GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 10


__ADS_3

Deon membuka pintu rumahnya lekas mencari keberadaan istrinya. Di kamar ia menemukan sosok itu tengah duduk di kursi depan cermin dan tampak merias diri.


"Hei, baby." Deon berjalan menghampiri Adell tanpa menutup pintunya kembali, memgang kedua bahu wanita itu dan memberi kecupan singkat di bibir saat istrinya menoleh.


"I miss you so much," ucap Deon lagi.


"Really?"


"Tentu saja. Kamu sampai rumah jam berapa tadi?"


"Jam sembilan kayaknya."


"Jadi gimana urusannya? Sudah selesai?"


"Belum. Masih rumit, sayang. Soalnya hukum di negara kita ya tahu sendiri lah."


Deon mengangguk-anggukan kepalanya. Ia tahu seperti apa hukum di negeri ini.


"Ah ya, semalam aku tidak bisa tidur, sayang. Aku kepikiran kamu terus," ungkap Deon.


"Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja, baby. Buktinya sekarang aku ada di sini dan baik-baik saja."


Deon menatap wajah Adell dengan senyum di bibirnya. Tiga minggu yang lalu pun ia di tinggal nginap oleh istrinya, tapi baru tadi malam ia tidak bisa tidur. Mungkin karena Izza juga, tidak sepenuhnya karena Adell.


"Mungkin beberapa hari ke depan, aku juga bakal nginap lagi di luar kota. Untuk meyakinkan para konsumen jika produk skincare aku ini aman. Dan aku yakin, mereka pasti lebih pintar menilai mana yang benar dan mana yang salah. Aku bakal menggunakan kesempatan viral ini untuk mendapat banyak konsemen."


"Ide bagus. Aku memang tidak salah memilih istri pintar sepintar kamu," puji Deon tak henti-hentinya merasa kagum.


"Iya, dong. Jadi perempuan memang harus pintar. Kalau tidak pintar, mungkin aku akan berakhir menjadi seorang pembantu."


Adell membanggakan dirinya dengan penuh percaya diri. Mendengar kalimat itu seketika Deon jadi teringat akan Izza. Tiba-tiba saja wanita itu terlintas di kepalanya. Tapi ini bukan saatnya memikirkan wanita itu, ia ingin menumpahkan rindunya pada sang istri tercinta.


"Aku semakin jatuh cinta pada istriku yang satu ini," ucap Deon berakhir dengan ciuman di antara keduanya.


Sementara di kamar lain. Seorang wanita mengerjapkan matanya berulang kali. Lalu ia terkejut melihat jarum jam yang baru saja menunjukan pukul sepuluh pagi. Padahal ia merasa tidurnya sudah lama, tapi ternyata baru berjalan satu jam.


"Emhhh .." Izza menggeliatkan tubuhnya.

__ADS_1


Ia pikir dengan tidur lagi bisa menghilangkan rasa kantuknya. Justru ia malah merasakan kepalanya sakit. Mungkin karena efek semalam kurang tidur juga.


Izza bangun dari tidurnya, turun dari ranjang tempat tidur, bergegas keluar kamar. Ia berniat mencari udara di luar rumah, namun dari kejauhan tidak sengaja melihat pintu kamar majikannya terbuka.


Kening Izza berkerut. Ia tampak berpikir sesuatu.


"Apa bu Adell sudah pulang, ya?" pikirnya.


Iris mata Izza sedikit melebar. "Oh iya, aku kembalikan saja uangnya sekarang."


Izza berjalan ke arah kamar majikannya dengan santai. Meskipun pintu terbuka, ia harus mengetuk pintu bersikap sopan. Namun, begitu tangannya di angkat ke udara hendak mengetuk, ia melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.


"Ah, astaga .." teriaknya lalu dengan cepat menutup mulut.


