
Kelopak mata Deon mulai bergerak dan perlahan matanya terbuka. Kemudian ia memijat pangkal alisnya yang terasa sedikit pusing. Dan ia tersadar ketiduran di depan pintu kamar Izza dengan posisi duduk menyandar ke tembok samping pintu.
"Astaga .. Kenapa aku bisa ketiduran di sini," ujar pria itu sambil menghela napas.
Deon bangkit berdiri. Menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan secara bergantian dan terdengar bunyi urat lehernya. Ia berdiri di depan pintu kamar Izza dan mulai menebak apa wanita itu sudah bangun atau belum.
Lantaran penasaran, ia buka pintu kamarnya. Memutar kenop pintu secara perlahan supaya tidak mengganggu jika dia masih tidur. Dan ternyata, begitu ia buka pintunya, wanita itu sedang duduk menyandar di sandaran tempat tidur dan tentu saja menyadari kedatangan.
Sepasang mata Deon bertemu.
"Pak Deon," sapa wanita itu.
Deon hanya menganggukkan kepalanya kecil dengan seulas senyum. Ia pikir Izza masih tidur oleh karena itu ia berani untuk membuka pintu kamarnya. Ia jadi malu sendiri karena ketahuan datang ke kamar.
"Ada apa, pak?" tanya Izza kemudian.
"Hm?" Deon menggelengkan kepalanya.
Izza mengerutkan keningnya merasa heran.
"Ah iya, ini sudah sore. Saya harus masak untuk makan malam, ya?" tanya Izza.
Izza menggibaskan selimutnya dan hendak turun dari ranjang tempat tidur.
"Jangan!" seru Deon menghentikan Izza.
Pria itu melangkah masuk ke kamar Izza dengan tangan menghentikan wanita itu.
"Jangan kemana-mana. Kaki kamu belum sepenuhnya sembuh."
"Tapi saya kan harus masak, pak."
"Jadi kamu mau membantah permintaan majikan kamu? Aku bilang jangan ya jangan. Nanti kalau kaki kamu sakit lagi gimana?"
Akhirnya Izza mengangguk menurut. Ia tidak jadi turun dari tempat tidur karena tidak di perbolehkan. Padahal ia sudah merasa lebih baik dari tadi. Meski rasa sakitnya masih ada sedikit. Tapi untuk jalan sudah lumayan bisa.
"Jangan kemana-mana, tetap di sini. Kamu mau kaki kamu sakit lagi?"
Izza menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, makanya diam aja."
Izza mengangguk sekali. "Iya, pak."
Deon menghela napas. Izza nurut juga.
Kemudian Izza merasa ingin buang air besar. Ia merasa segan jika harus bilang kepada pria yang berdiri di hadapannya jika ia ingin buang air besar. Akan tetapi ia tidak bisa menahannya. Ia pun turun lagi.
"Eh, mau kemana?" cegah Deon.
"Mau ke kamar mandi sebentar, pak."
"Mau ngapain? Nanti kalau kamu kepleset lagi gimana?" Tiba-tiba Deon berubah menjadi sosok pria yang posesif.
"Saya mau-"
"Udah, aku bilang diam."
Izza pun diam. Bingung apa ia harus bilang saja kalau sebenarnya ia ingin buang air besar.
Semakin di tahan, perutnya semakin mulas. Ia sudah tidak tahan lagi menahannya.
"Saya mau pup, pak," ungkap Izza.
"Hah?" Deon terkejut dengan pengakuan wanita itu, ternyata dia mau kamar mandi karena ingin buang air besar. Ia jadi merasa bersalah karena sudah menahannya.
"Oh ya udah."
Izza pun bangkit berdiri di bantu oleh pria itu. Deon memapah Izza sampai depan pintu kamar mandi. Setelah itu dia kembali, duduk menunggu di tepi ranjang kasur Izza.
Terdengar suara gemericik air, sepertinya Izza sengaja menyalakan kerannya.
Lima menit berikutnya, suara air keran berhenti. Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Dengan cepat Deon berjalan menghampiri wanita itu dan membantu memapah jalannya lagi sampai tempat tidur.
Izza duduk menyandar kembali.
"Terima kasih, pak," ucap Izza tak lupa.
"Iya, sama-sama," jawab pria itu.
Deon duduk di tepi ranjang dan pandangan mata mereka kembali bertemu. Saling melempar tatapan satu sama lain.
"Kenapa pak Deon sebaik ini sama saya?" tanya Izza kemudian karena ia merasa ada yang aneh dari perlakuan majikannya.
Izza yakin, jika ada sesuatu di balik alasan rasa tanggung jawab seorang majikan terhadap pembantu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan tentang aku?" Deon balik bertanya.
"Apa alasannya masih sama ya, pak? Ini semua karena rasa tanggung jawab seorang majikan terhadap pembantunya?"
"Jangan pikirkan apapun selain kesembuhan kaki kamu," ucap pria itu.
Izza menghela napas panjang. Semenjak kejadian malam, ia merasa pria itu berubah menjadi lebih perhatian padanya. Apa mungkin pria itu pun menyukainya. Jika benar, ia sangat senang.
