GAIRAH ISTRI TEMANKU

GAIRAH ISTRI TEMANKU
Big Project


__ADS_3

Hari ni Gerald beraktivitas seperti biasanya. Pagi-pagi sekali ia harus bangun dan berangkat ke kantor. Sebab jaraknya yang lumayan jauh membuat ia harus berangkat lebih awal di bandung karyawan lain.


Fokus menyetir nya sebagian hilang. Lantaran pertama kali ia membuka hp saat bangun tidur, ia mendapat notif pesan masuk dari Susi lagi berisi ucapan selamat pagi. Tentu saja ia merasa terganggu lantaran Susi istri temannya.


Ia memutuskan untuk memblokir nomer wanita itu. Tapi semenit kemudian muncul nomer lagi dan itu dari orang yang sama. Susi. Entah apa yang wanita itu inginkan darinya. Padahal jelas-jelas dia sudah memiliki suami.


Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam lebih di jalan, mobil pria itu tiba di kantor yang di pimpin oleh tuan Herlain. Ia berharap cukup fokus menyetir nya saja yang terganggu, fokus kerjanya jangan sampai.


"Selamat pagi, Gerald," sapa pria yang berusia sekitar lima puluh tahunan dengan senyum ramah menyambut kedatangannya.


"Selamat pagi, tuan Herlain," balas Gerald.


Ia melirik jam tangan berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Ia kira datang kesiangan lantaran tuan Herlain sudah ada di sana.


"Kenapa, Gerald? Kau pasti heran ya saya datang masih pagi?" tanya pria paruh baya itu.


Gerald menggeleng. "Bukan begitu, tuan. Saya pikir saya yang kesiangan."

__ADS_1


Tuan Herlain mengulas senyum.


"Saya datang lebih awal dari biasanya karena ada yang ingin saya bicarakan pada kau dan juga Arka. Arka sudah ada di ruangan meeting sejak sepuluh menit lalu. Dan sekarang kau sudah datang, mari kita ke sana. Ada hal yang ingin saya bicarakan mengenai big project perusahaan."


"Baik, tuan. Berarti saya memang datang kesiangan, ya."


Tuan Herlain tersenyum sembari geleng-geleng. Sebegitu takutnya bawahannya datang kesiangan.


Dua jam berikutnya, meeting pun selesai. Gerald senang lantaran ia dan Arka kembali di percayai untuk menghandle big project tersebut. Hanya saja kenapa lokasinya dekat dengan tempat tinggal Arka.


Big project tersebut berupa pembangunan pusat perbelanjaan yang terdiri dari sepuluh lantai dan harus selesai dalam waktu kurun tiga bulan. Pemmbangunan tersebut lokasinya tidak jauh dari rumah Arka. Sehingga mengharuskan dirinya untuk tinggal sementara waktu di dekat lokasi tersebut. Sebab jarak rumah dirinya dengan Arka memakan waktu dua jam lebih. Ia tidak mungkin bolak-balik setiap harinya.


Penawaran Arka membuat pria itu melotot. Alih-alih senang di beri tawaran tempat tinggal, ia justru malah di buat panik karena harus bertemu dengan istri temannya setiap hari setiap saat. Baru bertemu sehari saja sudah membuat dirinya hampir tidak waras. Apalagi tiga bulan. Bisa-bisa ia gila beneran.


"Jangan terlalu banyak berpikir, Rald. Kau tinggal saja di rumahku. Okay?!"


"Aku tidak mungkin tinggal di rumahmu, Ka. Kau ini kan sudah beristri. Jadi tidak mungkin aku tinggal di sana."

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Aku percaya denganmu, Rald. Aku juga percaya dengan istriku. Jadi kau jangan berpikir jika aku akan akan berpikir yang macam-macam."


"Tapi, Ka. Aku tidak bisa tinggal di rumahmu. Maaf, ya. Terima kasih atas penawaran nya. Nanti aku bisa cari kost atau kontrakan untuk tinggal sementara dekat lokasi pembangunan."


Arka terkekeh mendengar jawaban temannya. Hal itu membuat Gerald mengerutkan keningnya merasa heran.


"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu dariku?" tanya Gerald memastikan.


"Geraaald ... Gerald! Di dekat rumah maupun lokasi pembangunan big project tidak ada kost maupun kontrakan. Lagipula kenapa kau keras kepala menolak tawaran ku, hah? Kau tenang saja, aku percaya padamu. Istriku juga pasti tidak akan keberatan jika kau tinggal di rumahku sementara. Dia pasti akan mengerti dan mengizinkanmu untuk tinggal bersama kami."


"Ka-"


"Aku percaya dengamu." Arka menepuk pundak Gerald sebelum kemudian beranjak pergi, meninggalkan Gerald yang masih duduk di kursi ruang meeting.


Gerald menatap punggung kepergian temannya sampai hilang dari jangkauan matanya.


"Andai kau tahu ketakutan aku ini, Ka. Aku takut jika kepercayaanmu akan berubah menjadi luka bagimu. Aku bisa menahan diri, tapi bagaimana dengan istrimu?"

__ADS_1


Gerald menghembuskan napas terdengar sedikit kasar. Ia tidak tahu harus menerima tawaran Arka atau tidak. Ia harus pikirkan lagi soal ini matang-matang.


_Bersambung_


__ADS_2