah layar peringatan muncul tiba-tiba di depan matanya mengatakan bahwa 'murid yang tidak berada di bawah naungan Tetua Agung harus membayar makanan yang diambilnya sebagai gantinya.'
Imajinasi Nami yang memiliki perut buncit menghancurkannya. Orang tidak waras mana meminta seperempat dari sekoin rubi lebih tepatnya 250 koin emas untuk membayar makanan itu.
Bukankah ini pemerasan pada murid biasa-biasa saja dan lemah seperti dirinya.
Nami sepenuhnya mengacau antrian yang lainnya. Kenta semakin pucat, ada apa dengan tuannya.
Aduh dia lupa memberitahunya bahwa di buku panduan sekolah mengatakan kantin disesuaikan dengan kelasnya.
Jika kelas itu berada di bawah kantin lainnya, maka dia harus membayarnya, lalu semakin tinggi kelasnya, maka semakin tinggi uangmu terkuras habis.
“Kenta, bagaimana ini aku akan menangis darah jika harus membuang banyak uangku lagi?!” Bisik Nami sedih namun didengar lainnya.
“Guru ini—”
GYUT!
__ADS_1
“Siapa yang mengijinkan murid dari kelas rendahan makan di kantin ini dan memperbolehkannya makan di sini?!” Cemooh gadis yang tidak dikenal ini yang telah menumpahkan sisa makanan ke kepala Nami.
Yang lainnya memberi tatapan puas ke arah gadis itu seolah dia telah melakukan apa keinginan mereka.
Termasuk 5 orang besar dengan bangku tersendiri mereka yang menikmati pertunjukkan, sedangkan Chen yang memiliki bertemu tuannya sekarang berada di tempat ini terlihat geram tuan penyelamatnya diperlakukan seperti itu, gadis s*alan itu!
Dia mengenalnya, gadis itu adalah anak paman dan adik dari sepupunya yang memaksa ayahnya mengalihkan ahli waris keluarga.
Saat Chen ingin pergi dan membalas gadis k*rang ajar itu. Akan tetapi Anna menahan tangannya, dia menggelengkan kepala. “Kakak Chen jangan lakukan itu. Dia adalah senior, dan banyak senior lainnya mendukung aksinya. Jangan membuat masalah, ingat kekuatan kita tidak sebanding dengan para senior lain.
Kau hanya tambah menyulitkan penyelamat!” Ujar Anna sepenuhnya dipenuhi kebohongan pada akhir kata, menyulitkan penyelamat? Puih! Omong kosong!
Dia entah kenapa tidak menyukai bocah lelaki ini, walau sudah membantu dia sebelumnya. Dan Anna sangat senang anak ini dipermalukan, 'rasakan itu sebagaimana kakak Chen selalu memperlakukanku kasar setelah mengenal bocah bau itu.'
Chen yang mendengar perkataan itu mau tak mau menyetujuinya. Dia tak memiliki kekuatan apa pun. Bahkan jika dia punya, dia tak mampu menggubris kesenangan 5 orang itu, mereka sangat kuat di banding dirinya.
Terlebih lagi dia benar-benar hanya beban dibanding tuan penyelamat, dia ingat tuannya itu sangat kuat.
S*alan anak-anak ini! Beraninya dia! Membakarnya langsung tidaklah cukup, kalau tidak menyiksanya dengan berat sampai mengharapkan kematian! Puih! Apakah kau pikir tuanku adalah orang yang mudah digertak! Tuan biarkan aku menghadapinya! Berisik Phoenix berkomunikasi dengan Nami.
Nami merasakan sakit di kepala. Pertama sisa saus yang jatuh dari kepalanya terasa sudah mulai basi, dan kedua bisakah anak itu memberinya makanan yang bukan sisa dibuang ke kepalanya! Setidaknya berikan dia makanan utuh!
“Diamlah Onix(Phoenix) bodoh! Aku tak menyuruhmu berkomentar bahkan tanpa kau bilang sendiri, aku yang akan meminta anak ini membayar makananku.” Balas Nami tak menyembunyikan senyum liciknya.
Gadis itu terlihat bingung dengan ekspresi Nami. “Apakah kau mendadak gila karena ketumpahan sisa makananku?”
Nami mendongak ke atas menatap gadis di depannya dan memutuskan komunikasi dengan binatang kontraknya. Apakah dia jenis orang yang mudah? Bahkan jika dia hanyalah seorang murid biasa-biasa saja dan kemampuan rata-rata!
“Nona, apakah orang tuamu mengajarkanmu untuk membuang makanan! Tidak pernahkah kau berpikir dari setetes saus ini banyak orang miskin di luar sana mengidamkan kelezatannya! Bahkan diriku juga tidak bakal meninggalkan sisa!” Nami berjalan ke arah gadis itu tanpa menghentikan perkataannya.
Gadis itu mundur ke belakang karena perubahan mendadak ini. Anak ini sesungguhnya memiliki keberanian untuk berbicara balik padanya.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?!”
“Memukul p*ntatmu!” Jawab Nami entah kenapa sudah berdiri di belakang gadis itu.