"Aku mau pesan makanan. Kamu mau makan apa?" Deon mengubah topik pembicaraan dengan menawarkan makan.
__ADS_1
"Apa saja," jawab Izza.
"Ayam bakar mau?"
"Boleh."
"Pahha atau dada?"
"Kalau bisa dua-duanya kenapa satu?"
Seulas senyum tiba-tiba terbit dari sebelah sudut bibir Deon mendengar jawaban wanita itu. Pikirannya mulai liar.
"Pahha sama dada?"
"Boleh."
"Serius?"
Izza menganggukan kepalanya. Deon menatap wanita itu sambil geleng-geleng tanpa melepaskan senyumnya.
"Serakah," ujar pria itu.
"Gak apa-apa. Kan enak."
"Apanya?"
"Ayam bakar kan?"
"Eh, iya."
Izza tahu jika Deon pasti berpikir sesuatu yang lain tentang itu.
Kemudian Deon bangkit berdiri dan keluar dari kamar Izza untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di kamarnya. Deon tidak langsung kembali ke kamar Izza. Usai memesan makanan melalui aplikasi, ia menghubungi istrinya dulu. Namun, tidak di angkat teleponnya. Kemudian ia berpikir mungkin Adell sedang di salon. Karena tadi dia bilang akan ke salon setelah shoping.
Setelah itu Deon duduk di sofa ruang tamu dan sengaja membuka pintu depan agar ada udara masuk ke dalam rumah. Pria itu memainkan ponselnya, membuka akun sosial media dan melihat ada postingan seseorang yang tag akun istrinya.
Akun tersebut merupakan milik gadis yang tadi bertemu di restoran saat makan siang. Gadis itu menuliskan caption dengan mengungkapkan perasaan bahagianya karena bisa bertemu dengan owner skincare yang tengah viral di media sosial. Postingan tersebut di unggah dua jam yang lalu. Ada satu postingan lagi dari akun lain yang tag istrinya, namun itu potongan terbaru dan baru tiga puluh menitan. Namun, di foto tersebut, Adell tampak menggandeng tangan seseorang. Tangan laki-laki yang tidak nampak wajahnya, hanya terlihat tangannya saja.
Deon menegakkan tubuhnya dan mengamati foto tersebut. Adell benar-benar menggandeng tangan itu.
"Tangan siapa ini?" pikirnya.
Pria itu tertegun sejenak. Tadi Adell bilang jika dia akan bertemu dengan sahabat lamanya yang bernama Sinta. Namun di foto terbaru unggahan milik seseorang yang tag akun dia, dia bersama dengan seorang pria.
Kecurigaan Deon seketika bertambah. Ia berusaha untuk berpikir positif. Namun, entah kenapa kali ini ia merasa jika ada sesuatu yang di sembunyikan oleh istrinya.
"Aku bilang sama Adell masih ada urusan di kantor padahal aku pulang untuk Izza. Apa Adell juga pergi menemui seseorang tapi bilangnya mau ketemu sahabatnya?"
Entah kenapa Deon tidak terima jika apa yang di pikirannya saat ini itu benar. Meskipun ia sendiri juga melakukan hubungan dengan Izza di belakang istrinya.
Suara notifikasi pesan masuk dari aplikasi pemesan makanan membuyarkan lamunan Deon. Pesan tersebut di kirim oleh kurir yang memberi tahu jika dia telah sampai di depan pintu gerbang.
Tidak berapa lama pria itu kembali dengan membawa plastik kantong kresek putih bening berisi pesanannya. Ia menutup pintu depan sebelum kemudian pergi menuju kamar Izza.
Deon mendapati masih duduk di atas tempat tidur. Kasihan juga. Tapi wanita itu nurut padanya. Tanpa menutup pintu kamarnya kembali, Deon bergegas menghampiri wanita itu.
"Sudah sampai?" tanya wanita itu dan Deon mengacungkan kresek bening di tangannya.
"Makan di sini atau atau di meja makan?" tanya Deon sebelum membuka kantong kresek nya.
"Di sini saja gak apa-apa kan, pak?" Izza malah balik bertanya.
"Ya terserah kamu."
"Di sini aja deh," jawab Izza kemudian menggeser duduknya lebih ke tengah, memberi tempat untuk pria itu.
Deon membuka kantong kresek nya. Memberikan satu bungkus nasi pada Izza dan satu bungkus lagi untuknya.
Kemudian Deon membuka bungkusan yang berisi ayam bakar. Terdapat empat potong ayam bakar yang terdiri dua bagian dada dan dua bagian pahha.
"Waw, pahha nya monttok juga, ya. Apalagi ini dadanya, kayak mirip punya kamu," ujar pria itu.
"Ehh."
Deon mendapat cubitan kecil di lengan dan pelototan mata dari Izza.
"Apa? Emang benar kan? Aku coba bandingkan."
Deon mengambi ayam bakar bagian dada dan menyamakan dengan punya Izza.
"Apa sih, pak Deon," cetus Izza malu-malu.
"Sama kan? Tapi lebih besar punya kamu, sih," ujar pria itu lagi-lagi mendapat cubitan kecil di lengan.
