
Orang lain yang melihatnya menggosok mata tidak percaya. Nami menekan titik tubuhnya mengunakan jarum. Dan akhirnya menjatuhkan gadis itu di lantai. Tanpa jeda apa pun Nami benar-benar memukul pantatnya.
Semua orang yang melihatnya menjatuhkan rahang, benar-benar anak tidak tahu malu, bahkan dia tidak membebaskan seorang gadis, apakah dia bisa dianggap sebagai laki-laki? Sepenuhnya Nami adalah anak laki-laki yang menyamar.
"Anak itu sangat lucu dalam kurun waktu sehari!" Tawa renyah Eiren si pemuda tampan berambut perak itu.
"Adegan yang memalukan." Balas teman pemuda berambut hijau lumut itu murid Tetua Agung, Archer, yang sekarang berada diperingkat satu teratas.
"Aku bertaruh akan ada pahlawan menyelamatkan kecantikan." Timpal pemuda berambut panjang oranye sampai pantat diikat satu, seorang murid dari Tetua Agung Warlock, sama halnya dengan Archer peringkat satu teratas, pemuda cantik.
Dan benar dugaannya. Orang yang selalu mengikuti gadis itu terlihat sangat marah sambil menunjuk Nami untuk melepaskan gadisnya.
"Dasar tidak tahu malu! Apakah kau menyebut dirimu lelaki! Berhenti di sana! Aku akan menghabisimu kali ini!" Ujarnya Mulai mengeluarkan panah di balik cincin parsialnya, benda mahal namun ruangannya kecil di banding tasnya tak terbatas.
Nami memberi ekspresi datar bahkan gadis ini disebut cantik? Banyak jenis kecantikan yang sudah dilihatnya bahkan kecantikannya tidak sampai seujung kuku teman perinya yang berasal dari kerajaan bunga, ataupun wanita dewasa cantik dan anggun, mermaid, Kerajaan Bintang. Puih! Apanya menyelamatkan kecantikan.
"Kau mengingikannya? Baiklah pahlawan kecantikan. Aku akan memberikannya padamu. Tapi bayar dulu makananku, bagaimana?" Tanya Nami begitu tirani dan picik, jadi apa? Melepaskan? Gratisan? Tidak ada dalam kamusnya!
Pemuda penyelamat kecantikan terpanah dengan kata-katanya, membayar makanan setinggi gunung di sana. Apa-apan pesanan itu?
Bahkan jika dia memakan sebanyak itu tunggu saja dia bakal muntah. Lalu mengapa dia harus membayarnya?
Uang jajan pemberian keluarganya tidak sebesar itu. Bahkan dia cukup beruntung karena mampu menarik minat tetua agung untuk merawatnya.
"Omong kosong! Siapa yang akan mau membayar itu? Biarkan aku memberimu pelajaran dengan panahku ini!" Ujar pemuda itu mulai ingin menarik panahnya.
Kenta segera berlari menutupi tuannya yang bakal terkena panah dan tak sempat menghindar. Dia menutup matanya. Namun...tidak ada yang terjadi.
SWOSH!
Bunyi pedang mematahkan panah itu dengan cepat. Tindakan refleknya sangat baik menghentikan kemungkinan buruknya.
"Keluarga dari mana kau hingga berani menggertak orangku!" Ucap Shopia yang sudah berdiri di depan Kenta sedangkan Troy mematahkan panah itu dengan pedang barunya yang jauh lebih kuat di banding pedang pemberian ayahnya.
Pasti kalian bertanya mengapa anak kembar keras kepala ini yang awalnya sangat tidak menyukai Nami setelah menguras habis uangnya, dan menghancurkan senjata ilahi milik mereka. Akan bersikap membelanya suatu hari.
__ADS_1
Itu karena Nami memberi mereka sesuatu yang tidak bernilai harganya untuk mereka. Dan juga Nami memiliki kesan baik pada si kembar mengingat mereka memberinya uang tanpa perlawanan.
Setelah pemilihan murid berakhir waktu itu. Nami memperhatikan mereka sebelumnya, awalnya mereka takut dengan tatapan membunuh Nami.
Namun setelah dia mendekati mereka. Lalu dengan santainya memberi senjata yang dia temukan secara acak.
Nami lupa bahwa senjata itu sebenarnya senjata yang berasal dari pedagang loak di alam menengah yang memiliki banyak penyihir tingkat tinggi di sana, dan memberinya sebagai hadiah karena membantu menutup tokonya. Dia berkata bahwa itu masih barang setengah jadi.
Sayangnya Nami tak begitu memerlukan senjata setengah jadi ini. Sebab dia sudah punya ribuan lebih banyak senjata kelas yang lebih tinggi di tasnya ini.
Jadi memberi barang setengah jadi namun sangat kuat itu pada dua kembar ini tidak masalah, karena dia juga tidak terlalu membutuhkan senjata.
Si kembar awalnya berpikir bahwa senjata itu hanya senjata biasa. Namun mereka kaget dan gemetar senjata sihir ini kelasnya lebih tinggi dari milik mereka sebelumnya.
