
Pagi-pagi sekali Gerald datang ke rumah Arka. Ia enggan untuk keluar mobil lantaran malas jika harus bertemu dengan ular betina. Lebih baik ia menunggu di mobil saja sampai Arka keluar rumah.
Tapi sudah lima menit ia menunggu, Arka belum juga keluar rumah. Ada baiknya ia baru tahu Arka lewat panggilan telepon saja.
Gerald merogoh benda pipih di balik saku kemeja hitam nya. Mendial nomer Arka dan menempelkan ponsel tersebut ke daun telinga.
Dari dalam rumah, Arka sudah tampak rapi. Ia melihat pantulan wajahnya usai menyisir rambut. Perhatian nya seketika beralih pada ponsel yang tergeletak di atas meja rias di hadapan nya. Layar ponsel nya mengeluarkan nama Gerald di sana.
"Halo, Rald. Sudah sampai mana?"
"Iya, Ka. Ini aku sudah sampai depan rumahmu sejak lima menit lalu."
"Serius?"
"Iya, Ka."
"Kenapa tidak langsung ketuk pintu saja?"
"Ini masih terlalu pagi, Ka. Aku khawatir mengganggu."
"Gerald .. Gerald! Kau ini seperti sama siapa saja. Aku sudah bangun sejak dua puluh menit lalu, aku juga sekarang sudah siap."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kau keluar sekarang, ya. Aku tunggu."
"Ok."
Sambungan telepon pun di matikan. Gerald berharap Arka segera keluar rumah kemudian mereka segera pergi dari sana sebelum ular betina itu menampakkan diri.
"Sayang, sarapannya sudah siap. Ayo sarapan dulu!" ajak Susi yang baru saja masuk ke kamar.
"Iya, sayang. Tapi Gerald sudah menunggu di depan rumah."
"Owh ada Gerald?" tanya Susi dan wajahnya berubah seperti orang senang.
Arka mengangguk membenarkan.
"Tidak, kau harus sarapan dulu. Sejak kapan kau pergi tanpa sarapan?"
"Tapi, sayang. Aku memang harus pergi lebih awal dari biasanya untuk hari ini."
"Tidak bisa! Sekarang panggil temanmu dan ajak sarapan dulu. Jika tidak, aku tidak akan mengizinkan mu pergi," ancam wanita itu.
Arka menghela napas dan menghembuskan nya secara perlahan.
__ADS_1
"Ok. Kalau begitu kau saja yang panggil Gerald, ya. Aku mau ke kamar mandi sebentar. Perutku mendadak sakit."
"Serius aku yang panggil dia?"
Arka mengangguk sekali melihat perubahan ekspresi istrinya yang tampak bahagia.
"Iya. Bujuk dia untuk sarapan dulu. Aku ke kamar mandi sebentar, ya. Mungkin sedikit lama, perutku tiba-tiba saja mules."
"Ok, sayang." Susi membentuk hurup ok menggunakan ibu jari dan telunjuknya.
Setelah itu Susi bergegas keluar kamar guna memanggil Gerald yang katanya sudah ada di depan rumah.
Sementara Arka mematung di tempat, ia merasa ada yang aneh dari istrinya. Sepertinya misi penyelidikan nya harus segera di mulai. Semua ini memang tujuan yang ia rancang dari awal. Bukan maksud untuk menjebak Gerald, hanya saja ia ingin tahu dan membuktikan apa yang di katakan oleh kurir itu benar adanya atau tidak.
"Maaf, sayang. Aku bukannya tidak percaya denganmu. Hanya saja aku ingin tahu yang sebenarnya." ucap Arka dalam hati.
Arka perlahan melangkah keluar kamar. Ia ingin tahu bagaimana sikap istrinya pada Arka ketika ia sedang tidak ada. Meski ia sedikit ragu, ia harus tahu kebenarannya. Ia harus menguatkan mental jika apa yang ia takut dan khawatirkan benar terjadi.
"Aku masih berharap jika apa yang di katakan oleh kurir itu tidaklah benar. Tapi apapun yang terjadi nanti, aku harus siap."
Arka berusaha meyakinkan diri untuk melihat apa yang akan terjadi di depan matanya nanti.
__ADS_1
_Bersambung_
Follow aku author ya❣️