GAIRAH ISTRI TEMANKU

GAIRAH ISTRI TEMANKU
Tempat Tinggal Sementara


__ADS_3

Setelah seharian mencari tempat tinggal sementara project berlangsung, akhirnya Gerald menemukan kontrakan dengan panjang dan luas sekitar tujuh kali lima meter. Terdapat dua kamar, satu ruang tamu, ruang dapur yang menyatu dengan ruang makan, dan satu kamar mandi. Baginya itu lumayan luas lantaran ia hidup seorang diri. Lagipula hanya tempat tinggal sementara. Dan jarak kontrakan tersebut ke lokasi pembangunan membutuhkan waktu sekitar lima belas menitan.


Besok pembangunan sudah mulai di lakukan. Satu jam sebelum nya Arka memberi kabar jika Kunal sudah mendapat lima belas orang sisa kurangnya. Tuan Herlain juga memberikan lagi dana sebanyak dua puluh persen dari jumlah total dana awal.


Gerald membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kosong. Kali ini pikirannya tertuju pada wanita berhijab yang ia temui di laundry dekat rumah Arka. Bagian saat tatapan mereka saling temu. Jujur, ini pertama kali jantungnya berpacu di atas normal begitu mengingat paras cantik wanita yang ia ketahui bernama Wina. Wanita itu betul-betul menjaga pandangan terhadap lawan jenis. Itu yang Gerald suka dari Wina.


Perasaan yang telah mati satu tahun lalu, kini seakan kembali tumbuh. Ia memiliki keinginan lagi untuk menjalin tali kasih dengan seseorang. Dan seseorang yang ia inginkan adalah Wina. Apapun caranya, ia harus bisa mendapatkan wanita itu.


Gerald bangun dari tempat tidur dan duduk usai mengingat sesuatu.


"Jum'at dan Minggu. Iya, dia akan datang ke laundry di hari itu."


Gerald memiliki harapan untuk kembali bertemu lagi dengan Wina di hari itu. Tapi, hari itu memiliki dua puluh empat jam.

__ADS_1


"Tapi dia datang setiap jam berapa, ya?"


Gerald mengingat waktu kemarin ia datang di jam yang bersamaan dengan Wina.


"Apa dia juga sering datang di jam empat sore?" tebaknya.


"Iya, jika dia sering datang di hari yang tetap, maka ia dia juga akan datang di jam yang tetap. Aku akan mengunjungi laundry itu lagi di jam empat sore. Mudah-mudahan aku bertemu lagi dengan dia," ucapnya penuh harap.


Gerald kembali membaringkan tubuhnya, menjadikan kedua lengannya sebagai bantalan. Seulas senyum terbit dari kedua sudut bibirnya, membayangkan wajah cantik wanita yang kini sanggup menggetarkan relung hatinya.


Gerald memejamkan kedua mata tanpa melepaskan senyum di bibirnya. Entah kenapa ia sangat senang membayangkan wanita itu. Ia berharap Wina belum memiliki seseorang yang akan menjadi pendamping masa depan. Agar ia bisa masuk ke dalam kehidupan dia.


Suara dering ponsel menarik paksa Gerald untuk keluar dari segala pemikirannya. Ia segera merogoh benda pipih di saku celana dan melihat nama penelpon di layar. Tanpa pikir panjang ia mengangkat telepon tersebut.

__ADS_1


"Halo, Ka."


"Rald, besok bisa datang ke rumah aku?" tanya Arka dari sebrang telepon.


"Memangnya ada apa, Ka?"


"Motorku mati, Rald. Besok bisa jemput aku ke rumah? Kalau pun tidak bisa tidak apa-apa."


Gerald terdiam untuk beberapa saat. Sebenarnya ia malas jika harus datang lagi ke rumah Arka, ia tidak ingin bertemu dengan ular betina itu. Tapi ia tidak bisa menolak permintaan Arka. Apalagi mereka besok harus datang ke lokasi pagi-pagi.


"Iya, Ka. Besok aku jemput."


"Iya, Rald. Terima kasih, ya."

__ADS_1


Sambungan telepon pun berakhir. Gerald kembali membaringkan tubuhnya, melanjutkan kembali membayangkan wajah Wina yang kini membuatnya merasa candu.


_Bersambung_


__ADS_2