
Gerald sesekali menoleh ke arah Arka yang duduk di sampingnya. Pria itu tampak kacau sekali. Bagaimana tidak, dia baru saja memegoki istrinya yang mencoba mengkhianati dirinya. Beruntung Arka percaya dengannya. Padahal ia sudah sangat panik sekali tadi, ia khawatir jika Arka akan salah paham.
"Ka-" Gerald hendak memulai pembicaraan, namun segera di hentikan oleh Arka menggunakan tangan sebagai tanda stop.
"Jangan bahas itu dulu, Rald. Aku sedang tidak ingin mendengar nya," pinta pria itu tanpa melihat ke arah Gerald.
Gerald mengangguk paham. "Baik, Ka."
Gerald tahu seberapa hancur hati Arka sekarang. Ia pernah ada di posisi pria itu. Di khianati pasangan dan ia tahu seberapa besar sakitnya. Apalagi Arka di khianati oleh pasangan yang sudah menikah dengannya.
Ia membiarkan Arka dengan tidak mengajak pria itu bicara dulu. Ia fokus menyetir dan melihat ke jalanan menuju lokasi pembangunan.
***
Hari pertama pembangunan berjalan dengan lancar. Beruntung Gerald tidak telat datang ke lokasi, lantaran tuan Herlain pun ikut datang.
Tepat jam lima sore Gerald sampai di kontrakan. Arka ikut dengannya karena ia tahu Arka tidak mungkin pulang ke rumah hari ini. Selain itu ia juga khawatir jika nanti akan ada perdebatan yang bisa saja menciptakan kejadian buruk. Ia tidak ingin hal itu sampai terjadi.
Arka duduk kursi ruang tamu. Pria itu kembali diam, tatapan nya kosong. Gerald salut juga dengan Arka, pria itu mampu menyesuaikan diri mana pekerjaan dan mana masalah pribadi. Di lokasi pembangunan tadi, pria itu terlihat baik-baik saja seperti orang yang tidak memiliki masalah. Namun di luar pekerjaan, dia kembali pada masalah pribadi nya.
__ADS_1
"Ka, kau belum makan sejak pagi. Aku pesankan makan, ya," tawar Gerald.
"Aku tidak lapar, Rald. Terima kasih," tolak pria itu.
"Ini bukan soal lapar atau tidak, Ka. Perutmu harus tetap di sini. Jika kau tidak makan, kesehatanmu akan terganggu. Ingat, kita harus mengurus big project itu sampai selesai."
Arka bergeming. Pria itu diam tak merespon. Gerald jadi bingung, apa yang harus ia lakukan agar Arka bisa melupakan masalah nya meski untuk sejenak.
"Ah iya, Ka. Tuan Herlain tadi bicara apa pada Kunal?" Gerald berusaha menyita perhatian Arka agar pria itu lupa dengan masalah pribadinya.
"Bicara apa?" Arka balik bertanya.
"Aku tidak tahu, makanya aku bertanya padamu. Aku kira kau tahu. Tadi aku lihat tuan Herlain menghampiri Kunal, mereka tampak bicara sesuatu. Kira-kira apa yang mereka bicarakan ya?"
"Bagaimana jika kau telepon Kunal saja? Tanyakan padanya langsung apa yang di katakan oleh tuan Herlain padanya."
"Untuk apa? Biarkan saja, itu masalah dia dengan tuan Herlain. Kita tidak perlu cari tahu. Lagipula itu tidak jauh dengan masalah pembangunan."
Gerald menghela napas. Niat ia ingin membuat Arka lupa dengan masalah pribadinya gagal.
__ADS_1
"Ka .. " panggil Gerald kemudian, lirih namun terdengar sangat serius.
"Hm," jawab pria itu.
"Aku minta maaf, ya."
"Untuk?"
"Gara-gara aku tinggal di rumahmu, rumah tanggamu jadi hancur berantakan." Gerald jadi merasa bersalah atas itu.
"Ini bukan salahmu, aku sudah dengar percakapan kalian tadi."
"Jadi, kau benar-benar percaya padaku?"
Arka menoleh dan melihat Gerald untuk seperkian detik. Sebelum kemudian tatapannya kembali kosong.
"Aku ingin bicara jujur denganmu, Ka. Aku tidak ingin ada hal lain lagi yang ku sembunyikan darimu."
Seketika Arka kembali menoleh. Ia menatap Gerald dengan sejuta pertanyaan serta rasa penasaran yang tinggi. Apa yang mau Gerald sampaikan padanya.
__ADS_1
"Apa?" Arka sudah tidak sabar mendengar sebuah kejujuran apa dari Gerald.
_Bersambung_