"Aw .. Apa sih cubit-cubit?"
"Ya habisnya pak Deon nackal deh."
"Sedikit, tapi kamu suka juga kan?"
Izza mengulum senyum malu, tapi jujur ia senang juga dalam hatinya. Ia merasa Deon sudah bukan seperti majikannya lagi, tapi lebih ke pacar atau suami.
"Aku mau sambalnya yang banyak," pinta Izza saat Deon menuangkan sambal.
"Jangan banyak-banyak, nanti sakit perut."
__ADS_1
"Perhatian banget sih," kata Izza.
Pria itu mendongakan wajahnya dan menatap wajah wanita yang jaraknya sangat dekat darinya.
"Tapi suka kan?"
Izza menganggukan kepalanya tanpa ragu.
Deon tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Lalu mereka mulai makannya.
"Enak banget," puji Izza di suapan pertama.
"Apanya?"
"Ini." Izza menunjuk ayam bakarnya yang bagian dada.
"Masih enakan punya kamu," sahut Deon.
Kemudian Izza nyoba yang bagian pahha.
"Emm .. Yang pahha juga enak, lebih gurih."
"Masa sih?" tanya Deon.
"Iya, cobain deh."
"Emang boleh?"
"Itu." Izza menunjuk ayam bakar di makanan milik pria itu.
Deon pun nyoba ayam bakar bagian paha miliknya yang masih utuh.
"Gak enak ini. Kayaknya lebih enakan punya kamu, deh. Soalnya itu lebih monttok."
"Mau coba punya aku?"
"Emangnya boleh?"
"Boleh."
"Ya udah nanti aja setelah makan."
"Nanti keburu habis."
"Gak bakalan habis kalau punya kamu."
"Maksudnya?"
Deon mengedikkan dagunya mengarah ke pahha bagian tubuh wanita itu. Izza baru tersadar jika pria itu ternyata membahas pahha lain. Ia kira pahha ayam bakar.
Wanita itu mengulum senyum tanpa mengatakan sepatah katapun. Kemudian mereka melanjutkan makan lagi.
Deon membuang sampah ke dapur sambil mengambilkan segelas air putih untuk Izza.
"Terima kasih," ucap wanita itu usai menerima segelas air putih dari Deon.
Izza meminum setengahnya dan meletakan gelas tersebut ke atas nakas.
"Sudah cuci tangan?" tanya prja itu.
"Sudah barusan," jawab Izza.
Sebelumnya ia sudah cuci tangan di kamar mandi selama Deon pergi untuk membuang sampah bekas mereka makan.
"Kenapa gak nunggu aku dulu?"
"Gak apa-apa, cuma kesitu."
"Gara-gara kesitu kan kamu jadi begini?"
Izza menghela napas. Kenapa pria itu jadi berubah se posesif ini padanya. Ia tatap wajah pria yang masih berdiri di depannya.
"Aku senang kamu se perhatian ini sama aku," ucap Izza tiba-tiba merubah kata 'saya' nya menjadi 'aku'.
"Maksud kamu?"
"Aku gak tahu maksud kamu sebenarnya apa sebegitu perhatiannya sama aku, tapi aku senang dan maaf kalau aku harus jujur."
Ungkapan Izza membuat terdiam. Entahlah apa yang harus ia katakan sekarang. Ia tidak bisa mencegah apapun perasaan Izza terhadapnya karena ia sendiri sudah bersikap lebih dari sekedar majikan untuk pembantunya. Wajah jika Izza terbawa perasaan akan sikapnya yang manis.
Lagipula ia sendiri pun merasakan hal yang sama. Satu sisi ia tidak ingin kehilangan Adell dan tidak mau Adell seperti yang sedang ia pikirkan. Tapi di sisi lain ia pun mulai nyaman dengan Izza tanpa kehadiran istrinya. Katakan saja ia egois, dan ia tidak akan pernah menyangkalnya.
"Apa itu artinya kamu suka sama aku?" tanya Deon ingin memastikan.
Tanpa ragu lagi Izza mengangguk membenarkan. Mengakui jika ia memang menyukai pria di hadapannya. Namun saat ini ia tidak berani lagi menatap wajah itu. Ia takut jika ungkapannya membuat pria itu kecewa dan dia akan menjauh.
Izza tidak mendengar suara pria itu lagi. Ia juga tidak berani mendongakan wajahnya. Ia yakin jika pria itu pasti kecewa padanya.
Namun, tanpa ia sangka. Deon mengangkat dagunya menggunakan jari telunjuk dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir.
Lagi-lagi Izza terkejut sampai matanya membulat sempurna. Karena ia pikir Deon akan kecewa terhadapnya. Tapi justru dia memberikan apa yang saat ini ia harapkan.
Izza melepaskan tautan bibirnya dan menatap wajah Deon.
"Apa ini artinya kamu juga menyukaiku?" tanya Izza memastikan.
__ADS_1
"Entahlah, tapi aku nyaman dengan kamu jika seperti ini," jawab pria itu lagi lalu menautkan bibir mereka kembali.
_Bersambung_