
Deon kembali usai membuang kantong plastik berisi pecahan kaca di tong sampah luar gerbang rumahnya. Pada saat ia kembali, ia di kejutkan oleh Izza yang masih berdiri di ambang pintu depan rumah.
"Astaga, Izza. Kamu ngapain masih disini?" seru Deon terkaget-kaget.
"Maaf, pak. Tapi saya belum ngantuk dan pastinya gak bakalan bisa tidur," jawab wanita itu.
"Ya gak apa-apa, tapi kamu diam saja di kamar kamu."
Izza hanya diam sambil menundukkan wajahnya. Kemudian dia mundur selangkah saat Deon berjalan masuk melewati dirinya.
Izza pikir majikan prianya itu juga akan pergi ke kamar setelah itu. Tapi ternyata dia malah duduk di sofa ruang tamu.
"Pak Deon kenapa di sini juga?" Izza memberanikan diri untuk bertanya.
"Gak apa-apa, mau di sini dulu aja. Lagian belum ngantuk juga."
"Kalau begitu saya buatkan teh manis hangat mau?" tawar Izza semangat.
"Gak usah, lagian tangan kamu luka. Ini juga udah terlalu malam," tolak Deon membuat perubahan ekspresi wajah Izza.
Izza hanya bisa menghembuskan napas pelan sambil berpikir sesuatu.
"Kamu kenapa masih berdiri di situ? Sini duduk, pintunya tolong di tutup!"
Izza mengangguk dengan cepat. "Baik, pak."
Izza menutup pintu depan rumah tersebut tanpa kemudian menguncinya. Setelah itu ia duduk di sofa panjang sementara Deon duduk di sofa single.
"Pak Deon belum bisa tidur pasti karena kepikiran bu Adell ya?" Izza mencoba memulai pembicaraan.
Deon mengangguk. Sejujurnya dia lah penyebab kenapa sampai sekarang ia belum juga bisa tidur. Tapi sebagian memang karena ia memikirkan Adell juga.
"Iya. Bagaimanapun dia istriku. Aku khawatir dia kenapa-kenapa di sana," sahut Deon.
__ADS_1
Izza mengangguk-anggukan kepalanya.
Bicara tentang istri, Deon jadi penasaran apa wanita di hadapannya itu sudah menikah atau belum.
"Oh iya, kamu sudah berkeluarga?"
Mendengar pertanyaan Deon, Izza terlihat sedikit bingung harus jawab apa. Kemudian ia menggelengkan kepala.
"Usia kamu berapa? Maaf," tanya dan ucap Deon supaya Izza tidak tersinggung.
"Tiga puluh empat," jawab Izza jujur.
Deon agak sedikit terkejut mendengarnya. Tapi secara fisik ia tidak percaya jika wanita itu sudah berumur ternyata. Ia kira Izza masih berusia tiga puluh ke bawah.
"Apa yang membuat kamu masih memilih untuk sendiri?"
"Entahlah."
Deon rupanya mulai tertarik dengan kehidupan Izza.
Izza terdiam untuk beberapa saat.
"Jika saya ceritakan seperti apa masalalu saya, saya yakin pak Deon pasti akan membenci saya. Dan saya masih ingin bekerja di rumah ini. Saya harap pak Deon bisa mengerti."
Deon menghargai keputusan Izza yang tidak bisa menceritakan masalalunya. Sebab ia termasuk hak dan privasi dia. Lagipula kenapa ia jadi ingin tahu.
"Ok, baik. Tidak masalah. Maaf karena aku terlalu lancang ingin mengetahui masalalumu, yang seharusnya tidak aku tanyakan."
"Iya, tidak apa-apa. Yang pak Deon tanyakan tidak salah. Mungkin sebagai seorang majikan pak Deon ingin dan perlu tahu seperti apa orang yang bekerja di rumahnya. Tapi pak Deon tenang saja, saya bukan pencuri dan saya pun berharap bisa kerja dalam waktu yang lama di sini."
"Aku tidak pernah berpikir jika kamu seorang pencuri."
"Iya, syukurlah. Tapi tidak jarang kan majikan yang takut jika pembantu di rumahnya adalah seorang pencuri atau apapun itu."
__ADS_1
Deon mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya, kamu benar. Tapi aku sama sekali tidak pernah berpikiran ke sana. Aku yakin kamu orang yang baik dan .." Deon sengaja menggantung kalimatnya karena hampir saja ia keceplosan.
"Dan apa, pak?" Izza penasaran dan tidak sabar menunggu lanjutan kalimatnya.
Deon diam sambil memikirkan pujian apa yang pantas untuk melanjutkan kalimatnya.
"Dan .. Pintar masak," lanjut pria itu.
"Oh .." Ada kekecewaan di raut wajah Izza, ia pikir pria itu akan bilang apa.
Deon mengetuk-ngetuk kakinya di lantai dengan pelan namun cepat, padahal tadi ia hampir keceplosan akan bilang Izza ini cantik. Beruntung lidahnya bisa di rem.
Setelah itu ia melihat Izza menguap, dan tampaknya wanita itu sudah mengantuk.
"Kamu kembali ke kamar sana. Kamu sudah ngantuk tuh."
Tanpa bisa di pungkiri, Izza pun mengakui jika rasa kantuknya sudah mulai datang.
"Iya, pak. Kalau begitu saya duluan tidur."
"Iya, sana."
"Emm .. Terima kasih karena sudah mengobati luka saya," ucap Izza kemudian di akhiri dengan senyum.
Izza bangkit berdiri dari duduknya lalu ia pamit pergi dari sana. Deon melihat punggung kepergian wanita itu sampai hilang dari jangkauan matanya. Seakan ia baru saja terhipnotis oleh senyumannya.
Deon mengerjapkan matanya sekali lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak. Apa yang kamu pikirkan, Deon?" pria itu kembali merutuki dirinya sendiri setelah Izza tidak ada.
_Bersambung_
__ADS_1