GAIRAH ISTRI TEMANKU

GAIRAH ISTRI TEMANKU
Pengirim Chat


__ADS_3

Gerald menghela napas lega lantaran mobilnya sudah di perbaiki oleh montir langganan. Usai membayar tagihan biaya perbaikan mobilnya, Gerald memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.


Ia masuk ke dalam mobil dan memakai seatbelt usai menutup pintu mobilnya kembali. Baru akan menghidupkan mesin, ponselnya berdering mengeluarkan nama Arka di sana. Ia menggeser ikon berwarna hijau lalu menempelkan benda pipih tersebut ke daun telinga.


"Halo, Ka. Ada apa?"


"Halo, Rald. Kau dimana sekarang?" tanya pria itu dari sebrang telepon.


"Aku mau baru pulang habis perbaiki mobil. Kenapa?"


"Maaf ya, Rald. Aku tidak bisa mengantarmu memperbaiki mobilmu. Tadi sebenarnya aku pergi bukan untuk acara keluarga, melainkan membelikan kue untuk istriku karena ulang tahun hari ini sekaligus mansiv pernikahan yang ke empat bulan."


"Oh, begitu. Selamat mansiv pernikahan, ya. Maaf juga karena tadi aku pergi sebelum kau kembali. Aku ..." Gerald seketika menggantung kalimatnya, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Arka.


"Kenapa, Rald?"


"Aku ... Aku tidak enak lah di rumah berdua dengan istrimu. Nanti takutnya kau berpikir yang macam-macam."


"Tidak mungkin lah. Aku percaya pada istriku, aku juga percaya padamu."


Mendengar kalimat barusan membuat Gerald merasa bersalah. Lantaran semalam pikirannya terus tertuju pada istri temannya itu pada saat kejadian di ruang televisi.


"I-iya, Ka. Kalau begitu tutup dulu teleponnya, ya. Kebetulan aku mau jalan pulang."

__ADS_1


"Iya, ok."


Sambungan telepon pun berakhir. Gerald menghembuskan napas sedikit kasar. Seketika ia tersadar jika ia masih memakai baju milik Arka. Ia harus mengembalikan dan ia juga harus mengambil pakaian kotor miliknya di rumah pria itu.


"Aku tidak mungkin datang ke rumah Arka lagi dan harus bertemu istrinya."


Gerald tampak memikirkan sesuatu.


"Apa aku harus bawa pakaian Arka ini ke kantor dan mengembalikan nya di saat jam pulang saja, ya. Untuk pakaian aku sendiri, aku tidak perlu memintanya kembali."


Gerald mengangguk-anggukan kepalanya. Sepertinya memang harus seperti itu agar ia tidak lagi bertemu dengan Susi.


Setelah itu Gerald menghidupkan mesin mobil dan mengemudikan nya. Mobil pun melesat jauh karena ia mengemudikan nya dengan kecepatan tinggi.


Sampai di rumah, Gerald menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur dengan kedua mata terpejam. Tiga jam duduk di jok mobil membuat panttat dan punggungnya terasa panas.


Cukup lama mata pria itu terpejam, ia di sadarkan oleh notifikasi pesan masuk yang bergetar di saku celana.


Ia merogoh benda pipih tersebut dan melihat pesan yang baru saja masuk ke dalam ponsel miliknya. Begitu di cek, ternyata nomer nya asing. Tapi ia penasaran dengan isi chat nya.


08xx:


Hai, Gerald. Sudah sampai rumah?

__ADS_1


Gerald refleks bangun dan mengerutkan keningnya dalam usai membaca chat tersebut.


"Chat dari siapa ini?" pikirnya.


Lantaran penasaran, ia mengetikan balasan.


Gerald:


Maaf, kau siapa, ya?"


Tidak lama kemudian, ia mendapat balasan chat nya lagi.


08xx:


Aku tidak perlu mengatakan aku ini siapa. Nanti kau akan tahu sendiri siapa aku.


Gerald semakin di buat aneh dengan siapa sebenarnya pengirim chat tersebut.


"Aku akan tahu sendiri? Bagaimana aku bisa tahu siapa dirinya jika dia sendiri tidak memberi tahu dia ini ..."


Gerald menghentikan kalimatnya dan kini bola matanya membulat sempurna. Ia membaca ulang balasan chat tersebut baik-baik dan ternyata benar. Sekarang ia tahu sendiri siapa pengirim chat tersebut.


"Susi?!"

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2