Hanya orang tidak tahu malu yang tidak tau cara berterima kasih setelah menerima benda berharga. Terlebih lagi barang ini bahkan bernilai puluhan ribu koin ruby. Orang bodoh mana mau membuang uang seperti air mengalir.
Sayangnya orang bodoh itu adalah Nami sendiri, Jika dia tau senjata acak yang didapatkannya adalah benda yang sangat mahal mana mungkin dia mau memberinya, biarkan mereka bermimpi banyak.
Kembali ke cerita sebenarnya. Nami nampak kaget dengan kemunculan si kembar ini. Dia berpikir bawah kemarin adalah pertemuan terakhir mereka setelah membayar mereka dengan senjata ditinggalkannya.
"Tu-tuan muda, kenapa kau membelanya? Merekalah yang bertindak acak dan masuk sembarangan ke tempat ini." Ujar pemuda itu yang awalnya sombong namun ciut dengan si kembar ini. Walau dia senior dan anak ini adalah anak baru.
Maka letak perbedaannya ada pada status sosial keluarga. Terlebih lagi si kembar ini tidak selemah yang dilihat.
Sebenarnya mereka harusnya sudah lulus masuk ke sini tahun lalu sama dengannya. Tetapi karena mereka berulah sebelum ujian. Jadi mereka didiskualifikasi begitu saja.
"Lalu bagaimana kalau orangku bertindak begitu acak. Apa hakmu untuk menggubris apa yang dia lakukan. Pergilah dari sini sebelum aku menendang p*ntatmu juga!" Ujar Shopia dengan ekspresi cemberut dan memandang rendah senior itu.
Troy meletakkan pedang es luar biasanya itu tepat di depan leher pemuda itu dan segera mendesaknya.
Pemuda itu mengepalkan tinjunya menahan amarah, dan mau tak mau dia harus pergi dari sini dan meninggalkan gadisnya yang tertahan oleh Nami.
"Tuan besar!" Hormat kembar itu mendadak dan sopan.
Nami memiliki ekspresi rumit ke arah si kembar itu dan meminta mereka penjelasan. "Kalian kenapa membiarkannya pergi makananku belum dibayar!"
__ADS_1
Pletak!
Dua orang itu tergelincir ke lantai. Anak laki-laki ini bahkan memikirkan uang makanannya. Benar-benar reaksi bertahan hidup yang sangat baik.
Shopia memberi senyum nyengir pada tuan muda dermawan ini. "Biarkan aku yang membayarkan makananmu." Tawarnya langsung membuat Nami memberi efek bercahaya pada matanya, terlalu menyilaukan.
"Sekalian dengan Kenta juga, tidak masalah 'kan?" Harap Nami membuat Shopia merasa gemas sendiri seperti hatinya terpana.
Shopia mengangguk setuju begitu juga Troy yang sudah menyarungkan pedangnya dan menaruh di belakang punggungnya.
Mengingat baru kemarin ayahnya memberikan mereka uang lagi setelah tahu mereka berhasil lulus ujian, dan juga ayahnya tidak mampu menutupi kesenangannya karena anaknya mendapatkan senjata yang keluarganya tidak mampu beli, walau mereka juga termasuk orang yang kaya di negeri ini.
Nami terlihat sangat senang dengan kemurahatian mereka terhadapnya, orang kaya memang berbeda. Dua orang ini seperti bank berjalan baginya.
Dan juga dia segera berdiri dari aksi duduknya terhadap gadis berisik ini setelah puas menampar pantatnya.
Dia begitu tidak peduli dengan orang-orang yang mengatakannya tidak tahu malu. Toh dia perempuan. Dia sepenuhnya benci orang yang membuang makanannya.
Lalu sisa saus yang menempel ditubuhnya dan kepalanya dia biarkan sementara, entah kenapa kalau dia menggunakan elemen sihirnya pasti ada saja orang yang mendapat serangan pada jantungnya.
"Pergilah! Lain kali jangan buang makananmu sembarangan! Dan jika kau mau buang makanan. Maka buanglah makanan yang utuh padaku!" Usir Nami sudah melepaskan jarum yang menempel ditubuh gadis itu dan mantra bisunya sudah tercabut.
Gadis itu kembali berisik, "S*alan! Tunggu saja, aku akan melaporkanmu kepada ayah dan kakakku." Lalu segera pergi dengan tangis malunya.
Dan masalah kantin telah selesai sehingga membuat para penonton terlihat kecewa. Apakah masalah ini hanya akan berakhir sampai di sini.
"Bukankah info yang aku dapatkan si kembar memiliki konflik berdarah dengan anak kurus bernama Onami itu?" Tanya Eiren terlihat bosan, dan makanannya juga sudah habis.
"Kau terlalu banyak, Yang Mulia." Dingin Azriel meninggalkan makanannya yang sudah habis. Eiren Nampak cemberut setelah Azriel mengatakan itu.
Di sisi lain Chen yang ditahan Anna akhirnya mendapat napas lega. Masalah tuannya sudah selesai. Lalu apakah dia bias ikut berbaur? Namun setelah berpikir panjang. Biarkan tuannya makan dengan baik. Dan juga terlihat bahwa Nami hanya fokus pada dagingnya.
__ADS_1