
Waktu ujian telah habis.
Semua murid yang berada dalam ujian menghentikan semua aktivitasnya.
Karena tubuh mereka segera bertransmigrasi ke aula ujian.
Yang lulus, tubuh mereka akan berada di dalam aula.
Sedangkan yang tidak,
Mereka berada di tempat pendaftaran.
Tanpa mereka sadari.
Pengawas ujian, sudah mengawasi mereka.
Jadi tidak ada alasan untuk mereka bertindak curang.
Kecuali,
Seorang pria lusuh yang menyamar.
Dia sengaja memanipulasi alat pengawas itu,
Agar menyembunyikan kekuatannya,
juga kebiasaan buruknya membuat satu anak keluarga besar menjadi tidak berguna.
Dan satunya lagi,
Nami menyelamatkan tuan kayanya dari binatang roh tingkat tinggi.
Nami sekarang bersama dengan dua burung di kiri kanannya.
Yang satu burung Pipit, Phoenix.
Lalu satunya lagi anak ayam, burung vermilion.
Dan juga tak ketinggalan,
Dia bersama muridnya,
Kenta yang berdiri di sampingnya.
"Tuan, apakah kita benar-benar lulus ujian?" Kagum Kenta berdiri di tengah peserta ujian lain.
Dan di saksikan banyak orang yang duduk di tribun.
Bahkan tokoh-tokoh agung duduk di tempat khusus di atas tribun.
"Selamat kepada peserta ujian yang telah lolos mengikuti ujian akademi sekolah sihir ini." Ujar kepala sekolah dengan mengenakan tuxedo perak,
wajahnya terlihat 50-an, dia terlihat tua,
namun ada aura superior mengelilinginya.
Semua peserta merasa dada mereka gemetar.
Benarkah mereka telah lulus?
Bahkan ada yang mengeluarkan air mata.
Setidaknya usaha mereka tidak sia-sia dengan luka yang menghiasi tubuh mereka.
"Tapi sebelum itu mari kita memeriksa elemen apa yang anda kuasai sehingga kelas kalian berada ditempat yang tepat." Lanjut kepala sekolah dengan senyum tipis yang ramah.
Semua peserta yang mendengarnya terkejut.
Mengukur?
Bukankah sebelum ujian.
Mereka telah diberi arahan?
Kenapa tiba-tiba seperti ini?
Kebahagiaan beberapa dari mereka runtuh,
Dan beberapa lainnya sudah memprediksinya.
"Jangan khawatir kalian telah lulus.
Tapi masih ada penempatan kelas untuk yang terendah mau pun kelas tertinggi." Ujar kepala sekolah telah membaca wajah mereka yang bermasalah.
Bahkan anak desa yang jauh lolos tes, merasa gugup.
Bukankah telah dikatakan tidak akan ada perbedaan derajat?
Dia hanya anak desa,
tanpa dukungan apa pun.
Bahkan dia hanya mengambil kesempatan nekat ini,
demi mengubah nasibnya.
"Murid-muridku yang terkasih.
Di sini tidak memikirkan kalangan dari mana kalian berasal.
Tapi di sini menentukan sejauh mana elemen yang anda kuasai,
dan tingkat kelas kekuatanmu juga penting untuk dipikirkan." Lanjut kepala sekolah memperjelas segalanya.
"Dan satu lagi ada perubahan." Dia terdiam sebentar.
Lalu menatap peserta ujian yang telah lolos dengan ekspresi yang sangat ramah.
"Penentuan murid kali ini akan berbeda.
Setelah elemen dan kekuatan anda di ukur.
Para guru akan memilih muridnya.
5 guru besar di sini akan memilih murid dengan perolehan tertinggi,
mungkin jurusan anda seharusnya akan berubah.
Kedua kalau kalian berada diposisi menengah,
guru ini akan memilih kalian.
Ketiga, kalau berada diposisi terbawah,
guru ini juga akan memilih kalian.