Teriakannya berhasil membuat sepasang suami istri yang tengah asik berrcummbu di atas tempat tidur menoleh. Dengan cepat Izza kembalikan badan membelakangi. Beruntung mereka masih menggunakan baju dan sepertinya sedang pemanasan.


Deon mengangkat tubuhnya yang semula menindih tubuh istrinya. Ia bergegas menghampiri Izza.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Deon dengan nada pelan.


Izza benar-benar merasa ketakutan. Ia merutuki dirinya dalam hati, merasa boddoh karena telah melakukan kesalahan. Ia sungguh tidak tahu jika di kamar itu ada mereka yang tengah asik berrcummbu.


Dia tidak tahu harus mengatakan apalagi selain itu. Sebab perasaannya tengah campur aduk tidak karuan.


Adell kemudian berjalan menghampiri.


"Bi Izza, lihat kesini!" pinta Adell dengan nada ketus.


Perlahan Izza membalikan badan, namun tidak berani menatap mereka berdua.


"Lain kali kamu harus sopan, ya. Kamu masih mau bekerja di sini kan?"


Izza tidak menyangka jika wanita itu akan berkata demikian padanya. Perlahan Izza menganggukan kepalanya.


"Ma-maaf, bu. Saya benar-benar tidak tahu jika bu Adell dengan pak Deon .." Izza sengaja tidak melanjutkan kalimatnya sebab ia tidak mungkin memperjelas semuanya.


"Lalu kamu ngapain kesini? Tempat kamu itu di dapur, ya!" sentak Adell lagi.

__ADS_1


"Sudah, sudah, sudah, sayang. Dia sudah minta maaf juga bukan? Jangan marah-marah, ya. Nanti kita bisa lanjut."


Deon berusaha menenangkan istrinya, tapi sempat-sempatnya dia kepikiran untuk bilang akan melanjutkan hal itu di depan Izza.


Deon beralih menatap Izza. Lalu bertanya baik-baik kenapa dia bisa ada di depan kamar mereka. Salahnya juga karena lupa menutup pintu saat akan begituan.


"Maaf, pak. Tadi saya gak sengaja lihat pintu kamar ini terbuka. Dan saya berpikir bu Adell sudah pulang. Oleh karena itu, saya ingin mengembalikan uang yang saya temukan di saku blazer bu Adell yang hendak saya cuci," terang Izza.


Wanita itu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan uang juga struk pembayaran yang tercampur uang itu. Kemudian memberikannya pada Adell.


"Ini, bu." Izza memberikannya.


Adell mengambil uang tersebut sedikit kasar. Setelah itu dia pergi dari hadapan Izza, menaruh uang tersebut di laci nakas samping tempat tidur.


Deon jadi merasa tidak enak atas sikap Adell yang berlebihan.


"Terima kasih, ya. Maafin sikap istriku juga," ucap Deon pelan.


Izza mengangguk. "Iya, pak. Kalau begitu saya permisi kembali ke dapur."


"Za!" panggil Deon lirih menahan kepergian wanita itu.


Izza melihat sekilas majikan perempuannya di dalam. Rupanya ada sesuatu yang ingin pria itu sampaikan padanya.


"Iya, pak. Kenapa?" tanya Izza lirih juga.


"Mm .. Masak yang enak lagi, ya," pinta pria itu kemudian hampir tak terdengar.


Seulas senyum terbit dari sebelah sudut bibir Izza. Kemudian wanita itu menganggukan kepalanya.


"Siap, pak," jawab Izza sebelum kemudian ia pergi dari sana sebelum majikan perempuannya melihat ia tengah berinteraksi dengan suaminya.


Deon melihat kepergian Izza dengan sudut bibir terangkat membentuk senyum tipis.


"Baby, kamu kenapa masih berdiri disitu?"


Mendengar pertanyaan istrinya, Deon segera memudarkan senyumnya. Ia lekas menutup pintu bahkan menguncinya. Lalu ia melanjutkan lagi yang tadi sempat terhenti.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2