GAIRAH ISTRI TEMANKU

GAIRAH ISTRI TEMANKU
Memergoki


__ADS_3

Arka perlahan melangkah keluar kamar. Ia ingin tahu bagaimana sikap istrinya pada Arka ketika ia sedang tidak ada. Meski ia sedikit ragu, ia harus tahu kebenarannya. Ia harus menguatkan mental jika apa yang ia takut dan khawatirkan benar terjadi.


"Aku masih berharap jika apa yang di katakan oleh kurir itu tidaklah benar. Tapi apapun yang terjadi nanti, aku harus siap."


Arka berusaha meyakinkan diri untuk melihat apa yang akan terjadi di depan matanya nanti.


Tok tok tok ..


Gerald membuka kedua matanya dan melihat siapa yang mengetik kaca pintu mobilnya. Ia pikir itu Arka, tapi ternyata yang datang adalah ular betina.


"Hai, Gerald ... Buka pintunya, ayo keluar!" pinta Susi sembari mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil pria itu.


Gerald membulatkan kedua matanya sempurna. Yang ia takut dan khawatirkan kini ada di depan mata. Ia memutuskan untuk diam, sedikitpun tidak menggubris wanita itu.


"Gerald .. Ayo turun. Kita sarapan dulu ..."


Tok tok tok ..


Gerald dengan cepat menghubungi Arka kembali. Meminta agar pria itu cepat datang. Namun, nomer telepon pria itu berubah tidak aktif. Entah apa yang terjadi dengan Arka. Ia khawatir terjadi sesuatu pada pria itu.


"Kenapa nomer Arka jadi tidak aktif? Dia bilang akan segera keluar. Tapi kenapa yang keluar istrinya."


Perasaan Gerald berubah tidak enak. Ia berpikir terlah terjadi sesuatu buruk pada temannya itu. Akhirnya ia putuskan untuk keluar dari mobil.


Susi mengembangkan senyum sempurna.


"Mana Arka? Kenapa bukan dia yang datang? Kau apakan dia, hm?" cecar Gerald.


"Kau bicara apa, Gerald?"

__ADS_1


"Jangan berpura-pura, sekarang cepat katakan padaku kemana Arka?! Apa kau melakukan sesuatu buruk padanya? Tadi Arka bilang dia mau keluar rumah secepatnya. Kenapa sekarang dia tidak ada dan kau yang datang?"


"Kau pikir aku wanita apa? Mana mungkin aku melakukan sesuatu buruk pada suamiki sendiri."


"Lalu kemana Arka sekarang?"


Susi menghela napas. Kenapa Gerald jadi berpikiran yang tidak-tidak padanya.


"Arka memintaku untuk mengajakmu sarapan bersama."


"Kenapa bukan dia yang mengajakku secara langsung? Kenapa harus kau?"


"Karena Arka tiba-tiba sakit perut dan sekarang dia sedang di kamar mandi."


Kedua mata Gerald memicing menatap ular betina di hadapannya. Ia rasa jika Susi tidak berbohong akan hal itu. Dan ia berharap Arka segera datang, untuk masalah sarapan ia bisa menolak ajakan tersebut.


Dari kejauhan, Arka bisa mendengar dengan jelas apa yang di katakan oleh istrinya barusan.


"Melakukan sesuatu yang sudah terjadi kemarin?" Arka mencoba mencerna baik-baik kalimat istrinya.


Seketika kedua tangannya mengepal. Sesuatu apa yang telah terjadi di antara mereka?


"Jangan macam-macam, ya! Aku akan memberi tahu Arka seperti apa dirimu di belakangnya," ancam Gerald.


"Itu artinya kau bukan teman yang baik. Dengan cara itu sama saja kau berusaha menghancurkan rumah tangga temanmu sendiri."


"Kau yang menghancurkan nya sendiri dan jangan pernah melibatkan aku!"


Susi menyunggingkan sebelah sudut bibirnya membentuk sebuah senyum licik. Ia tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapat setitik kenikmatan dari pria yang membuatnya semakin merasa penasaran seperti apa sebenarnya Gerald.

__ADS_1


Tanpa aba-aba Susi menyosor mencium bibir Gerald. Di kejauhan Arka sontak emosi melihatnya. Amarahnya seketika memuncak melihat apa yang saat ini ada di depan mata.


"Susiiii ..!!!" teriak Arka.


Gerald dengan cepat mendorong tubuh wanita itu hinggar terjatuh ke belakang. Ia di buat panik lantaran Arka memergoki hal yang ia khawatirkan Arka akan salah paham dengan itu.


Susi sendiri tentunya terkejut begitu Arka memergoki dirinya tengah mencium Gerald. Ia harus segera melakukan pembelaan diri.


Kedua mata Arka memerah menahan amarah. Sorot matanya begitu tajam.


"Ka, Ka. Tolong jangan salah paham, Ka. Ini tidak seperti yang kau lihat. Aku mohon dengarkan penjelasan aku!" Gerald berusaha memberi penjelasan agar Arka tidak salah paham.


"Sayang, Gerald mencoba mengkhianatimu. Dia memaksaku untuk berhubungan dengannya di belakangmu, sayang." Susi berusaha membela diri.


"Ka, tolong percaya padaku. Ini tidak seperti yang kau lihat, Ka. Aku mohon, percaya padaku, Ka."


Suasana tampak tegang sekali. Sedari tadi Arka diam, dia seperti orang yang tengah menyimpan bom waktu. Menyimpan amarahnya dan akan meledak sewaktu-waktu.


"Ka-" Gerald mencoba untuk memberi penjelasan lagi, namun Arka menghentikannya.


Pria itu beralih menatap ke arah Susi dengan tatapan penuh amarah.


"Sayang-"


Plaakkk ...


Sebuah tamparan mulus mendarat tepat di pipi wanita itu. Arka bukan tipe pria yang kasar, tapi jika sudah begini, ia pun sama seperti manusia lainnya yang memiliki amarah.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2