Dan terakhir jika kalian berada pada tempat yang tidak beruntung maka jalan satu-satunya,
masuk ke kelas terburuk.
Bahkan jika guru itu mau menerima kalian,
maka kalian akan aman.
Jika tidak maaf sekali lagi,
kalian tahu di mana jalan keluar.
Dan ikutlah ujian tahun depan lagi." Ujar kepala sekolah menjelaskannya dengan wajah topeng ramahnya.
Murid-murid pun memucat,
Bukankah pada akhirnya ini dikatakan bahwa kelulusan mereka belum tentu?
Baiklah, Katakan, perjuangan hidup mati mereka di hutan terlarang,
yang dipenuhi binatang roh menakutkan itu tidak ada gunanya?
"Ini..." Pucat Kenta,
Dia berada pada posisi tidak menguntungkan.
Kekuatannya hanya mencapai pemula kelas menengah.
Dan elemen yang dikuasainya hanya satu,
itu pun elemennya belum stabil sama sekali.
Bahkan dia selalu mengalami kegagalan,
Setiap kali menggunakannya.
"Apakah aku bisa?" Kenta ingin menangis,
jadi apa gunanya dia ikut tes ini.
Bahkan untuk mengubah pikiran ayahnya,
akan seburuk ini.
"Cuih...ini sama saja membedakan orang lain." Sinis Nami menatap tajam kepala sekolah dan guru lain.
Pikiran manusia bahkan bisa berubah seburuk ini.
Lalu katakan,
Di mana letak tidak membeda-bedakan?
Mari kita lihat apa kasta kelulusan orang lain, akan menjadikan poin utama.
Jika itu terjadi, biarkan dia menyaksikannya dengan baik.
Cuih! Itu benar sekali tuan!
Semuanya omong kosong.
Orang tua licik itu.
Hanya menginginkan nyawa orang lain sebagai gantinya.
Kemudian ketika mereka selamat, dan berhasil melewatinya.
Pada akhirnya mempermainkan nyawa anak yang masih muda itu.
Dan berhenti memberikan harapan yang memuakkan.
Manusia rendahan yang menjijikkan!
Umpat Phoenix ingin langsung menyemburkan api pada pria tua bermuka dua itu.
"Mari kita mulai!" Sebuah bola kristal raksasa muncul di depan mereka dengan posisi melayang di udara.
Satu-persatu murid di tes.
Murid pertama menguasai elemen api tingkat atas.
Bahkan dikatakan,
Anak ini sudah sangat berbakat.
Sebab dia telah berada pada posisi kelas penyihir tingkat senior menengah.
Penampilan kaya, dan kesombongannya menatap sesamanya dengan tatapan mengejek.
Para calon siswa-siswi tergerak marah.
Pemilihan guru pun berlangsung.
Dan ya,
Ada satu guru besar pada kelas alchemist mengangangkat papannya.
Tak ketinggalan guru kelas menengah mengangkat papannya.
Bahkan guru kelas bawah pun juga ikut melakukannya.
Pemuda itu tersenyum kecut.
Dia kecewa bahwa para tetua besar lainnya.
Tidak memilihnya.
Dan Siapa yang mau masuk kelas alchemist?
Tidak ada gunanya.
Terlalu lemah.
Dia pun memilih guru warrior kelas menengah.
Setidaknya itu lebih baik.
"Uhuk! Pak tua sungguh mengecewakan.
Bahkan anda menjadi guru besar pun.
Mereka tidak mempertimbangkannya sama sekali!" Batuk pak tua agung archer dengan kilatan mata mengejek.
"Kentut tua!
__ADS_1
Bahkan jika dia tidak memilihku itu adalah keputusannya.
Dan juga dia sepenuhnya tidak layak masuk di mataku." Ujar tetua agung alchemist tidak mau direndahkan.
Masa kejayaan alchemist sekarang berada diperingkat terburuk.
