
Gerald sudah tampak rapi dengan kemeja berwarna putih serta jam tangan hitam yang melingkat di pergelangan tangan kirinya.
"Mau kemana, Rald?" tanya Arka saat mendapati temannya hendak membuka pintu depan rumah.
Gerald pun menoleh. "Eh, Ka. Ini aku mau pergi sebentar, ambil baju di laundry. Sama mau pulang dulu ke rumah sebentar."
Arka melirik jarum jam yang menempel di dinding. Sudah jam empat sore. Dan perjalanan menuju rumah dia sekitar dua jam. Pulang pergi perjalanan berarti sekitar empat jam-an. Berarti Gerald akan melewatkan makan malam di rumahnya.
"Oh, ya sudah. Hati-hati."
"Iya, Ka."
Gerald pun pergi, sementara Arka memutuskan untuk kembali ke kamar. Tapi langkahnya urung begitu melihat istrinya berjalan ke arah dapur dengan menggunakan pakaian yang sangat terbuka lagi seperti hari kemarin.
"Sayang ..." panggil Arka membuat langkah wanita itu terhenti.
Arka berjalan menghampiri istrinya dan menatap wanita itu terheran.
"Sayang, kau mau kemana?" seru pria itu kemudian.
Susi menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Iya."
__ADS_1
"Aku tidak mau kemana-mana. Aku mau siap-siap masak untuk makan malam kita nanti," jawab Susi membuat Arka semakin merasa heran.
"Mau masak kenapa harus make up sampai pakai lipstik merah merekah seperti mau bepergian?"
Susi spontan menyentuh bagian bibir dan wajahnya.
"Memangnya ada yang salah, ya? Aku tidak boleh pakai make up di rumah?"
"Boleh, tidak ada yang salah. Hanya saja terlihat aneh sekarang. Biasanya kau pakai make up tipis dan pakai make up tebal jika hendak bepergian keluar rumah. Sekarang mau masak saja pakai make up seperti mau keluar rumah."
Susi memutar bola matanya malas.
"Arka, sayang .. Kau lihat pakaian aku!"
"Kau pikir dengan aku mengenakan pakaian seperti ini aku mau bepergian keluar rumah, hm?"
"Iya, aku tahu kau tidak akan bepergian dengan pakaian seperti ini. Tapi yang aku heran kan itu make up mu, sayang."
"Arka, sudah cukup! Kenapa sih suka sekali memperdebatkan hal kecil? Kemarin masalah pakaian sekarang masalah make up. Aku berhak atas kebebasan diri aku di rumah aku sendiri. Aku tampil cantik juga bukan untuk orang lain. Untukmu, sayang."
Seketika emosi Arka yang hendak memuncak justru malah mereda mendengar kalimat akhir Susi.
"Aku mohon stop untuk mempermasalahkan hal-hal yang tidak seharusnya di permasalahkan. Please, baby!"
__ADS_1
"Iya, iya, sayang. Iya, aku minta maaf. Aku minta maaf jika aku terlalu over. Aku minta maaf, ya."
"Please, jangan komentari apapun yang aku lakukan lagi. Okay?!"
"Okay, sayang. Sini, sini." Arka merentangkan kedua tangannya, meminta Susi agar memeluk dirinya.
Susi pun memeluk tubuh pria itu. Arka membelai rambut Susi dengan penuh kasih di sertai dengan kecupan dalam di puncak kepala wanita itu.
"Aku minta maaf, sayang. Aku minta maaf, ya."
"Ok. Jangan ulangi lagi. Aku tidak suka kau melarang apapun yang ingin aku lakukan. Tolong beri aku ruang kebebasan."
"Iya, sayang. Iya, kau bebas melakukan apapun yang kau mau."
"Really?"
"Yes, baby."
Susi melepaskan pelukannya dan menatap suaminya manja.
"Kiss me!" pinta Susi kemudian.
Arka mengulas senyum kecil mendengar permintaan manja istrinya. Sedetik kemudian ia melahap bibir mungil wanita itu dengan sangat lembut.
__ADS_1
_Bersambung_