Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu

Gadis Penyihir Terkuat Nomor Satu
Part 25 - Mengacau


__ADS_3

Nami melewatkan upacara pertama penerimaan murid baru. Dia sedang berada di ruang kesehatan para alchemist.


Dan entah kenapa orang-orang yang tidak dikenalnya muncul dalam ruangan ini.


Kekuatan yang mereka punya termasuk kategori lumayan. Tapi ayolah bukankah dia sedang menjadi rata-rata.


Lalu ke mana burung bodoh itu. Apakah dia masih muntah darah. Karena ulahnya sendiri.


Dan dia Nami tidak tahan dengan tatapan menusuk mereka padanya sehingga keringat bercucuran di seluruh tubuhnya.


Ayolah kalian pergi upacara saja. Jangan mengurusnya.


Mau tak mau Nami membuka mata sendunya.


"Aduh gila!" Jerit Nami apa-apaan mereka. Bagaimana wajah mereka begitu dekat dengannya.


Mengapa bibi ini merasa seperti tawanan.


"Tuan kecil kau sudah bangun rupanya!" Ceria seseorang yang memiliki rambut perak, dan wajahnya mengingatkannya pada seseorang. Entah kenapa dia merinding.


"Wajah kalian terlalu dekat pada pasien." Tegur tabib yang merupakan Alchemist tetap di sini.


"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan? Dan bagaimana aku bisa berada di sini?" Tanya Nami dan dia berbohong di akhir ayolah dia sedang bermain peran.


"Apakah kau tidak mengingatnya?' Tanya si berambut perak itu.


"Ada yang aneh!" Selidik si berambut hijau lumut itu dengan satu tangannya mengelus dagunya yang mulus, dan satu alis terangkat ke atas.


Sontak semua melihat satu sama lain. Sedangkan Nami tiba-tiba merasa ada bunyi aneh dan familiar ditelinga nya.


"Bukankah nenek memberitahumu, jangan terlalu menonjol? Apakah kau ingin ketahuan?" Ujar neneknya melalui telepati.


"Nenek?!"


"Kenapa kau semakin hari, semakin tidak mendengar kata-kata ku? Apakah kata-kata ku adalah lelucon? Kalau kau tidak bisa melanjutkan misi ini, biar nenek saja!" Pusing neneknya.


"Nenek! Apakah kau salah makan sekarang? Jangan mengatakan hal mengerikan itu!" Takut Nami melihat neneknya memakai rok pendek di atas lutut, dengan jubah keagungan para penyihir.


Dia tak bisa membayangkan, walau wajah neneknya masih terlihat awal 30-an. Namun rambutnya yang beruban tidak menutupi apa pun. Bahwa dia sebenarnya adalah seorang wanita paruh baya!


Bahkan jika itu adalah neneknya. Dia tidak akan bisa menahan beberapa kata untuk menyumpahi neneknya.


"Anak nakal apakah kau sedang menghinaku? Begini-begini aku pernah muda!" Bela neneknya tak terima dan jangan lupa dipart sebelumnya dia mendapat julukan femme fatale, kecantikan yang mematikan.


"Nenek, itu benar, akan tetapi itu lebih tepat 150 tahun yang lalu!" Ngeri Nami jangan memaksakan orang tua, bahkan dia mengalahkan ketuaan dari si nenek tetangga kos Nami sebelumnya yang masih berusia 70 tahun!


"Lupakan! Aku memperingatimu untuk menjadi rata-rata. Si burung bodoh itu sedang masa penyembuhan, stress gara-gara dirimu yang tidak pernah mau mendengarkan.


Kau takkan pernah tahu, cepat atau lambat kita akan ketahuan. Jika itu terjadi, apakah kau ingin pindah dari kerajaan ini?" Tegur neneknya pusing bukan main, dan dia sekarang sedang berjemur di bawah teriknya matahari, lebih tepatnya dia berada di negara matahari yang memiliki tingkat kemakmuran yang tinggi.


Bahkan nenek tua dengan tinggi semampai dan bentuk tubuh yang mengagumkan itu mampu menciptakan banyak budak lelaki untuk melayaninya sekarang.


"Ya, di bagian sana!" Ujar Neneknya menikmati pijatan, dan ya dia merubah warna rambutnya, dan telah memakan pil pengembalian masa mudanya.


Jadi dia terlihat seperti wanita dewasa awal 20-an. Setidaknya selama cucunya mencari uang, dia tak perlu lagi berperan sebagai nenek peyot yang meminta belas kasihan hanya untuk menunjukkan wajah tuanya.


Nami mengerutkan keningnya, apa yang dilakukan neneknya sekarang!


"Nenek apa yang kau lakukan? Apakah kau sedang bermain-main dengan pria muda?" Selidik Nami, nenek tolong ingat umur mu!


"Tidak. Apa yang kau katakan?" Balas neneknya pura-pura tuli.


