
Gerald memasukan beberapa pakaian nya ke dalam koper berukuran mini. Ia terpaksa menerima tawaran dari Arka untuk tinggal di rumahnya sementara. Meski sejujurnya ia tidak ingin tinggal di sana, tapi bagaimana lagi, Arka memaksanya untuk tetap tinggal di sana saja.
Meski begitu, ia akan tetap mencari kost atau kontrakan agar tidak berlama-lama tinggal di rumah tersebut. Walaupun jaraknya kira-kira setengah jam menuju lokasi, ia akan tetap ambil tempat tinggal sementara itu di banding harus numpang di rumah orang.
Selain merasa segan, hal lain yang membuat ia enggan untuk tinggal di rumah Arka adalah Susi. Kekhawatiran terbesarnya adalah itu yang tidak bisa ia jabarkan.
Usai packing baju dan kebutuhan yang perlu ia bawa, Gerald bergegas pergi menuju mobilnya. Ia memasukan koper hitam berukuran mini itu ke dalam bagasi mobil. Barulah ia masuk ke dalam bagian jok kemudi. Mobil pun pergi meninggalkan halaman rumahnya.
Setelah menempuh waktu yang tidak sebentar, akhirnya ia sampai di pelataran rumah Arka. Sebelum turun dari mobil, ia mencoba menghubungi Arka terlebih dahulu.
"Halo, Ka. Kau dimana? Aku sudah sampai di depan rumahmu."
"Aku sedang di luar sebentar, Rald. Kau masuk saja, istriku ada di dalam."
Sungguh jawaban yang tidak ingin ia dengar sekaligus yang ia takutkan.
"Aku tunggu di mobil saja sampai kau datang, Ka. Aku tidak enak jika kau tidak ada di rumah."
"Tidak apa-apa, Rald. Istriku kan baik. Nanti aku kasih tahu Susi untuk menyambutmu, ya."
"Tidak, Ka. Tidak perlu. Aku tunggu di mobil saja."
"Sudah, tidak usah sungkan. Susi baik, Rald."
Arka mematikan sambungan teleponnya padahal Gerald masih ingin melayangkan protes.
"Ka, Ka. Halo .. Ka .. Arka ..!!"
__ADS_1
Gerald berusaha menahan perasaan kesalnya. Kenapa pria itu terlalu membiarkan dirinya untuk berdua dengan istrinya. Sebegitu besarnya rasa percaya Arka terhadap istri dan juga dirinya.
Tidak berapa lama, ia melihat sosok wanita yang tidak ingin ia lihat itu keluar rumah. Siapa lagi jika bukan Susi. Wanita itu berjalan ke arah mobilnya dengan senyum lebar.
Tok tok ..
Susi mengetuk kaca jendela mobilnya. Wanita itu pasti memintanya untuk segera keluar dari mobil.
"Gerald..."
Tok tok ..
"Gerald, ayo keluar!" seru Susi tidak sabar.
Gerald berdecak sebal. Mau tidak mau ia harus keluar juga. Ia tidak boleh menunjukan sikap ketidaknyamanannya. Ia harus bisa bersikap biasa saja di depan Susi.
"Selamat datang kembali di rumahku, Gerald. Semoga betah tinggal di sini, ya," ucap wanita itu.
Gerald hanya membalas dengan senyum kecil serta ucapan terima kasih. Kemudian pergi ke arah bagasi mobil untuk mengambil koper miliknya.
Merasa di cuekan, Susi tidak menyerah begitu saja. Ia justru semakin tertantang dengan itu. Gerald pria yang langka. Biasanya pria yang akan mengejar-ngejar dirinya termasuk Arka.
"Biar aku bantu," tawar Susi.
"Tidak usah, biar aku saja," tolak Gerald masih berusaha sopan.
"Tidak apa-apa. Biar aku saja."
__ADS_1
Susi mengambil koper milik Gerald dari tangan pria itu. Gerald hanya bisa menghembuskan napas berusaha untuk sabar menghadapi wanita yang satu ini.
"Ayo, masuk!" ajak Susi kemudian.
Gerald mengangguk. "Iya."
Gerald mengikuti langkah Susi, tapi sampai di depan pintu langkahnya terhenti. Ia tidak ingin masuk sebelum Arka datang.
"Kenapa berhenti, ayo masuk!" ajak Susi lagi.
"Maaf, sebaiknya aku di sini dulu sebelum Arka kembali."
Gerald memutuskan untuk menunggu Arka di teras saja.
"Tunggu di dalam saja."
"Tidak, di sini saja," tolak Gerald.
"Di dalam-"
"Di sini saja," ucap Gerald dengan tegas.
Susi di buat bungkam dan tidak lagi memaksa Gerald untuk masuk ke dalam rumah. Gerald pikir dengan begitu Susi akan berhenti bersikap yang membuatnya tidak nyaman. Wanita itu justru malah ikut duduk di sebelahnya.
"Aku juga menunggu Arka. Jadi kita sama-sama tunggu Arka di sini, bagaimana?"
Gerald memejamkan mata seraya menghembuskan napas pelan. Rupanya ia memang harus menambah porsi kesabaran.
__ADS_1
_Bersambung_