
Arka dan Gerald tengah makan siang di sebuah restoran. Keduanya tampak merasa lega lantaran sudah menemui Kunal dan pria itu siap untuk di ajak kerja sama kembali.
"Nanti kita tinggal minta transfer dana nya kepada tuan Herlain. Separuhnya kita berikan ke Kunal untuk bahan pembangunan. Separuhnya lagi kita pegang dulu. Jika ada kekurangan bahan pembangunan, maka kita berikan lagi yang separuhnya. Atau jika masih kurang, kita bisa minta dana tambahan lagi pada tuan Herlain. Itu hanya untuk bahan pembangunan nya saja, belum untuk dana yang akan di bayarkan pada tenaga kerja." kata Gerald di sela-sela suapan makan nya.
"Iya, Rald. Aku setuju denganmu," sahut Arka.
"Kita beri tahu tuan Herlain lewat telepon atau secara langsung, Ka?"
"Sebaiknya secara langsung saja, agar lebih enak kita ngobrolnya."
"Ok, nanti kau yang ajak tuan Herlain untuk ketemuan di suatu tempat."
"Iya, nanti kita ajak ketemuan di kafe yang lokasinya tidak jauh dari gedung kantor. Bagaimana?"
"Iya, aku ikut saja apa katamu." jawab Gerald setuju.
Keduanya kembali fokus melanjutkan makan siangnya tanpa ada obrolan lagi.
***
Waktu sudah jam enam sore, akan tetapi Arka dan Gerald belum pulang juga. Sudah hampir setengah jam Susi mondar-mandir bolak-balik layaknya setrikaan menunggu sang suami pulang, lebih tepatnya menunggu Gerald. Tapi kedua pria itu belum juga datang.
__ADS_1
Begitu suara mobil terdengar memasuki halaman rumah, Susi bergegas bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu untuk menyambut kepulangan mereka.
Senyum di bibir wanita itu mengembang dengan sangat sempurna, sebab orang yang ia tunggu datang juga.
"Hai, sayang ..." sapa Susi seraya merentangkan kedua tangan nya menyambut Arka ke dalam pelukan.
"Halo, sayang ..." Arka memeluk istrinya dan memberi sebuah kecupan singkat di kening.
Perhatian Arka seketika tersita pada pakaian istrinya yang tampak terbuka sekali. Ia melihat ke arah Gerald yang berdiri tidak jauh dari nya dengan wajah tertunduk.
"Sayang, kau beli pakaian baru?" tanya Arka dengan nada pelan.
"Iya, sayang. Bagus kan?"
"Iya, bagus. Hanya saja, kau memakai nya di waktu yang tidak tepat."
"Tidak tepat bagaimana maksudnya?"
"Sayang, ini kan masih sore. Lagipula sekarang di rumah kan ada Gerald, aku jadi tidak enak dengannya."
"Sayang .. Ini kan rumah kita, aku bebas dong mau melakukan apapun."
__ADS_1
"Yes, i know, baby. Tapi sekarang di rumah kita ada Gerald. So, please. Jangan pakai pakaian yang terbuka seperti ini di. Okay!?"
"Tapi, sayang-"
"Ini demi menjaga keutuhan rumah tangga kita juga, sayang. Please, listen to me!"
Susi mengerucut kan bibirnya. Ia pergi begitu saja dengan membawa perasaan kesal. Rencana membuat Gerald tertarik dengannya gagal. Arka terlalu mengomentari penampilan nya.
"Sayang ... Sayaaang ..." panggil Arka setengah berteriak, namun wanita itu tetap pergi masuk ke dalam rumah.
Arka menghembuskan napas pelan. Ia bersikap demikian semata untuk menjaga pandangan Gerald terhadap istrinya. Ia yakin Gerald pun akan tidak nyaman jika Susi berpenampilan seperti barusan. Tapi mungkin Susi yang tidak paham akan maksud ucapannya.
Ia menoleh ke arah Gerald, pria itu tampak membuang wajah agar tidak sampai melihat keberadaan Susi dengan penampilan seperti itu. Ia jadi tidak enak dengan Gerald.
"Rald, ayo masuk!" ajaknya kemudian.
Gerald menoleh kemudian mengangguk. "Iya, Ka."
Arka berjalan lebih dulu dan Gerald mengikuti langkah pria itu dari belakang.
_Bersambung_
__ADS_1