"Nenek walau cucumu tidak berada di dekatmu. Aku tahu kau mencari banyak pria muda untuk memijat mu. Karena aku masih belum mampu membelikanmu alat pijat!" Pusing Nami, 'kondisikan umurmu! Pria muda itu bisa dianggap cicitmu!'


"Apa yang kau katakan? Jangan bicara sembarangan! Sudahlah! Aku memperingatimu jangan membuat banyak masalah.


Tidak perlu membantu orang lain. Bahkan kau pikir jika surat perjanjian itu berguna, kapan mereka akan membayarmu kembali?

__ADS_1


Dan bagaimana bisa kau hanya meminta uang kepada orang-orang yang tidak memiliki uang.


Apakah kau rentenir berdarah dingin. Jika kau tidak mendengarkanku. Aku akan menyeret mu pulang!


Lalu menerima lamaran dari kaisar matahari, atau anak-anaknya!


Bagaimana bisa kau menarik perhatian pria tampan itu. Beritahu aku di mana kau mempelajarinya! Ok, mari kita sudahi ini, sampai jumpa!" Putus nenek Nami seenaknya tak memberi kesempatan Nami untuk mengeluh lebih jauh lagi.


"Apa nenek gila?!" Jerit Nami dengan komunikasi telepati yang terputus, dan mengeluarkan suara besar, sehingga membuat semua orang menoleh dengan tatapan melongo.


"Lady Diana! Apakah pemuda miskin ini, menjadi gila?" Tanya yang lain.


Nami tersenyum kaku. Dia lupa dengan orang-orang yang tidak dikenalnya.


Dan bahkan pemuda tampan bertubuh bagus, dan tempat persinggahan up*lnya ada di sana.


Hei! Hei! Apa yang terjadi.


"Bisakah kalian menjelaskan apa yang terjadi padaku? Dan berhenti berujar kalau aku gila!" Cegah Nami dengan ekspresi kakunya, dia sedang berakting sekarang.


"Lady! Apakah dia mengalami geger otak ringan? Azriel mengapa kau tak menangkapnya. Saat dia jatuh!" Tuduh pria berambut perak itu pada Azriel yang terlihat tenang, dan acuh tak acuh.


"Apakah aku harus menangkap dan menggendong laki-laki?" Tanya Azriel dengan ekspresi malas.


Mereka pun berdebat satu sama lain, dan orang aneh lainnya yang tidak dikenal Nami melakukan kegiatan masing-masing.


Bukankah seorang pasien harus dalam suasana tenang? Pusing Lady Diana.


"Kalian semua! Jika tidak ada kepentingan lainnya, dan hanya membuat keributan, maka keluarlah sekarang juga!" Tegur alchemist wanita tua galak itu.


Dia tak benar-benar memandang bulu, bahkan jika orang itu sekalipun seorang pangeran atau pun cucu dari pemilik sekolah, dan beberapa lainnya berasal dari keluarga penting.


Selama mereka menganggu masa kerjanya, dia yang sudah menjadi alchemist puluhan tahun lalu takkan menoleransi apa pun itu.


Tentu saja dia istri dari tetua agung Alchemist dan terkenal galak, bahkan para tetua agung lainnya, tak berani mencari masalah dengannya.


Mereka pun segera keluar dan tak ingin protes. Nenek tua ini benar-benar galak.


Kecuali pria berambut perak itu. Masih banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Nami.


"Hei bagaimana caramu melakukan tendangan itu? Apakah kau bisa mengajariku?" Tanya pemuda berambut perak itu dengan binar mata, tolong elus dan ajari aku.


Nami yang mendapat binar mata itu seolah hatinya tertusuk. "Apa yang kau katakan? Aku memukul! Bagaimana bisa?" Bohong Nami masih menjalankan aktingnya, dan ayolah ekspresi menyilaukan itu hanya sementara membekas di hatinya. Jadi, jangan melawan nalurinya!


"Paduka pangeran, apakah kata-kata ku hanya sebuah kentut?" Tanya Alchemist itu dengan ekspresi mengerikan.


Pangeran Eiren mendapati bulu kuduknya merinding. Bahkan pamannya sangat menghormatinya.


"Oh bibi tua. Jangan marah, aku akan pergi." Jawab Eiren dengan raut wajah kecut.


"Hei apakah kau benar-benar tidak mengingat menghajar anak-anak sombong itu?" Tanya Eiren berhenti di depan pintu.


"Paduka pangeran..." Getir Alchemist paruh baya itu dengan ekspresi menakutkannya, sekali lagi kau bicara, habis kau.


"Semoga hari-harimu sekolah berjalan mulus!" Ujar Pangeran Eiren buru-buru, sesungguhnya dia benar-benar takut pada nenek ini.


***


Di lain tempat seseorang sudah berada dalam sekolah sihir ini dengan ekspresi marah.


Dia mendapat akses maksud karena kenamaannya, dan menjadi salah satu murid terbaik di sekolah ini dulunya.