"Lalu apa?
Bukankah kau hanya memiliki satu murid?
Itu pun murid terakhirmu yang hebat itu, Skyler,
menjadi murid terakhir yang bisa kamu banggakan.
Jadi apa?
Bahkan guru alchemist di bawahmu hanya memiliki sedikit murid." Sinis tetua agung warlock itu penuh dengan kesombongan dan merendahkan.
Dan ya, si tetua agung alchemist selalu menjadi ejekan jurusan lain.
"Hahaha... Kita lihat nanti.
Aku akan mendapatkan murid yang hebat.
Dan kalian akan iri padaku.
Kalian kentut tua yang bau akan mencium sepatuku sebagai gantinya." Balas si tetua agung alchemist dengan ekspresi marah.
"Kalau itu terjadi.
Maka kami akan memberimu rasa hormat yang lebih tinggi." Jawab tetua agung warrior tenang dengan aura yang kuat.
Sedangkan tetua agung yang berada di tengah-tengah tetua agung lainnya.
Adalah yang paling hebat di antara yang lain, elementalist,
sedang mencicipi teh hijaunya yang nikmat dengan santai.
namun selesai menyesap tehnya dia menghirup baunya
Lalu memunculkan senyum tipis,
menikmati perkelahian mereka.
Si tetua agung alchemist menggertakkan giginya,
kalian lihat saja nanti, kentut tua bau!
Di sisi lain...
"Wow dia hebat!" Ujar calon murid yang tidak percaya diri.
"Apanya yang hebat?
Dia hanya mendapatkan guru kelas dua." Ujar pemuda sombong itu yang terlihat mengenakan pakaian yang dibuat sangat mewah, dan indah.
Menunjukkan dia adalah seorang bangsawan tinggi.
"Hei, tapi itu sudah dianggap hebat.
Guru besar adalah hal yang sulit disentuh bahkan mereka hanya menerima 1 sampai 3 murid setiap tahun,
bahkan tidak sama sekali."
"Owh benarkah?
Tunggu, darimana kau dapat info itu.
Apakah kau pernah ikut ujian sebelumnya?
Namun gagal pada akhirnya.
Aku mengerti.
Dasar lemah." Ujar pemuda sombong itu,
"Apa kau bilang?!" Kesal pemuda yang dihina.
Kalau kau berada pada keluarga hebat.
Lalu apa?
Dia juga berada di keluarga hebat.
***
Beberapa waktu telah berlalu...
Satu persatu murid telah dipilih.
Bahkan kekuatan tinggi sekali pun akan menjadi titik terbawah para siswa terpilih,
kemiskinan mereka menjadi penghalang.
Mereka cukup beruntung berada di kelas menengah.
Selain menengah, mereka hanya mampu berada di kelas terbawah.
Namun jika kalian berada pada level rendah.
Kelas bawah pun tidak akan mempertimbangkan orang miskin.
Pada akhirnya,
Kelas terburuk pun menjadi pilihan terakhir mereka.
Bahkan hal paling menyedihkan,
banyak anak yang datang dari keluarga miskin pun tidak mendapatkan kelas sama sekali,
jadi mereka pulang dengan tangan hampa sambil menangis pilu.
Jadi untuk apa mereka ujian?
Nami tersenyum kecut,
sangat baik!
ini benar-benar sebuah kebohongan.
Tidak membedakan kasta?
Cuih...omong kosong!
Tak lama setelahnya,
anak kembar yang diperasnya berhasil di pilih oleh tetua sebelumnya yang membela dirinya.
Semua orang memberi tatapan kagum penuh hormat,
dan kesombongan mereka semakin tinggi.
Nami yang melihat itu tersenyum kecut.
Harusnya dia memeras si kembar beda kelamin itu lebih banyak.
Di sisi lain,
Dua anak kembar beda kelamin itu merasakan hawa dingin di balik punggung mereka.
