GAIRAH ISTRI TEMANKU

GAIRAH ISTRI TEMANKU
Keputusan Berat


__ADS_3

Arka menyusul langkah istrinya ke kamar. Dan ia mendapati istrinya tengah cemberut.


"Sayang, kenapa cemberut begitu, hm?" tanya Arka seraya mengusap lembut puncak kepala Susi, kemudian ikut duduk di samping wanita itu.


Susi menggeleng tanpa mengubah bibirnya yang membentuk sebuah kerucut.


"Aku beli baju baru mahal-mahal kan untuk memanjakan mata kau juga. Tapi kenapa kau seolah-olah tidak suka dengan apa yang aku pakai," jawab Susi dengan nada bicara khas orang kesal.


Arka menarik napas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan. Ia memang harus banyak sabar menghadapi wanita yang satu ini. Ia selalu berusaha untuk bersikap lemah lembut terhadap sang istri. Juga sedikit memanjakan nya.


"Aku suka, sayang. Aku saaangat suka kau pakai pakaian apapun bahkan tanpa pakaian sekalipun. Tapi aku tidak ingin tubuh mu kau perlihatkan untuk pria lain juga. Di sini kan ada Gerald, meskipun dia ini temanku, tetap saja aku yang tidak enak, sayang. Aku sebagai suami harus bisa memberi tahu bagaimana cara berpakaian yang sopan kepada istrinya ketika ada orang lain."


Arka berusaha membujuk Susi dan meminta pengertian wanita itu. Ia berharap Susi mengerti akan maksudnya.


"Tapi kan ini rumah kita, sayang. Aku berhak atas kebebasan diriku. Kenapa jadi seakan-akan aku yang numpang tinggal?"


"Sayang, please-"

__ADS_1


"Aku sudah mengizinkan dia untuk tinggal di sini. Jadi tolong jangan larang aku untuk melakukan apapun rumahku sendiri. Jika kau tidak memberiku ruang kebebasan, maka aku yang akan pergi dari sini."


Arka tentunya panik dengan ancaman istrinya. Apa Susi semarah itu padanya? Padahal ia berusaha memberi tahu apa yang menurut ia benar. Tidak lebih.


"Sayang-"


"Aku yang pergi atau Gerald? Atau Gerald tetap di sini tapi beri aku kebebasan untuk melakukan apapun!" Susi memberi sebuah pilihan yang sulit bagi Arka.


Pria itu tidak bisa memilih salah satu di antaranya. Ia tidak mungkin membiarkan Susi pergi hanya karena masalah pakaian. Gerald pasti akan merasa tidak enak jika hal itu terjadi. Gerald pasti akan menjadi krang yang merasa bersalah jika terjadi pertengkaran di antara keduanya.


Akan tetapi, Arka juga tidak mungkin tiba-tiba meminta Gerald untuk pergi dari rumahnya. Lagipula Gerald tinggal di rumahnya atas kemauannya. Ia memaksa Gerald untuk tinggal di sana. Mana mungkin ia meminta pria itu untuk pergi dari sana.


Tapi ia tidak punya pilihan lain selain pilihan terakhir. Sepertinya pilihan terakhir yang membuat ia terpaksa harus memilih nya daripada istri maupun teman nya harus pergi dari rumah tersebut. Walaupun berat, ia menyetujui pilihan terakhir.


"Ok, ok. Kau berhak melakukan apapun. Tapi aku mohon, jangan melakukan sesuatu yang melebihi batas wajar!" pintanya di angguki oleh wanita itu.


"Ok, fine. Lagipula apa yang kau takutkan? Bukankah kau percaya denganku dan juga Gerald?"

__ADS_1


"Iya, aku percaya. Tapi aku tidak ingin sesuatu yang aku anggap tidak mungkin itu kejadian."


"Lalu kenapa masih membiarkan Gerald di sini?"


"Karena aku percaya. Selebihnya aku serahkan padamu."


Arka menatap wajah Susi dengan tatapan cukup serius. Begitupun dengan Susi.


"Kau tenang saja, aku tidak seperti yang sedang kau khawatirkan."


"Iya, aku tahu. Lagipula Gerald pun bukan pria yang seperti itu."


"Kau yakin?"


"Aku sangat yakin."


Susi menyembunyikan senyum penuh keraguan akan ucapan suaminya. Ia yakin dan sangat yakin, jika Gerald tidak jauh berbeda dengan pria di luaran sana.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2