
Gerald kembali ke rumah Arka dan sampai sekitar jam sebelas malam. Sebelumnya ia sudah menyempatkan diri untuk pulang ke rumah. Tidak sampai setengah jam ia memutuskan untuk segera kembali ke rumah temannya itu.
Ia bingung, ini sudah terlalu larut. Jika ia ketuk pintu rumah Arka, ia khawatir akan mengganggu waktu tidur mereka. Lebih baik ia putuskan untuk tidur di mobil saja untuk malam ini.
Baru akan memejamkan kedua mata, ia mendengar suara pintu rumah tersebut di buka oleh seseorang. Ia pikir itu Arka, ia sudah ber siap-siap untuk turun dari mobil. Tapi ternyata itu Susi.
Wanita itu melambaikan tangannya. Gerald pura-pura tidak melihat wanita itu. Tapi dia sepertinya akan menghampiri. Sebelum Susi menghampiri, ia harus keluar terlebih dahulu.
"Aku pikir kau tidak akan kembali malam ini," ujar wanita itu.
"Arka mana?" tanya Gerald berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tenang saja, dia sudah tidur," jawab Susi dengan santai.
"Justru aku tidak tenang."
"Kenapa?"
"Kau senang sekali menggangguku."
"Tapi kau senang juga bukan?"
"Aku sangat terganggu."
"Benarkah?"
"Ya."
Alih-alih tersinggung atau merasa bersalah. Wanita itu justru malah senyum-senyum sekarang.
__ADS_1
"Kembalilah ke kamarmu, Arka pasti akan mencarimu jika dia terbangun!"
"Arka tidak akan bangun."
"Darimana kau tahu itu?"
"Dia baru saja tidur. Jadi sekarang dia sedang pulas-pulasnya."
Gerald di buat semakin tidak tenang. Pasalnya Susi pasti akan berbuat hal yang di luar pikiran nya. Sebelum itu terjadi, ia harus segera masuk ke rumah tersebut dan masuk ke dalam kamar. Mengurung diri agar terhindar dari ulat bulu itu. Ia tidak perduli Susi tuan rumah di rumah ini, sebab sikap dia menunjukan harga diri.
"Eits, mau kemana?" Susi berhasil meraih pergelangan tangan Gerald.
Gerald memejamkan kedua mata seraya menghirup napas dalam-dalam. Ia harus berusaha lebih sabar lagi menghadapi manusia yang satu ini.
"Lepaskan!"
"Apa?"
"Kau tidak dengar apapun?"
Gerald menggeleng layaknya orang polos.
Susi memamerkan sederet giginya yang rapi.
"Itu artinya sepi. Dan-"
Gerald dengan cepat paham akan maksud wanita itu.
"Jangan berbuat macam-macam!" ancam Gerald seraya menunjuk Susi tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
Susi tidak memperdulikan ancaman Gerald. Perlahan ia membuka pakaiannya hingga membuat pria di hadapannya kini panik.
Wanita itu melempar pakaian dinasnya tepat pada wajah Gerald. Menyisakan braaa dan cellana dalam yang membuat Gerald menelan ludah mentah-mentah melihat gunung kembar Susi yang menyembul besar putih nan mulus.
"Aku tahu kau pria normal seperti pria lainnya, Gerald. Ayolah, untuk kali ini saja. Kita bisa melakukannya di mobil. Bagaimana?"
Lagi-lagi suara Susi penuh akan nada sensual dan juga godaan. Tapi tidak, Gerald tidak boleh tergiur akan rayuan maut wanita itu.
Susi selangkah lebih maju. Ingin rasanya Gerald pergi dari sana. Tapi entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang menahan kakinya. Berat sekali untuk melangkah.
"Gerald .. Kau mau kan?"
Mulut Gerald serasa di kunci. Sekujur tubuhnya terasa kamu seolah di kutuk menjadi batu. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memejamkan mata. Ia berusaha menghindari gunung kembar Susi yang tampak jelas di depan mata. Selain itu, gundukan daging kenyal bawahnya pun layaknya ikan kembung.
"Ayolah, Gerald. Kita lakukan untuk sekali ini saja, bagaimana? Kalaupun kau ketagihan, kita bisa melakukannya lagi."
Sialan. Itulah gambaran yang tepat bagi Gerald untuk merutuki dirinya sendiri. Entah kenapa sulit sekali bagi dirinya untuk pergi dari sana.
Dan dengan kurang ajarnya, Susi meraih tangannya dan dia letakan di bagian gunung kembarnya itu. Dan yang lebih parahnya lagi, dengan lancang nya dia menyentuh bagian pusaka miliknya yang tanpa ia sadari kini sudah bangun dan sedikit mengeras.
"ARKAAA... !!!" teriak Gerald membuat Susi kini tampak panik.
"Syuttt .. Jangan teriak-teriak, Gerald. Nanti Arka akan bangun."
"ARKAAAAA .... "
Gerald merasa sangat lega ketika ia bisa melakukan sesuatu dengan memanggil nama temannya. Ia berharap Arka akan segera datang dan menyelamatkan dirinya dari ular betina yang hendak memangsa dirinya.
_Bersambung_
__ADS_1