Seolah ada yang memberi mereka tatapan dengan niat buruk.
Mereka menoleh,
Dan alhasil,
Dia mendapati bocah kurus miskin yang sudah memeras mereka beberapa waktu lalu.
"Kakak kau melihatnya?" Tanya Troy dengan mimik muka buruk.
Shopia mengangguk,
"Aku juga.
Mari kita lihat kelas mana dia.
Dan juga berharaplah,
supaya kita tidak berada di kelas yang sama dengannya."
Troy yang mendengarnya mengangguk setuju.
"Iya, kakak. Dia juga sudah menguras uang tahunan kita.
Aku tidak ingin berurusan dengannya." Pekiknya menyayangkan uang itu.
Di sisi lain.
Nami merasakan tatapan balik mereka.
Oh jadi, mereka mengingat bocah miskin seperti dirinya.
Nami mengangkat sudut bibirnya.
Tak lama ia menggerakkan mulutnya.
"Terima kasih uangnya.
Dan jangan sampai kalian bertemu denganku.
Kalau tidak utang kalian beserta bunganya akan kutagih." Nami pun terkekeh.
"Dia!" Geram si kembar itu mengerti gerakan bibir Nami.
***
Tak lama giliran Kenta yang dipanggil.
Kenta berjalan gemetaran ke arah bola kristal raksasa itu.
Lalu setelah ia sampai.
Ia pun segera menyentuhnya.
Hasilnya seperti yang dia bayangkan.
Menguasai elemen kayu,
Dan berada di kelas penyihir pemula tingkat menengah.
itu dianggap benar-benar sangat buruk.
Terlebih lagi Kenta mengenakan pakaian biasa.
Tanpa menunjukkan dirinya sebagai seorang anak utama dari keluarga Hawk.
Kelas bawah pun tidak menerimanya sama sekali.
Dia pun berakhir pada kelas terburuk.
Itu pun Kenta telah bersuka cita.
Kelas terburuk adalah kelas campuran semua pengendali semua bidang ada di sini.
Tetapi, dalam kelas ini mereka tidak punya masa depan jelas,
kecuali mereka berjuang keras.
Kenta berjalan kembali dengan kepala tertunduk ke arah Nami.
Menghindari tatapan mencemooh semua orang.
"Sepertinya aku pernah melihat anak ini." bisik para anak bangsawan.
"Oh iya, aku ingat! Bukankah dia adalah anak utama keluarga Hawk yang tidak berguna itu?
Ternyata gelar tidak bergunanya, akan jatuh pada tingkat yang sama.
Sekali tidak berguna tetaplah tidak berguna.
Ini sungguh aib keluarga Hawk yang terhormat,
bisa memiliki kualitas keturunan seburuk ini." Ejek para murid bangsawan terpilih dengan guru yang baik.
Kenta yang mendengar itu tersenyum kecut, dan sedih,
jadi apa?
Nami yang memperhatikan itu.
Segera memberi tepukan di pundak Kenta untuk memberinya semangat.
"Jangan terlalu dipikirkan mulut sampah itu.
Mereka terlalu percaya diri.
Tidak masalah di mana kelasmu ditempatkan.
Tunjukkan kemampuanmu.
__ADS_1
Dan mari kita menaruh kotoran di atas buku mereka satu-persatu nanti!" Motivasi Nami malah memancing kemarahan peserta lain.
Kenta yang awalnya sedih mendapat dorongan untuk semangat dari masternya.
Akhirnya dia mengangkat kepalanya,
dan tidak menunjukkan raut wajah penuh dengan kekecawaan sama sekali.
Setelah Kenta dipanggil.
Giliran selanjutnya adalah Nami.
Nami pun berjalan ke arah bola kristal raksasa itu.
Dan ya,
Nami mengenakan pakaian paling terburuk di antara lainnnya.
Dia telah menunjukkan identitas nya sebagai seorang pengemis.