Dia seorang pria paruh baya berperut buncit bersama dengan istri mudanya.


Dia ingin membawa pulang anak sialan itu dan memberi pelajaran kepada teman miskinnya juga.


Karena telah menyebabkan anak kesayangannya menjadi tidak berguna.

__ADS_1


Kalau dia berada di kelas mampu, dia takkan mengacau. Tapi anak itu hanya masuk ke dalam kelas rendahan . Jadi, siapa yang berani menahannya mengacau?


Tunjukkanlah batang hidung ke arahnya, lalu dia pria tua ini akan lihat.


Sstp...


Dia sudah berdiri di depan kelas bermasalah yang kecil ini.


Bahkan tak ada yang menakjubkan. Semua perlengkapan biasa saja, bahkan ada banyak kekurangan di dalamnya. Saat ia mengintip di balik jendela kelas yang besar itu.


Di sisi lain Kenta yang tidak tahu ayahnya berada di luar pintu yang bersiap-siap membuat masalah.


Nampak kebingungan melihat burung kecil ini yang telah muntah darah, dan sekarang tidak sadarkan diri.


Dia memikirkan masternya. Tapi dia tak bisa berbuat apa pun setelah dipaksa masuk ke dalam kelas.


Yang pada intinya orang-orang tidak sepenuhnya ingin melihat kelas bermasalah. Dan menganggap kelas itu sebagai wabah virus tertular.


"Apakah master baik-baik saja. Dan aku tak tahu bagaimana menyembuhkan burung ini." Bingungnya frustasi dan khawatir berlebihan.


Tak lama...


Bug!


Bunyi pintu didobrak paksa terbuka dengan sekali tendangan, dan pria paruh baya yang gendut itu datang berulah.


"Panggilkan aku Kenta Hugo Hawk sekarang juga!" Perintahnya penuh kesombongan.


Kenta yang ikutan kaget dengan bunyi pintu itu, dan mengetahui siapa yang datang ialah ayahnya, dia pun mulai gemetaran.


Apa yang dilakukan ayahnya di sini? Apakah karena masalah itu?


Segera dia berdiri dan memberi hormat pada ayahnya. Namun sebelum itu terjadi, ayahnya langsung menendangnya keras.


Bug!


"Cuih! Anak tidak berguna. Betapa beraninya kau melakukan itu pada anakku!" Ujarnya sambil meludah.


Dan semua orang tau siapa gerangan pria ini. Dari latar belakangnya, dia masuk dalam salah satu terkuat, tak ada yang berani protes. Kecuali si pembuat onar. Tapi sayangnya dia sedang dirawat.


Kenta nampak kesakitan di bagian perutnya, langsung saja memuntahkan seteguk darah.


Dia benar-benar tidak berani mengangkat kepalanya. Tubuhnya gemetar dan tak berani melawan.


"Bukankah kau sangat bangga masuk ke kelas jelek ini. Bahkan jika kau berada di atas langit. Aku takkan menganggapmu. Jadi beritahu aku di mana temanmu itu!" Kecamnya menginjaknya lagi.


Semua orang hanya menutup mata dan telinga. Mereka benar-benar tidak punya pengaruh.


Bahkan jika mereka punya, itu tidak sebanding dengan keluarga Hawk.


Tiba-tiba burung kecil lainnya,  vermillion, datang ke arah   kepala keluarga Hawk.


Setelah melihat orang dari ibunya diganggu.


Tanpa ada aba-aba apa pun. Dia segera mematuk kepala orang itu dan menganggu penglihatannya. Alhasil dia membuat kepala keluarga Hawk terganggu.


"Burung bodoh dari mana ini? Berani sekali mengangguku!" Teriak pria paruh baya berperut buncit itu segera menangkapnya, dan melilit lehernya dengan tangan besarnya.


Burung itu hampir kehabisan napas. Kenta yang menyadari itu adalah burung lain kesayangannya tuan, segera berdiri ingin menyelamatkannya dengan langkah tertatih, tapi selir ayahnya itu menjulurkan kaki ke arahnya, sehingga ia terjatuh lagi.


Burung itu mengeluarkan percikan api disekitar alisnya, matanya tampak berapi, marah, tanpa memberi peringatan apa pun, dia menghembuskan napas apinya.


"Ah! Burung sialan! Panas!" Jerit pria tua, ayah kandung dari Kenta, dan segera melempar burung itu jatuh hingga tak sadarkan diri.


Sedangkan pria gendut itu berteriak kesakitan minta tolong tak ada yang membantunya, dan istrinya menjerit ketakutan dan meminta dua pengawal untuk menyediakan air segera.


***

__ADS_1


Di sisi lain Nami merasa ada masalah pada bayi kecil varmillionnya melalui ikatan batin kontrak darahnya.


"Apa yang terjadi padanya?" Ujar Nami segera kembali ke kelasnya. Karena sepenuhnya firasatnya mengatakan cepatlah pergi dari sini.


__ADS_2