
Susi dan Arka saling menyuapi kue di meja makan. Bahkan sesekali Susi mengusap krim kue ke pipi suaminya dan di balas hingga wajah keduanya penuh dengan krim kue putih coklat.
Gelak tawa terdengar menggelegar di ruangan makan hingga Arka teringat akan sesuatu.
"Ah ya, Gerald belum bangun, sayang?"
"Gerald sudah pulang."
"Pulang? Memangnya kau tidak sampaikan pesanku untuknya jika dia tidak boleh pulang dulu?"
"Sudah, tapi dia tetap pulang. Katanya mau memperbaiki mobilnya yang mogok itu."
Arka mengangguk-anggukan kepalanya. Ia jadi merasa tidak enak lantaran seharusnya ia membantu pria itu untuk urusan mobilnya.
"Jadi kau tidak benar-benar pergi untuk acara keluarga?" tanya Susi baru ingat.
Arka memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih dan rapi. Kemudian menggelengkan kepala.
"Kalau aku pergi ke acara keluarga, pastinya kau aku ajak , sayang. Memangnya kau tidak curiga atau apa?"
"Aku percaya apapun yang kau katakan."
__ADS_1
Arka mengusap wajah Susi dengan seulas senyum bangga memiliki istri yang begitu percaya terhadap seorang suami.
"Aku beruntung memiliki istri sepertimu. Aku tidak salah memilih istri. Terima kasih ya, sayang," ucap Arka lalu mengecup pipi sebelah kanan wanita itu yang tidak terkena krim kue.
"Sayang, aku boleh tanya sesuatu tidak?" ujar Susi setelah beberapa saat keheningan menyelinap di antara mereka.
"Iya, boleh. Kau mau tanya apa?"
"Mm .. Gerald itu sudah punya istri apa belum?" Susi sengaja mempertanyakan hal itu lagi untuk memastikan.
Arka mengurungkan niatnya memasukan potongan kue ke dalam mulutnya. Ia menoleh Susi dengan tatapan sedikit aneh.
"Kenapa memangnya? Dari semalam kau bertanya tentang Gerald terus, ada apa?"
"Kau tertarik dengan kehidupan Gerald?"
"Kau bicara apa, sayaaang ... Aku bertanya sebagai seorang istri karena aku khawatir istri Gerald akan berpikir yang macam-macam jika dia tidak pulang dan malah menginap. Itu saja, kenapa kau malah mencurigai ku?"
Arka menghela napas lega. Mungkin ia yang terlalu jauh cara berpikirnya.
"Iya, maaf, sayang. Tapi kau tenang saja, Gerald belum menikah. Jadi dia masih menjadi pria bebas."
__ADS_1
Susi mengerucutkan bibirnya.
"Aku berusaha menjadi istri yang percaya terhadap suaminya. Tapi kau malah mencurigai ku yang macam-macam," sungut wanita itu.
"Iya maaf, maaf. Aku minta maaf, sayang. Aku janji akan tidak akan lagi curigaan. Aku janji akan menjadi suami yang percaya terhadap istrinya. Aku janji."
Arka menangkap jari kelingkingnya ke udara sebagai simbol janji. Akan tetapi Susi tetap saja merasa kesal, hingga Arka membawa dirinya ke dalam pelukan dan juga memberi ciuman tipis di bibir. Sampai akhirnya perasaan kesal itu hilang.
"Maaf, ya," ucap Arka lagi menyudahi ciumannya.
Susi mengangguk. "Iya. Tapi kau harus janji untuk percaya lagi padaku. Aku tidak suka di curigai. Bagaimana?"
"Iya, sayang. Aku tidak akan pernah lagi mencurigai istri yang sangat percaya terhadap suaminya."
"Ok."
Arka melanjutkan kembali ciumannya. Ia memagut bibir istrinya sedikit kasar hingga menciptakan deru napas yang tersengal.
"Bagus, sayang. Kau memang tidak boleh curiga padaku. Kau harus tetap percaya denganku apapun yang aku lakukan," batin Susi.
Aksi mereka terus berlanjut, bahkan Susi menarik suaminya untuk lanjut di kamar saja sebagai perayaan hari pernikahan.
__ADS_1
_Bersambung_
Jangan lupa follow akun Author ya❣️