
Gerald menghela napas lega begitu melihat sepeda motor matic yang di kendarai oleh Arka. Setelah menunggu selama hampir lima belas menit lamanya, ia bisa menghirup udara bebas.
Susi buru-buru bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri Arka. Gerald pun ikut berdiri.
Berdua dan berdekatan dengan Susi merasa sangat gerah. Apalagi wanita itu terus saja menatap dirinya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan. Itu yang membuat Gerald sedikit risih dan tidak nyaman.
"Hei, Rald. Maaf ya, lama." Ucap Arka usai mengaitkan helm yang baru saja di lepas pada kaca spion.
"Iya, Ka," jawab Gerald.
"Lalu kenapa masih di sini?" tanya Arka melihat koper yang ia ketahui itu milik Gerald masih di depan pintu.
"Aku sudah ajak dia masuk, sayang. Tapi dia tidak mau karena menghormati tuan rumah. Aku juga tidak ingin kau berpikir yang macam-macam jika aku berduaan di dalam rumah dengan pria lain meski itu teman mu," sahut Susi.
"Owh, begitu. Ya sudah, kalau begitu sekarang kita masuk. Ayo, Rald." ajak Arka di angguki oleh Gerald.
"Iya, Ka. Terima kasih."
"Kopernya biar aku bantu bawakan, ya," tawar Susi.
"Biar aku saja," tolak Gerald.
__ADS_1
"Sudah, Rald. Biar istriku bantu bawakan," timpal Arka.
Gerald tidak bisa berkata lagi. Jika Arka sudah bicara maka ia tidak bisa melayangkan protes maupun memberi penolakan. Ia harus menghormati pria itu sebagai tuan rumah, dan ia hanya sekedar tamu yang berniat untuk menumpang itupun karena di paksa.
Susi menaruh koper tersebut di kamar tamu yang sempat di tempati Gerald malam itu. Sementara Arka dan Gerald berdiri di depan kamar tersebut.
"Kau tidak perlu sungkan tinggal di sini, Rald. Anggap saja ini rumahmu juga. Jika lapar kau bisa pergi ke meja makan, jika ada makanan kau makan saja. Istriku selalu menyediakan makanan di meja makan."
Gerald mengangguk. Ia jadi semakin merasa segan dengan Arka. Temannya itu sangat baik sekali padanya sejak dulu.
Susi pun muncul keluar dari kamar tersebut usai menaruh koper milik Gerald.
"Ah ya, selimut yang kau pakai kemarin sudah aku cuci. Jadi nanti aku akan ambil lagi dan mengantarnya ke kamarmu," kata Susi memberi tahu.
"Dan untuk pakaianmu yang tertinggal di sini, aku taruh di lemari pakaian aku dan Arka di kamar. Nanti aku antarkan bersama selimut nya."
"Iya."
Arka senang istrinya tidak keberatan dengan kehadiran temannya di rumah. Sedikitpun ia tidak ada curiga apa-apa. Ia percaya penuh dengan Gerald maupun Susi.
"Ya sudah, kalau begitu kau bisa istirahat di kamar, Rald. Aku dan istriku mau ke kamar sebentar."
__ADS_1
"Iya, Ka. Silahkan. Sekali lagi terima kasih sudah memberiku tumpangan. Aku janji, setelah aku dapat tempat tinggal dekat sini, aku akan segera pindah."
"Jangan pikirkan hal itu, istriku sama sekali tidak keberatan kau tinggal di sini bahkan sampai project nya selesai."
Gerald memandang ke arah Susi sekilas. Wanita itu sempat-sempatnya melemparkan senyum padanya.
Gerald tidak tahu saja, ini bukan masalah istrinya keberatan atau tidak, ini justru masalah istrinya yang bersikap aneh sehingga membuatnya tidak nyaman berada di sana.
"Ah ya, Gerald. Kalau mau mandi kau bisa ambil handuk yang sempat kau pakai kemarin di tempat handuk, ya. Aku lupa belum sempat mencucinya," kata Susi.
"Iya," jawab Gerald singkat.
"Kami tinggal sebentar, ya," pamit Arka.
"Iya, Ka. Silahkan."
Arka pun pergi bersama istrinya. Sementara Gerald masuk ke kamar yang akan ia tempatk selama beberapa hari ke depan.
Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Terdengar helaan napas yang sedikit kasar darinya.
"Andai istri Arka itu sholehah, mungkin aku tidak perlu sampai waspada tinggal di sini," ucap Gerald di akhiri dengan usapan kasar di wajah.
__ADS_1
_Bersambung_