GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 35


__ADS_3

Setelah cukup lama berpikir, Izza kini sudah bulat pikirannya. Ia akan mengambil keputusan untuk menerima tawaran ibu panti untuk menjadi salah satu pengurus panti di tempat dimana ia tinggal. Meski berat, tapi ia pikir ini adalah jalan yang terbaik untuknya.


Sebelumnya ia pernah membuat rumah tangga majikannya hampir terpecah belah karena ia selingkuh selama empat tahun hanya demi uang untuk bertahan hidup. Dan ia tidak ingin kejadian itu terulang. Ia pikir hubungan Deon dan Adell masih bisa di selamatkan asal keduanya saling intropeksi diri dan sadar kesalahan masing-masing.


Deon tidak sengaja melihat Izza tengah memasukan pakaiannya ke dalam tas ketika ia hendak pergi ke dapur dan melihat pintu kamar wanita itu terbuka. Kedua matanya langsung bulat sempurna. Tanpa pikir panjang ia langsung menerobos masuk ke dalam kamar tersebut.


"Za .." panggilan Deon membuat wanita yang tengah memasukan pakaiannya ke dalam tas tersentak kaget.


Wanita itu menghentikan aktivitasnya saat Deon berjalan mendekat ke arahnya.


Pandangan Deon tertuju pada pakaian Izza yang sudah di masukan ke dalam tas dan lemari pakaiannya hampir kosong. Lalu pandangan pria itu beralih menatap Izza.


"Apa ini maksudnya?" tanya pria itu langsung to the point.


Izza merremmas ujung kain baju yang ia pakai dan mulai memberanikan diri untuk mengatakan rencananya.


"Aku .." Lidah Izza terasa kelu, ia masih ragu untuk mengatakannya pada Deon.


"Jangan bilang kalau kamu mau pergi dari sini dan menerima tawaran dari mereka!"


Izza langsung menunduk. Ternyata Deon pintar membaca apa yang ada di dalam pikirannya tanpa harus ia kasih tahu.


"Za, coba kamu pikir lagi. Kamu yakin mau kembali ke panti setelah kamu berusaha keras untuk keluar dari sana?"


"Aku-"


"Aku gak bakalan kasih izin kamu untuk keluar dari rumah ini, Za," pungkas Deon.


Meski berat, tapi Izza merasa ini adalah pilihan yang terbaik.


"Deon-"


"Aku gak bakalan izinin kamu pergi dari sini. Aku cukup kehilangan Adell, dan aku gak mau kehilangan siapapun lagi dan itu kamu."


"Tapi kamu egois, Deon!" seru Izza.


"Egois?"


"Iya. Kamu menyalahkan bu Adell karena dia selingkuh, sementara kamu juga. Aku ngaku aku salah karena aku sudah membuat rumah tangga kalian berantakan. Dan sebelum ini, aku juga hampir membuat rumah tangga majikanku berantakan. Oleh karena itu aku mengalah, aku mundur, Deon. Kamu bisa perbaiki hubungan kamu dengan istri kamu. Biarkan aku yang pergi."


"Enggak, Za."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena aku cinta sama kamu."


Ungkapan Deon barusan membuat sekujur tubuh Izza membeku. Seharusnya ini menjadi kalimat yang teramat membahagiakan ketika ia mendengarnya. Karena cintanya terhadap Deon terbalaskan. Tapi kalimat tersebut justru menjadi kalimat yang menyedihkan. Karena situasinya yang tidak tepat.


Deon melangkah lebih dekat dan menarik tubuh Izza ke dalam pelukannya. Ia memeluk tubuh Izza dengan sangat erat seolah ia tidak ingin kehilangan wanita itu.


Izza masih mematung. Ia bahkan tidak membalas pelukan Deon. Ia bingung harus apa sekarang. Di satu sisi, ia sadar jika ini sesuatu yang salah. Ia tidak boleh bahagia di tengah kehancuran rumah tangga seseorang.


Tidak lama kemudian, Izza mendorong tubuh Deon untuk menjauh. Melepaskan pelukan pria itu dengan air mata yang sudah hampir jatuh menembus benteng pertahanan pelupuk matanya.


"Jangan seperti ini, Deon! Kamu enggak boleh cinta sama aku! Enggak boleh! Kamu harus perbaiki hubungan kamu sama bu Adell. Karena aku yakin, kalian pasti bisa memulai semuanya dari awal."


