
Tiga bulan berikutnya, big project pembangunan pusat perbelanjaan dengan tinggi sepuluh lantai pun selesai. Klien sangat puas dan sangat senang bisa bekerja sama dengan perusahaan milik tuan Herlain. Begitu juga dengan tuan Herlain yang merasa bangga memiliki dua orang kepercayaan nya, yakni Arka dan Gerald. Oleh karena itu dia memberikan bonus yang sangat besar. Masing-masing mendapatkan bonus senilai seratus juta rupiah.
"Terima kasih banyak, tuan. Terima kasih banyak atas bonus yang kau berikan," ucap Gerald dan Arka hampir bersamaan.
"Iya, sama-sama. Saya juga sangat berterima kasih sekali pada kalian karena sudah melakukan tugas big project ini dengan sangat baik."
"Kami pasti akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini, tuan. Semoga tuan tetap mempercayai kami," ucap Arka.
"Iya, semoga kami bisa menyelesaikan project-project berikutnya. Dan yang pastinya, ada Kunal juga yang membantu kita menyelesaikan semua ini. Jadi, kita harus berterima kasih juga padanya," tambah Gerald.
"Kalau begitu sampaikan rasa terima kasih saya padanya. Nanti saya akan kasih dia bonus juga. Tapi tidak sebesar bonus kalian."
"Baik, tuan. Nanti kami akan sampaikan rasa terima kasih tuan pada Kunal." jawab Gerald.
"Arka," panggil tuan Herlain.
"Ya, tuan."
"Nanti bonus untuk siapa tadi?"
"Kunal, tuan."
"Ah iya, Kunal. Nanti bonus untuk dia saya transfer ke rekening kau dulu. Nanti kau bisa transfer ke rekening nya."
"Baik, tuan."
"Ya sudah, kalau begitu kalian boleh pulang. Kalian pasti sangat lelah hari ini bukan?"
__ADS_1
Gerald dan Arka mengangguk.
"Baik, tuan. Sekali lagi, terima kasih atas bonusnya," ucap Gerald.
"Terima kasih bonusnya, tuan," ucap Arka.
"Iya, sama-sama."
"Kami pamit pulang, tuan. Permisi."
"Ya, silahkan!" Tuan Herlain memeragakan tangannya mempersilahkan mereka untuk pulang.
Setelah Arka dan Gerald keluar dari ruangannya, tuan Herlain menghela napas lega. Lantaran big project yang sebelumnya ia khawatirkan tidak akan selesai selama waktu tempo yang sudah di tentukan ternyata berhasil di selesaikan. Ia merasa bersyukur sekali memiliki dua orang kepercayaan yang kompak dalam bekerja sama menuntaskan pekerjaan dengan baik.
"Kita ke rumah Kunal dulu ya, Rald," pinta Arka saat mereka sudah dalam perjalanan.
Di pertigaan depan sana Gerald mengambil jalan yang belok ke kiri, itu jalan alternatif menuju rumah Kunal. Jalan yang biasa mereka lewati jika pergi ke rumah pria itu.
Namun, Gerald terpaksa menghentikan mobilnya begitu melihat banyak sekali warga yang berkerumun. Sehingga membuat kemacetan kendaraan lainnya.
"Ka, itu ada apa ya?" tanya Gerald sembari melihat ke arah kerumunan warga di dekat jembatan.
"Aku juga tidak tahu, Rald," sahut Arka.
"Apa ada kecelakaan, ya?" tebak Gerald.
"Sepertinya bukan, Rald. Aku rasa ada orang yang bunuh diri di jembatan itu."
__ADS_1
"Hih .. Jadi ngeri, ya. Masih ada juga orang yang nekad bunuh diri di jaman sekarang."
"Iya kan kita tidak tahu apa alasan orang itu bunuh diri. Putus asa adalah satu-satunya alasan kenapa seseorang bunuh diri."
"Mau mendoakan semoga dia di terima di sisi-Nya, tapi cara meninggal nya juga sangat di larang. Jadi doakan supaya dia selamat saja deh. Jangan sampai meninggal," ujar Gerald.
"Yang namanya bunuh diri itu pasti akan meninggal, Rald."
"Tapi kan belum tentu juga, Ka. Ada juga orang yang selamat ketika melakukan percobaan bunuh diri."
"Pengalaman, ya?"
"Enak saja, banyak berita di media sosial. Tapi belum tentu juga itu orang bunuh diri. Kenapa kita yang jadi debat?"
"Bagaimana kalau kita turun dulu sebentar? Untuk memastikan apa yang terjadi," tawar Arka.
"Ini sudah sore, Ka. Rencananya hari ini aku mau langsung pulang juga ke rumah."
"Owh, ya sudah."
Gerald dan Arka akhirnya memutuskan untuk menunggu jalanan lenggang. Namun, kedua mata Arka tiba-tiba jatuh pada wanita berhijab dan berdiri di dekat pagar pembatas jembatan. Wanita itu tidak asing baginya.
"Rald, Rald. Ada Wina, Rald."
"Hm, Wina? Mana?" Gerald mengikuti arah telunjuk Arka, dan benar saja, wanita itu adalah Wina. Tapi sedang apa Wina di sana?
_Bersambung_
__ADS_1