
Tanpa aba-aba Susi menyosor mencium bibir Gerald. Di kejauhan Arka sontak emosi melihatnya. Amarahnya seketika memuncak melihat apa yang saat ini ada di depan mata.
"Susiiii ..!!!" teriak Arka.
Gerald dengan cepat mendorong tubuh wanita itu hinggar terjatuh ke belakang. Ia di buat panik lantaran Arka memergoki hal yang ia khawatirkan Arka akan salah paham dengan itu.
Susi sendiri tentunya terkejut begitu Arka memergoki dirinya tengah mencium Gerald. Ia harus segera melakukan pembelaan diri.
Kedua mata Arka memerah menahan amarah. Sorot matanya begitu tajam.
"Ka, Ka. Tolong jangan salah paham, Ka. Ini tidak seperti yang kau lihat. Aku mohon dengarkan penjelasan aku!" Gerald berusaha memberi penjelasan agar Arka tidak salah paham.
"Sayang, Gerald mencoba mengkhianatimu. Dia memaksaku untuk berhubungan dengannya di belakangmu, sayang." Susi berusaha membela diri.
"Ka, tolong percaya padaku. Ini tidak seperti yang kau lihat, Ka. Aku mohon, percaya padaku, Ka."
Suasana tampak tegang sekali. Sedari tadi Arka diam, dia seperti orang yang tengah menyimpan bom waktu. Menyimpan amarahnya dan akan meledak sewaktu-waktu.
"Ka-" Gerald mencoba untuk memberi penjelasan lagi, namun Arka menghentikannya.
Pria itu beralih menatap ke arah Susi dengan tatapan penuh amarah.
"Sayang-"
Plaakkk ...
__ADS_1
Sebuah tamparan mulus mendarat tepat di pipi wanita itu. Arka bukan tipe pria yang kasar, tapi jika sudah begini, ia pun sama seperti manusia lainnya yang memiliki amarah.
Suasana berubah hening. Gerald tidak menyangka jika teman nya sanggup melakukan hal itu. Sudut bibir Susi mengeluarkan setetes darah segar.
Kini tatapan Arka beralih pada Gerald. Gerald meneguk ludahnya mentah-mentah. Ia tidak pernah melihat Arka semarah ini sebelumnya.
"Ka .. "
"Aku sengaja memintamu untuk datang ke sini pagi-pagi dengan alasan motorku tidak bisa jalan, Rald. Aku juga sengaja meminta dia untuk mengajakmu sarapan bersama sementara aku sakit perut dan akan lama di kamar mandi. Itu semua sudah aku rancang untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan tidak aku ketahui," ucap Arka dengan bibir sedikit bergetar.
"Jadi maksudmu-"
"Iya, Rald. Ini semua sudah aku rancang dengan tujuan untuk mengetahui seperti apa sifat asli dia," tunjuk Arka ke arah Susi.
"Justru aku terlalu percaya padamu. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Tapi aku sangat berterimakasih pada kurir yang mengantar paketnya kemarin. Dia menceritakan seperti apa kau sebenarnya. Bahkan dia juga mengatakan jika dia pernah berhubungan denganmu."
Susi bungkam. Ia yakin jika kurir yang suaminya maksud adalah Hemy.
"Sebelum itu, aku juga sudah merasa sangat aneh dengan sikapmu. Semenjak kedatangan Gerald di rumah kita, kau berubah aneh. Kau terlihat seperti orang yang sedang mencari perhatian lebih. Dan ternyata memang benar. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan itu."
"Sayang-"
"Mulai hari ini kau bukan lagi istriku. Kau .." Arka menunjuk Susi tepat di depan wajah. "Aku talak," imbuh pria itu membuat Susi sangat shock mendengar nya.
Susi menggeleng kuat. Ia benar-benar tidak terima jika Arka menceraikannya.
__ADS_1
"Tidak, tidak. Tolong tarik lagi ucapanmu. Kau salah paham, sayang. Bukan aku yang mengawali tapi Gerald!"
"Stop menyalahkan temanku." sergah Arka membuat tubuh Susi tersentak kaget.
"Arka, sayang-"
"Ayo, Rald. Kita pergi dari sini." ajak Arka pada Gerald.
"Iya, Ka."
Arka masuk ke dalam mobil Gerald. Ia sama sekali tidak memperdulikan Susi yang berusaha menahannya.
"Sayang, sayang. Tolong dengarkan penjelasanku dulu, sayang. Kau keliru, sayang. Bukan aku, tapi Gerald. Aku mohon tarik kembali ucapanmu. Arka, sayang ..."
Duh dug dug dug ..
Susi menggedor-gedor kaca pintu mobil berharap Arka mau keluar dan memberinya kesempatan untuk bicara. Akan tetapi, Gerald menghidupkan mesin mobilnya dan mobil pun melesat dari sana.
Susi mencoba untuk mengejar mobil tersebut.
"Arkaaaa ... Sayang ... Dengarkan penjelasanku, Arka ... Arkaaaaa ..."
Teriakan Susi melengking sampai terdengar ke langit sangat cakrawala.
_Bersambung_
__ADS_1