
Arka menghampiri istrinya di kamar. Namun, ia mendapati wanita itu tengah marah-marah. Entah apa yang membuatnya marah begitu.
"Sayang, kau kenapa?" seru Arka.
Susi menoleh dan tampak sedikit panik. Wanita itu berusaha untuk menetralisir ekspresi dan kembali terlihat biasa saja.
"A-aku .. Aku baik-baik saja, sayang." Susi mengulas senyum tipis guna menyakinkan Arka jika ia memang baik-baik saja.
"Really?"
"Yes. Kalau begitu, aku mau mandi dulu, ya. Soalnya aku belum mandi pagi, ini."
Susi melipir pergi dan menarik handuk yang ia kaitkan di gantungan belakang pintu. Arka merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya.
"Perasaan tadi dia sudah mandi. Tapi kenapa dia bilang belum mandi? Ada masalah apa sebenarnya pada dia?"
Arka terdiam untuk beberapa saat. Akhir-akhir ini istrinya memang selalu membuatnya merasa aneh.
Suara pintu yang di ketuk oleh seseorang menarik paksa Arka keluar dari segala pemikiran nya. Ia bergegas pergi keluar kamar guna membukakan pintu.
"Pakeeeet .." teriak seorang kurir.
"Iya," jawab Arka.
"Suaminya Susi?" tanya kurir itu.
Arka mengangguk membenarkan. "Iya, aku suaminya. Itu paket istriku?"
"Iya."
__ADS_1
"Paket COD?"
"Non COD."
"Owh, baik." Arka menerima paket tersebut dari tangan sang kurir.
"Susi nya kemana, ya?"
Arka menatap kurir itu dengan tatapan sedikit bingung. Kenapa kedengarannya seperti akrab.
"Maaf, kenal istriku secara pribadi?" tanya Arka memastikan.
"Tentu saja," jawab kurir tersebut.
"Kenal dimana? Sejak kapan?"
"Maaf, apa kau mantan pacarnya?" tanya Arka lagi penasaran.
Kurir tersebut menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
"Tidak pernah jadian, tapi pernah kejadian."
Arka mencoba untuk mencerna baik-baik maksud ucapan pria itu. Sampai akhirnya ia paham dengan maksud ucapan nya dan ia sedikit terkejut. Tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak percaya begitu saja.
"Maaf, apapun itu tapi itu masalalu kalian. Yang aku tahu Susi adalah wanita baik-baik, jadi tidak mungkin dia seperti yang kau katakan barusan."
"Kau tidak percaya denganku?"
"Tentu saja."
__ADS_1
"Baiklah. Tidak apa-apa. Sekarang kau bisa cek barang paket tersebut. Tidak perlu di buka, cukup baca di kertas nya saja."
Arka awalnya tidak perduli dengan perintah kurir tersebut, tapi ia penasaran juga. Dan ia tidak mengerti kenapa kurir tersebut memintanya untuk membaca nama barang paket tersebut.
"Pakaian dinas malam istri," baca Arka dalam hati.
"Sudah di baca?" tanya kurir itu.
Arka diam tak merespon.
"Ini paket Susi yang kedua kalinya dengan barang yang sama."
"Lalu apa hubungannya denganmu?"
"Asal kau tahu, Susi senang dengan pakaian seperti ini karena ada maksud dan tujuan tertentu di baliknya. Sebelum dia benar-benar jadi istri, dia menyukai pakaian seperti itu sebagai senjata untuk menggoda seseorang yang sedang ia suka. Aku rasa dia sedang mengincar seseorang untuk memenuhi rasa penasaran nya."
"Jaga bicaramu! Susi bukan wanita seperti itu!" seru Arka menegaskan.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, aku hanya kasihan saja padamu. Kau suami Susi tapi kau tidak tahu seperti apa karakter dia."
"Pergi dari sini sekarang juga dan jangan pernah lagi menampakkan diri di sini!" usir Arka, ia tentu saja marah ketika ada orang yang berusaha menjelekkan istrinya.
"Okay." Kurir itupun pergi.
Arka menarik napas dalam-dalam berusaha mengontrol dirinya. Sepagi ini ia sudah di buat emosi oleh kedatangan kurir yang mengaku pernah berhubungan dengan istrinya.
Arka melihat kembali paket tersebut. Membaca ulang nama barang yang tercantum di kertas. Ia yakin jika istrinya tidak seperti yang kurir itu katakan. Kurir itu pasti mengarang cerita. Bisa jadi kurir itu masalalu Susi yang di tolak cintanya. Oleh karena itu dia berusaha untuk menghancurkan rumah tangganya. Susi membeli pakaian seperti itu karena dia sekarang sudah menjadi istrinya.
_Bersambung_
__ADS_1