Semua orang memberinya tatapan mencemooh.
"Oh sungguh berani bocah pengemis ini untuk ikut ujian!
Bahkan dia begitu berani ingin menaruh kotoran dengan hanya bermodal kemiskinan." Ledek pemuda yang sebelumnya meledek Kenta muridnya.
Dasar manusia rendahan kurang ajar.
Apa masalahnya dengan pakaian tuanku.
Bahkan dengan pakaian seperti ini .
Itu tidak akan melunturkan kharismanya yang hebat dimataku.
Cuih...cuih...
manusia rendahan yang sombong.
Jika aku tidak menyamar dan menutup keberadaanku.
Kalian akan mati dengan apiku,
tanpa mengalami reinkarnasi sama sekali!
Marah Phoenix tak suka dengan cara mereka memandang tuannya begitu merendahkan.
"Wow bahkan dua burung jelek menghiasi penampilannya." Ejek pemuda lainnya.
Nami tampak tidak peduli.
Sialan siapa yang jelek?!
Bahkan bulu apiku yang cantik ini tidak ada bandingannya dengan kalian para kotoran.
Kalian jelek seluruh keluarga kalian jelek!
Kalau aku tidak membunuh kalian sekarang maka aku bukanlah lagi Phoenix yang agung!
Emosi Phoenix sudah mulai berinisiatif memberi mereka pelajaran.
Sedangkan burung vermilion terlihat memiringkan kepalanya,
tidak mengerti dengan kemarahan paman besar ini, Phoenix.
Nami yang merasakan kemarahan Phoenix menekannya untuk tidak membuat masalah.
Phoenix pun patuh,
dan menyimpan amarahnya dan akan membalasnya nanti.
Tapi matanya cerah,
kala tuannya memberikan bubuk gatal ke arah orang yang menghinanya.
dan efek gatal itu bersifat lambat,
namun lama-lama menyakitkan,
anggap saja itu adalah bubuk gatal beracun.
Tuanku, aku akan selalu menghormatimu.
Bahkan aku siap jadi selirmu!
Senang Phoenix ingin memeluk paha tuannya.
Tuannya benar-benar tidak peduli cemohan orang lain.
Tapi selama mereka berani menganggu orangnya.
Maka jangan kira diamnya itu bersifat lemah.
Nami diam, pertanda badai mulai mengalami pergerakan.
Kalau itu terjadi,
Jangan salahkan dia.
Membuat kalian menginginkan kematian lebih cepat.
"Aduh kenapa tubuhku terasa gatal!" Keluh anak bangsawan dengan mulut embernya itu.
***
Kaisar sihir agung mengubah penampilannya dan duduk di antara para murid yang sudah menjadi senior.
Kaisar sihir nampak tenang di luar, namun ngeri di dalam.
Demi calon istri masa depannya.
Dia rela berkorban menyamar,
Agar calonnya tidak kabur saat melihatnya.
Terlebih lagi dia mengalami gangguan ditatap penuh pemujaan oleh para murid wanita.
Sedangkan para murid lelaki memberinya ekspresi permusuhan.
"Apakah gadis itu ada disalah satu peserta?
Kenapa aku tidak melihatnya sama sekali?
Apakah informasi itu benar?
Awas saja kalau Reiner menipuku!" Batin kaisar sihir sudah memikirkan hukuman menyakitkan apa yang dia lakukan kepada bawahannya,
tangan kanannya, menteri pertahanan, Reiner.
Di tempat yang jauh Rainer yang tidak tau apa-apa telah mengalami bersin berulang kali.
***
Nami sudah berdiri tepat di depan kristal raksasa.
Orang-orang yang mengenalnya.
Saudara kembar yang sudah dikuras habis kekayaannya, menantikan dia.
Guru besar yang memilih si kembar itu sebagai muridnya.
Terlihat kaget melihat anak miskin itu lolos,
padahal tempat itu adalah hutan terlarang.
