
Gerald dan Arka akhirnya memutuskan untuk menunggu jalanan lenggang. Namun, kedua mata Arka tiba-tiba jatuh pada wanita berhijab dan berdiri di dekat pagar pembatas jembatan. Wanita itu tidak asing baginya.
"Rald, Rald. Ada Wina, Rald."
"Hm, Wina? Mana?" Gerald mengikuti arah telunjuk Arka, dan benar saja, wanita itu adalah Wina. Tapi sedang apa Wina di sana?
"Kita turun saja, yuk!" ajak Arka.
Tanpa menunggu jawaban Gerald, pria itu turun lebih dulu. Mau tidak mau, Gerald pun ikut turun. Arka menghampiri Wina, di susul oleh Gerald.
"Permisi .. " ucap Arka membuat wanita berhijab itu menoleh kemudian menunduk.
Seperti yang di katakan oleh Gerald sebelumnya, jika Wina adalah wanita yang menjaga pandangan terhadap lawan jenis.
"Maaf, ini ada kejadian apa, ya?" tanya Arka kemudian.
"Itu ada wanita korban pelecehan yang di bunuh lalu di buang ke sungai jembatan ini," jawab Wina.
"Innalillahi .. Pelakunya sudah di tangkap?"
"Masih dalam kejaran polisi. Kebetulan adikku menjadi saksi dan sekarang dia sedang di introgasi oleh polisi," jawab Wina lagi.
"Owh, begitu." Arka mengangguk-anggukan kepalanya.
Gerald pun datang dan berdiri di samping Arka. Pria itu menatap wanita di depannya, wanita yang sempat membuat itu menaruh harapan besar.
"Rald, coba sapa," bisik Arka tepat di telinga Gerald.
Gerald menggeleng.
"Tidak apa-apa, Rald. Coba saja."
__ADS_1
Gerald sebenarnya ingin, tapi ia ingat jika Wina sudah bersuami. Oleh karena itu ia memilih untuk tidak menyapa wanita itu.
Tiba-tiba saja seorang pria datang menghampiri Wina.
"Kak, kakak pulang duluan saja tidak apa-apa kan? Aku masih harus memberi keterangan pada polisi."
Gerald sedikit terkejut melihat pria tersebut yang memanggil Wina dengan sebutan kakak. Ia sontak membisikan sesuatu pada Arka.
"Ka, pria ini yang aku kira suami Wina."
"Hah? Dia barusan panggil kakak."
"Itu artinya ... "
Gerald dan Arka saling memandang, sedetik kemudian senyum mereka sama-sama terbit.
"Oh iya tidak apa, Yang. Kakak bisa pulang sendiri," sahut Wina.
"Iya, tidak apa-apa."
Sekarang Arka tahu kenapa Gerald menganggap Wina sudah bersuami. Wanita itu memanggil pria itu dengan kata 'Yang'. Tapi ia yakin jika yang tersebut bukan berarti kata sayang, bisa jadi itu namanya.
Pria yang di panggil 'Yang' itu sudah pergi. Kini tinggal mereka bertiga dan warga yang lainnya di sana.
Arka menyenggol lengan Gerald, memberi sebuah kode agar memberi tawaran tumpangan pada Wina.
"Apa sih, Ka?"
"Ck, saatnya beraksi. Ayo, cepat!" bisik Arka.
Gerald tampak malu-malu. Oleh karena itu Arka melipir kembali ke mobil duluan.
__ADS_1
"Hai .. " sapa Gerald. "Mau ikut naik mobilku?" tawar Gerald kemudian.
"Tidak, terima kasih," tolak Wina.
"Jangan takut, aku bukan orang jahat, Wina."
Mendengar namanya di sebut oleh pria yang tidak ia kenal membuat Wina iris matanya melebar. Bagaimana pria itu bisa mengetahui namanya?
"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa mengetahui namamu bukan?" tebak Gerald.
"Aku tahu kau wanita baik-baik yang menjaga pandangan terhadap lawan jenis. Tapi tolong lihat aku sebentar saja!" pinta Gerald sedikit memohon.
"Maaf, aku tidak bisa melakukannya," tolak Wina.
"Sebentar saja, Wina. Satu detik saja, kau pasti akan ingat siapa aku."
Perasaan Wina tidak pernah berinteraksi dengan pria manapun selain keluarga. Tapi kenapa pria itu bisa mengenal dirinya, bahkan dia berkata jika ia melihat dia, ia akan tahu siapa pria itu.
Dengan di awali ucapan basmalah, Wina memberanikan diri untuk melihat wajah pria di hadapan nya. Ia sedikit takut, tapi ia juga ingin tahu siapa pria itu sebenarnya.
Perlahan kelopak mata Wina bergerak, Gerald memasang senyum paling manis agar begitu Wina melihat wajahnya, wanita itu akan tertarik juga dengannya.
Wina terkejut begitu ia melihat wajah sosok pria yang berdiri di hadapannya. Rupanya ia pernah tidak sengaja menatap wajah itu sebelumnya.
"Bagaimana, sekarang kau sudah ingat siapa aku?"
Tentu saja Wina ingat, karena tidak banyak wajah yang ia lihat meski sudah lama.
"Kau yang tidak sengaja melukai lenganku saat membuka pintu mobil di laundry?"
Gerald mengangguk cepat. Ia senang karena akhirnya Wina ingat siapa dirinya. Seketika harapan yang sudah sempat ia kubur dalam-dalam itu kembali muncul. Kini ia menaruh harapan lagi terhadap wanita itu.
__ADS_1
_Bersambung_