
Gerald merasa ini sudah tidak benar. Baginya Susi sudah keterlaluan. Wanita itu dengan berani menyentuh dirinya bahkan saat ada suaminya di sana. Ingin rasanya ia memberi tahu pada Arka apa yang sudah Susi lakukan terhadap dirinya. Tapi itu sama saja dengan merusak rumah tangga mereka. Gerald tidak ingin perpisahan rumah tangga teman nya sendiri itu di sebabkan oleh dirinya. Tapi jika di biarkan, kasihan Arka nya juga.
Tok tok tok ...
Suara pintu yang di ketuk membuat tubuh Gerald kembali menegang. Ia sudah yakin jika orang itu adalah Susi. Jika tidak di buka, ia sama saja dengan tidak menghargai Arka sebagai tuan rumah.
Dengan terpaksa, ia bangun dari duduknya dan bergegas membukakan pintu.
"Hai, Gerald .." sapa wanita itu membuat Gerald segera memalingkan pandangannya.
"Iya, ada apa?" tanya Gerald datar.
Susi memberikan nampan berisi makanan dan juga segelas air putih pada Gerald.
"Ini makanan baru untukmu. Tadi kau makan hanya sedikit. Kenapa langsung pergi?"
Gerald memandang Susi dengan tatapan sedikit tajam. Bisa-bisa nya wanita itu bertanya seperti orang yang tidak merasa bersalah.
"Susi, kau tahu kan aku itu teman Arka, suamimu. Dan aku mohon dengan sangat padamu, tolong jangan melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya kau lakukan sebagai seorang istri. Kau ini istrinya Arka, dan Arka adalah suamimu, Arka adalah temanku. Dia orang yang baik, tolong jangan kecewakan dia dengan cara melibatkan aku!" ucap Gerald dengan tegas.
__ADS_1
"Iya, Gerald. Maaf. Aku harap dengan kejadian tadi tidak membuatmu untuk pergi dari sini. Kau bilang Arka orang baik bukan? Oleh karena itu, kau harus menghargai tawaran nya untuk tinggal di sini. Jangan kecewakan dia juga dengan cara kau memutuskan untuk pergi dari sini tiba-tiba tanpa bisa memberi alasan." balas Susi.
Gerald benar-benar di buat bungkam oleh kalimat ucapan Susi. Sekarang ia jadi buah simalakama. Apa yang di katakan oleh Susi ada benarnya juga, tapi jika ia tetap bertahan di rumah itu, maka sudah bisa di pastikan akan ada hal lain berikutnya. Tapi sebisa mungkin ia harus bisa menahan diri.
"Ini makanannya. Di makan, ya."
Gerald pun menerima nampan tersebut.
"Jangan dulu masuk, ya. Aku ambilkan selimut dan pakaian mu yang sudah aku cuci." pinta Susi kemudian melipir pergi dari hadapan Gerald.
Gerald tidak habis pikir dengan wanita itu. Bisa-bisa nya dia bersikap tenang dan santai bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Ini selimutnya, dan ini pakaianmu."
"Terima kasih," ucap Gerald seraya menerima selimut dan pakaian yang Susi berikan padanya.
Sebelumnya ia sudah menaruh nampan berisi makanan itu ke atas nakas selama Susi mengambilkan selimut dan pakaian tersebut.
Gerald hendak masuk kembali ke dalam kamar, namun Susi mencegah dirinya dengan menahan pintunya.
__ADS_1
"Aku mencuci pakaianmu dengan tangan, tidak aku masukan ke dalam mesin cuci," ujar wanita itu membuat Gerald bingung.
"Dan aku ..." Susi melanjutkan kalimatnya tapi di gantung.
"Jika tidak ada hal yang lebih penting, kembalilah ke kamarmu. Aku tidak ingin Arka salah paham jika dia melihatm di sini berlama-lama."
Gerald kembali akan menutup pintunya, tapi lagi-lagi di tahan oleh Susi.
"Dan aku jadi tahu ukuran celana dallam mu. Ternyata memang .. "
Susi selangkah lebih dekat dengan Gerald, ia membisikan sesuatu pada pria itu.
"Big size." Susi mengucapkannya dengan lirih dan lembut dengan nada sensual yang sangat kental.
Gerald sampai bergidik dan merasakan sekujur tubuhnya geli. Susi mengerlingkan sebelah matanya sebelum kemudian pergi meninggalkan Gerald yang di semulit kebingungan.
Gerald bergidik geli, biasa-biasanya Arka memiliki istri seperti Susi.
_Bersambung_
__ADS_1