Tidak seorang pun penyihir berani berlama di sana.
Dan satu yang ia tahu anak ini tidak memiliki *M*ana sama sekali
"Anak yang menarik." Gumamnya tenang.
"Bocah miskin? Sungguh berani!" Ledek tetua agung archer tidak menyimpan anak itu dimatanya.
Lalu mari kita menyorot ke arah Chen yang sudah diselamatkan Nami sebelumnya.
Dia menahan napas.
Tuan yang menyelamatkannya pergi tanpa menunggunya sadarkan diri telah berdiri di sana.
Lalu dia mencari keberadaan vermilion yang harusnya menjadi miliknya.
Sama sekali tidak berada dengan penyelamatnya.
Dan penyelamatnya hanya meninggalkannya surat hutang.
Walau begitu dia sungguh bersyukur.
Dan takkan berani protes.
Bahkan walau dia kecewa tidak mendapatkan kontrak darah dengan burung vermilion yang hilang.
Dia setidaknya bisa berusaha menarik penyelamatnya ke dalam partainya, dan berteman.
Anna melirik ekspresi Chen tidak suka saat menatap Nami.
Bukankah itu terlihat seperti ekspresi jatuh cinta,
tidak, tunangannya tidak mungkin menyukai laki-laki bukan?
Terlebih lagi tunangannya tak pernah memberinya pandangan seperti itu.
"Kakak Chen bukankah dia adalah pemuda yang menyelamatkanmu?" Tanya Anna basa-basi sambil menggertak giginya, tidak suka.
"Ya, itu dia." Senang Chen tidak menoleh sama sekali ke arah Anna,
dan titik fokusnya hanya mengarah pada Nami.
Nami merasa tulang lehernya merinding.
Dia menggelengkan kepalanya berusaha tenang.
Phoenix kecil, apakah kekuatanku telah ditekan dengan baik, dan aku sudah menjadi orang rata-rata?
Tanya Nami mengirimkan telepati kepada Phoenix yang berada di pundaknya.
Tentu saja tuan.
Itu benar-benar efektif.
Nyonya tua melakukannya dengan baik.
Jawab Phoenix mengingatkan pil penekan kekuatan kelas tinggi dari nenek Nami.
Tanpa pikir panjang,
Nami terlihat sangat percaya.
Nami pun menjulurkan tangannya menaruh di atas bola kristal.
Tak lama.
Semua cahaya elemen mengitari bola kristal itu.
Bahkan pengukuran kelas kekuatannya meningkat secara bertahap terus menerus tanpa henti.
Semua orang yang berada di dalam ruangan napasnya tercekat.
Dengan pemandangan menakutkan ini.
Bagaimana bisa bocah miskin ini, begitu kuat?
Para tetua guru besar tampak bersemangat.
Kaisar sihir yang tidak peduli dengan yang lain,
hanya memikirkan istrinya yang menghilang membuatnya fokus pada bocah miskin itu.
"Ini..." Kaget para murid yang diperas Nami pada pertemua pertama mereka;
si kembar, Chen, Anna, dan juga teman-teman Chen.
Tidak ketinggalan murid pertama Nami, Kenta.
"Hei bukankah kekuatanku sudah ditekan, burung bodoh?" Umpat Nami kesal.
Phoenix mendadak pucat.
Dia sudah 100% yakin bahwa dia tak merasakan fluktuasi Mana pada tuannya.
Bahkan semua elemen dikuasainya, hanya efektif apabila tuannya ingin menggunakan.
Dia pun tidak yakin.
"Ini tuan. Aku tidak tau." Bingung Phoenix.
"Burung bodoh! Dengan begini kita akan ketahuan!" Gemas Nami dengan perubahan mendadak ini.
Tidak bisakah ia menjadi rata-rata?
Dia belum siap mengatakan selamat tinggal pada uangnya?!
__ADS_1
Akan tetapi...