
Pagi ini Gerald dan Arka harus mengecek tanah yang lokasi pembangunan pusat perbelanjaan. Dan tanahnya cukup luas serta tempatnya strategis.
"Untuk menyelesaikan pembangunan pusat perbelanjaan setinggi sepuluh lantai dalam tiga bulan, kita membutuhkan banyak pekerja. Kira-kira menurutmu, berapa orang yang kita butuhkan untuk menyelesaikan pembangunan ini, Rald?" Arka menoleh pada Gerald yang berdiri di sampingnya, pria itu tampak fokus memandang lurus ke depan.
"Jika lima puluh orang, bagaimana?" Gerald memberikan sebuah pendapat.
"Apa itu tidak kebanyakan?"
"Menurutku itu cukup. Sebab sepuluh lantai dan kita hanya di beri waktu tiga bulan saja."
Arka tampak berpikir sejenak sebelum kemudian mengangguk setuju.
"Tapi kita harus menyesuaikan juga dengan dana yang ada."
"Untuk masalah dana, tuan Herlain sudah bahas di meeting kemarin, Ka. Berapapun akan di beri asalkan di pergunakan untuk yang semestinya. Yang terpenting, dalam waktu kurun tiga bulan big project ini harus sudah selesai."
Arka mengangguk-anggukan kepala nya.
"Iya, Rald. Kau benar. Sekarang kita butuh satu orang untuk mencari para pekerja lain dan juga bahan untuk pembangunan nya. Lebih cepat lebih baik."
"Kalau kita serahkan lagi pada Kunal, bagaimana? Project sebelumnya juga berjalan dengan lancar bukan?"
"Iya, Rald. Sekarang kita ke rumah Kunal. Untuk memastikan apakah dia bersedia untuk bergabung dengan kita atau tidak."
"Iya, Ka."
Gerald dan Arka kembali menuju mobilnya yang terparkir seratus meter dari tempat berdirinya saat ini. Mereka harus segera menemui Kunal yang akan membantu mereka dalam hal ini.
Sementara di rumah, Susi tengah membereskan tempat tidur Gerald. Wanita itu memeluk selimut yang semalam di pakai oleh Gerald. Sesekali ia menghirup aroma selimut tersebut.
"Hmm .. Wangi sekali ..." ucap wanita itu.
Hal tersebut membuat Susi berimajinasi, membayangkan jika yang ia peluk saat ini buka selimut, melainkan Gerald.
Ia menjadikan selimut beraroma tubuh Gerald sebagai fantasi. Kedua mata Susi terpejam, ia menggigit bibirnya bagian bawahnya dan sesekali tangannya merremmas selimut tersebut.
__ADS_1
"Ahh .. Mmhh ..."
Susi membayangkan jika Gerald tengah menjelajahi tubuhnya. Tangannya kini sudah liat mengguliri area permukaan kulit tubuhnya sendiri. Hingga ia memutuskan untuk melakukannya dengan tangan dan jarinya sendiri.
Suara ketika pintu depan membuat Susi tersadar. Ia hampir menuju puncak permainan dirinya sendiri. Namun kedatangan seseorang mengganggu waktu asiknya. Terpaksa ia menyudahi permainan tersebut dan mengelap jemarinya yang basah pada sprei hitam tempat tidur itu.
Ia bergegas pergi menuju pintu depan.
"Pakeettt ..." teriak seseorang seraya mengetuk pintu rumah alamat tujuan.
"Iya, sebentar!" seru Susi dengan nada yang terdengar sedikit kesal.
Begitu pintunya di buka, ia di buat tercengang oleh sosok kurir yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Hemy?!"
"Susi?" ucap mereka hampir bersamaan.
"Kau-" tunjuk Susi dan menggantung kalimatnya.
"Kenapa, Sus? Kaget ya aku sekarang jadi kurir? Aku berterima kasih dengan profesi aku sebagai kurir lantaran telah mempertemukan kita kembali," ujar pria yang di sebut Hemy itu.
"Ini paket mu." Hemy memberikan barang yang terbungkus plastik hitam itu pada Susi.
"Aku tidak sengaja baca nama barangnya. Itu pakaian dinas malam istri kan?"
"Iya, kenapa memangnya?"
Pria itu tampak menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
"Aku dengar kau sudah menikah. Tapi aku tidak yakin jika pakaian itu bukan untuk dinas malam dengan statusmu sebagai istri."
"Apa maksudmu?"
"Susi .. Susi! Aku mengenalmu sejak lama. Aku tahu apa isi dalam kepalamu. Siapa pria yang sedang kau incar, hah?"
__ADS_1
"Bukan urusanmu!"
Lagi-lagi Hemy menyunggingkan sudut bibirnya.
"Aku pikir setelah menikah kau akan berubah, tapi ternyata masih masih seperti Susi yang dulu. Kalau begitu, bagaimana jika pakaian dinas itu untuk melayani aku saja?"
Susi berdecih. "Kau pikir aku mau?"
"Kau tidak pernah menolak permintaan ku."
"Tapi tidak untuk sekarang. Ada yang lebih menarik dari pada kau, Hemy."
"Siapa beri tahu aku!"
"Tidak akan aku kasih tahu pada siapapun."
"Termasuk suamimu?"
Susi memutar kedua bola matanya malas meladeni pria itu.
"Kasihan ya suamimu. Dia memiliki istri yang selalu penasaran dengan pria lain."
"Jaga bicara mu, Hemy. Lebih baik kau pergi dan jangan pernah datang lagi ke sini!" usir Susi merasa kesal.
"Jangan marah-marah dong, Susi. Kau lupa bagaimana kau dulu mengejar-ngejar diriku hanya sebuah rasa penasaran. Bagaimana, masih ketagihan sampai sekarang?"
"No!"
"Benarkah?"
"Ya."
"Owh, baiklah. Kalau begitu selamat menjalankan dinas kebiasaan mu, Susi. Aku peringatkan untuk berhati-hati, aku khawatir setelah itu kau akan menjadi janda. See you, baby." Hemy menyosor mencium bibir Susi sebelum kemudian ia pergi.
"Kurang ajar! Hemyy ...!!!" teriak Susi pada pria yang berjalan mundur meninggalkan nya dan memberi acungan jari tengah.
__ADS_1
Ia menyeka bibir bekas ciuman Hemy. Sebab perasaan ia untuk pria itu sudah berubah dan tentu saja sudah tidak ada naffsu.
_Bersambung_