GAIRAH ISTRI TEMANKU

GAIRAH ISTRI TEMANKU
Kecurigaan


__ADS_3

Arka duduk di sofa ruang tamu. Ia pandang paket yang ia letakan di atas meja di hadapan nya. Entah kenapa, ia jadi kepikiran dengan ucapan kurir tadi.


Akhir-akhir ini sikap istrinya memang kerap kali membuatnya merasa heran. Sejak Gerald datang ke rumahnya, istrinya terlihat sedikit berubah jika ia perhatikan. Mulai dari dia yang selalu semangat bangun lebih awal dari biasanya untuk membuatkan sarapan. Hingga meminta sebuah kebebasan yang menurut ia merasa aneh.


Susi meminta kebebasan untuk melakukan apapun yang ia suka. Baginya itu memang hal yang wajar, tapi tidak wajah juga dia meminta kebebasan untuk memakai pakaian yang lebih terbuka sementara posisi di rumahnya ada pria lain meski itu temannya. Susi juga beberapa hari ini selalu bermake up tebal walaupun di rumah.


Selain itu, kejadian malam tadi yang membuat Arka kini sedikit curiga. Apa benar tadi malam ada ular di rumahnya? Kenapa juga Gerald sampai berteriak histeris. Ia rasa bukan karena ular, melainkan hal lain. Tapi apa? Apa kepergian Gerald pagi ini ada hubungannya dengan kejadian tadi malam yang tidak ia ketahui apa sebenarnya.


Kini sejuta pertanyaan memenuhi seisi kepala Arka. Pria itu menyandarkan kepalanya di sandarkan sofa. Memejamkan kedua mata dengan tangan terkepal ia gunakan untuk memukuli keningnya.


"Tidak, tidak. Gerald bukan orang yang seperti itu. Dia bukan orang yang seperti itu. Aku sudah kenal dengan dia selama bertahun-tahun. Tidak mungkin Gerald seperti itu. Tidak mungkin."


Arka berusaha untuk tetap berpikir positif. Tapi ucapan kurir tadi tentang Susi kembali mengganggu pikirannya.


"Kenal istriku secara pribadi?"


"Tentu saja."


"Kenal dimana? Sejak kapan?"


"Sudah lama. Bahkan sebelum menikah denganmu."


"Maaf, apa kau mantan pacarnya?"

__ADS_1


"Tidak pernah jadian, tapi pernah kejadian."


Arka memegang kedua sisi kepalanya. Kenapa kalimat itu kini justru malah terngiang-ngiang di telinganya.


"Dia pasti bohong. Dia pasti bohong. Aku mengenal baik seperti apa istriku. Jadi tidak mungkin dia seperti apa yang di katakan olehnya."


Arka berusaha meyakinkan diri sendiri jika apa yang di katakan oleh kurir tadi itu tidak lah benar. Ia memang menjalin hubungan dengan istrinya belum genap sampai satu tahun. Ia kenal baru satu bulan, setelah itu menjalin hubungan pacaran dia bulan, kemudian menikah.


Pernikahan mereka pun baru berjalan empat bulan. Itu artinya ia bersama dengan Susi kurang lebih sekitar tujuh bulan. Apa iya ia tidak tahu sesuatu tentang istrinya?


"Apa ada baiknya aku selidiki masa lalu istriku, ya?" pikir Arka.


"Tapi jika apa yang di katakan oleh kurir tadi benar adanya, bagaimana pun itu sudah menjadi masa lalu dia. Aku tidak berhak mempermasalahkan masa lalu dia."


"Ada baiknya aku lebih hati-hati saja sekarang. Aku khawatir jika ucapan kurir itu benar jika Susi memang masih sama dengan Susi yang ada di masalalu."


Arka hendak bangkit dari tempat duduknya. Namun urung begitu Susi datang. Wanita itu memakai pakaian biasa seperti sebelum Gerald datang ke rumah. Menggunakan celana kulot sebatas lutut dan menggunakan baju kaus putih yang tentunya biasa dia pakai sehari-hari.


"Sayang, kau sedang apa di sini?" tanya wanita itu seraya mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.


"Aku-"


Belum sempat Arka menjawab pertanyaan nya, Susi sudah menyadari ada paket milik nya yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat dia menyambar paket tersebut seperti orang ketakutan.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang ada paket?" seru wanita itu seraya mendekap paketnya di dada.


Hal itu menimbulkan sedikit kecurigaan bagi Arka. Sebegitu takutnya wanita itu.


"Kau kan sedang mandi, sayang."


"Iya, seharusnya kau beri tahu aku."


"Memangnya kenapa? Kan ada aku."


"Iya tidak apa-apa. Tapi tadi kurirnya langsung pergi kan begitu selesai antar paketnya?"


Pertanyaan Susi membuat mata Arka memicing.


"Apa yang kau khawatirkan?"


Susi sontak terlihat gugup dengan pertanyaan Arka. Kenapa pria itu bisa bertanya hal itu padanya?


"Khawatirkan? Khawatirkan apa?"


"Aku merasa kau menyembunyikan sesuatu."


Susi dibuat gelagapan. Akan tetapi ia berusaha untuk menetralisir kegugupan nya dengan tetap bersikap tenang.

__ADS_1


"Tidak, tidak ada. Kalau begitu, aku ke kamar duluan, ya." Susi bergegas pergi dari hadapan Arka, membuat pria itu semakin yakin jika ada sesuatu yang memang sedang di tutupi oleh istrinya.


_Bersambung_


__ADS_2