"Enggak, Za. Aku sama Adell udah gak mungkin. Adell memilih untuk bersama dengan pria yang dia mau. Begitupun dengan aku. Aku udah terlanjur cinta sama kamu. Kalau aku memaksakan diri buat perbaiki hubungan aku sama dia, itu gak akan benar. Adell tetap akan selingkuh dan aku juga akan tetap menahan kamu supaya kamu enggak pergi."


"Kenapa, Deon?"


"Kenapa apa? Aku tahu kamu pasti senang kan begitu aku jujur soal perasaan aku sama kamu. Aku tahu kamu juga cinta sama aku, Za. Kalau kamu gak cinta sama aku, gak mungkin kamu mau aku apa-apain. Kamu mau melakukan itu sama aku karena kamu-"


"Pela cur," pungkas Izza.


"Aku mau sama kamu karena aku seorang pela cur, Deon. Bukankah aku sudah bilang sama kamu sebelumnya? Kalau aku pernah menjadi budak seorang wanita yang memiliki bisnis malam?"


Deon terdiam. Dia yakin jika Izza tengah berbohong padanya. Sebab wanita itu sudah pernah bilang jika dia menyukainya.


Pria itu mengusap wajahnya di sertai dengan hembusan napas.


"Za .. Please! Jangan bicara seperti itu. Aku tidak perduli siapa dan bagaimana kamu di masalalu. Aku cinta sama kamu dan kamu harus tahu itu."


Izza menggelengkan kepalanya. "Enggak, Deon. Kamu sebenarnya enggak cinta sama aku. Kamu cuma ketakutan. Kamu cuma takut kalau kamu gak bisa dapetin salah satu di antara aku dan bu Adell. Karena bu Adell pergi, kamu jadi takut kalau aku pergi. Karena kamu gak bisa dapetin salah satunya setelah kamu mengorbankan rumah tangga kamu. Benar kan?"


Deon kemudian diam. Entahlah. Tapi apa yang di katakan oleh Izza memang ada benarnya. Disisi lain ia juga memang sudah terlanjur cinta.


"Aku mau kita menikah, Za. Aku mau punya anak dan aku mau punya anak dari kamu."


"Enggak, Deon."


"Aku mau punya anak dari kamu."


"Enggak."

__ADS_1


"Za!"


Deon menarik pergelangan tangan Izza dan wanita itu berusaha melepaskannya.


"Lepas, Deon."


"Enggak, aku gak akan lepasin kamu. Aku gak akan membiarkan kamu pergi."


"Deon, lepas!"


Izza berusaha melepaskan diri, namun ia kalah kuat dari pria itu.


"Deon!"


"Izza!!"


Suara Deon mendadak tinggi. Izza tiba-tiba berubah takut dengan pria itu. Wajah Deon berubah menyeramkan. Ia bahkan tidak lagi berani menatap wajah itu.


"Aku gak bakal lepasin kamu. Aku mau kita menikah. Aku mau punya anak dari kamu."


Deon mengulang kalimat yang sama.


"Deon, sadarlah. Aku-"


Kalimat Izza terputus saat bibirnya sudah di pagut oleh Deon. Izza berusaha melepaskan tautan bibirnya dan meronta, tapi Deon cukup kuat mencekeram tubuhnya.


"Mmmmppp .."


Izza berusaha melepaskan diri. Tapi sepertinya Deon sudah kehilangan kendali. Sesuatu yang inginkan dari pria itu seketika berubah menjadi sesuatu yang ia takuti.


Deon menjatuhkan tubuh Izza ke atas tempat tidur. Tatapan pria itu sudah di selimuti oleh kabut hasrat sehingga dia sudah kehilangan kendali dan lepas kontrol.


"Aku mau punya anak, Za. Dan kamu harus jadi ibunya."


Itu kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Deon sebelum kemudian dia memangsa Izza dengan paksa. Di bawah kungkungan tubuh Deon, Izza meneteskan air matanya.


"Sadarlah, Deon. Ini bukan Deon yang aku kenal," ucap Izza dalam hati.


Izza khawatir jika Deon akan melakukan sesuatu yang ia takutkan. Ia tidak ingin lagi ada anak yang terlahir seperti dirinya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2