GAIRAH ISTRI TEMANKU

GAIRAH ISTRI TEMANKU
Menyerah Sebelum Berjuang


__ADS_3

Hari jum'at pun tiba. Gerald sengaja mengajak Arka ke tempat laundry lantaran sebelumnya ia sudah ceritakan tentang Wina padanya. Tentu saja Arka mendukung penuh keinginan temannya itu untuk bisa lebih dekat lagi dengan wanita pujaannya.


"Berarti dia wanita yang hebat, Rald. Setelah sekian lama kau menutup rapat-rapat hatimu, dengan mudah dia membuka hatimu untuk bisa jatuh cinta lagi." tanya Arka pada pria yang sedari tadi fokus menyetir.


Gerald mengulas senyum sipu. Ia benar-benar seperti orang yang sedang kasmaran. Padahal ia baru ketemu Wina sekali, itupun secara tidak sengaja.


"Tapi kau yakin jika dia belum memiliki pasangan, Rald?" tanya Arka lagi.


"Jika di lihat dari sikapnya, dari cara dia menjaga pandangan terhadap lawan jenis, aku rasa dia belum punya pasangan, Ka. Aku yakin Wina ini wanita baik-baik. Itulah kenapa aku bisa semudah itu tertarik dengannya."


"Aku dukung kau dengan Wina, Rald. Semoga saja di jodohmu."


"Aku juga berharap demikian, Ka."


"Aku jadi semakin penasaran, seperti apa Wina itu?" Arka membayangkan seperti apa wajah wanita yang begitu mudah membuka hati temannya itu.


"Janji jangan ikut jatuh hati, ya. Wina jatahku," ancam Gerald.


"Tenang saja, Rald. Aku bukan seseorang yang tega mengambil hak orang lain."


"Hahaha ..."


Keduanya tampak bercanda namun dengan obrolan yang serius. Gerald benar-benar ingin serius dengan wanita yang tidak sengaja ia temui di laundry itu.


"Ah ya, Ka. Bagaimana hubunganmu dengan Susi sekarang?" Gerald tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.


"Jika secara agama, kami sudah resmi berpisah, Rald. Tapi secara negara, masih proses."


"Semoga semua berjalan dengan lancar ya, Ka. Dan kau menemukan wanita yang jauh lebih baik lagi dari mantan istrimu."


"Aamiin .. "


Arka terlihat sedih sekarang. Bagaimanapun, Susi adalah wanita yang sangat ia cintai, sebelum kemudian ia mengetahui sikap asli wanita itu.

__ADS_1


"Kenapa, Ka? Apa aku salah bicara?" tanya Gerald memastikan.


Arka menggeleng. "Tidak, Rald. Aku tidak menyangka saja jika Susi ternyata setega itu padaku."


"Sudah lah, Ka. Tidak perlu kau pikirkan dia lagi. Perlahan kau harus bisa move on, meski semuanya tidak mudah."


"Iya, Rald. Tapi jujur, jika ditanya apa aku masih cinta dengan dia, maka jawabannya iya. Aku masih cinta dan sayang dengannya. Kebersamaan kami selama tujuh bulan ini menciptakan begitu banyak kenangan." Arka tersenyum getir.


"Lalu apa sekarang kalian masih tinggal bersama serumah?"


Arka menggeleng. "Tidak. Sejak pulang dari kontrakan mu hari itu, aku langsung minta dia buat kemas seluruh barang-barang dia untuk pergi dari rumahku."


"Dia sempat mengemis?"


"Tentu saja. Dia sampai bersimpuh di kaki aku, beruntung nya aku tidak sampai terpengaruh untuk kasihan padanya."


"Sekarang kau tahu dia dimana?"


Arka mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu, Rald. Mungkin dia pulang ke rumah peninggalan orang tuanya."


Obrolan mereka terhenti begitu mobil Gerald sudah sampai di depan laundry. Kedua mata Gerald tertuju pada wanita berhijab yang baru saja memasuki laundry tersebut.


"Ka, dia sudah ada di sini." kata Gerald seraya menunjuk ke arah Wina.


"Mana, Rald?" tanya Arka lantaran Wina sudah keburu masuk.


"Itu, Ka. Dia masuk."


"Ya sudah, kalau begitu cepat turun dan hampiri dia."


"Iya, Ka."


Gerald memarkirkan mobilnya dan bergegas turun dari mobil guna menghampiri wanita itu.

__ADS_1


"Yang, totalnya jadi berapa?"


"Tiga puluh enam ribu katanya. Biar aku saja yang bayar, ya."


Langkah Gerald seketika terhenti. Lututnya terasa lemas mendengar percakapan seorang wanita dan pria yang berdiri di sampingnya. Dari obrolan mereka, Gerald mengira jika pria itu adalah kekasih Wina.


Belum juga berjuang, tapi Gerald sudah memutuskan untuk mundur. Ia berpikir mungkin Wina bukan jodohnya.


"Rald, kenapa tadi kau malah berhenti. Kau bilang mau berkenalan lebih jauh dengan Wina?" tanya Arka melihat temannya kembali ke mobil dengan ekspresi wajah yang berubah.


"Dia sudah punya kekasih, Ka," jawab Gerald dengan nada bicara terdengar seperti orang lemas berpuasa.


"Serius, Rald?"


Gerald mengangguk.


"Tidak mungkin, Rald. Jika Wina wanita baik-baik seperti yang kau ceritakan, dia tidak mungkin punya kekasih. Mungkin dia sodaranya, adiknya, atau kakaknya."


"Aku dengar sendiri Wina bilang sayang sama pria yang berdiri di sampingnya, Ka."


"Yakin? Kau tidak salah dengar?"


Gerald mengangguk lagi. "Iya, Ka. Aku yakin Wina wanita baik-baik. Kalau pria itu bukan kekasihnya, itu berarti suaminya. Dia menatap pria itu tanpa menjaga pandangan seperti dia bertemu denganku. Mungkin Wina memang bukan jodohku."


"Kau yakin tidak mau memastikan dulu pria itu siapa?"


"Tidak perlu, Ka."


"Tapi, Rald."


"Sudahlah, Ka. Kita pergi saja dari sini."


Sebenarnya Arka masih ragu jika pria yang di katakan oleh Gerald itu suami atau pasangan Wina. Tapi ya sudahlah, mungkin memang benar jika wanita itu sudah menikah. Ia kasihan dengan Gerald yang sudah menaruh harapan lebih terhadap wanita itu.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2