
Deon berdiri di depan pintu rumah dan memandangi mobil yang di kemudikan oleh Adell meninggalkan pelataran. Tidak ada niat untuk mengejarnya. Yang ada, nanti ini semua jadi tambah runyam. Jadi ia putuskan untuk memberi ruang pada istrinya, berharap Adell bisa mengerti akan keinginannya memiliki seorang anak.
"Pak Deon sama bu Adell bertengkar?"
Deon menoleh ke belakang usai mendapati pertanyaan dari seseorang yang saat ini berdiri di hadapannya. Kemudian pria itu menganggukan kepalanya.
"Iya, soal keinginan aku itu."
Izza mulai paham akan situasinya. Ternyata majikan perempuannya memang tidak ingin memiliki anak dalam waktu dekat ini.
"Kenapa pak Deon tidak berusaha mengejar bu Adell?" tanya Izza lagi.
"Kan kamu yang bilang, gak usah maksa."
"Tapi-"
"Jangan merasa bersalah. Memang benar, kok. Aku akan memberi ruang untuk Adell memikirkan keinginan aku. Selebihnya .."
Deon menggantung kalimatnya dan itu kian membuat Izza penasaran.
"Apa? Mau nikah lagi?" tebak wanita itu.
Seketika Deon terkekeh mendengarnya. Ia padahal sedang kesal-kesalnya.
__ADS_1
"Memangnya boleh beristri dua?"
"Boleh. Kalau pak Deon mau dan bu Adell mengizinkan terus calonnya siap jadi istri yang kedua," jawab wanita itu.
"Ngaco!" ucap pria itu sambil geleng-geleng kepala, bisa-bisanya Izza malah ngasih solusi nikah lagi.
Senyum Deon perlahan memudar melihat wajah Izza yang datar.
"Kamu kenapa?"
"Saya serius, pak. Pak Deon memangnya mau kalau punya istri lagi?"
"Izzaaa .. Apaan sih, kok malah di lanjut lagi. Memangnya siapa yang mau jadi istri keduanya?"
Deon kembali tertawa. Sebab ia kira itu hanya candaan Izza saja untuk menghibur dirinya. Tapi wanita itu sama sekali tidak terlihat sedang bercanda, seolah dia benar-benar serius akan ucapannya.
Seketika senyum tipis terbit dari kedua sudut bibir Izza melihat tawa pria itu. Deon tidak pernah tertawa selepas ini, dan ini pertama kalinya ia melihat Deon tertawa.
Perlahan tawa Deon memudar dan ia mulai sadar jika Izza mampu mengembalikan mood nya bahkan ketika sedang bermasalah dengan istrinya sekalipun.
Pria itu merasa dirinya mulai aneh, ia lekas pergi dari hadapan Izza dan masuk ke dalam rumah melewati wanita itu.
Izza terheran kenapa Deon tiba-tiba pergi. Apa mungkin karena pria itu sadar akan batasan di antara mereka.
__ADS_1
Meski ia suka dengan majikannya, tapi ia tidak akan menggunakan pertengkaran mereka untuk di jadikan kesempatan.
Izza masuk ke dalam rumah dan kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya. Sebab tadi ia terkejut mendengar teriakan Deon yang memanggil istrinya. Jadi ia penasaran dengan apa yang terjadi.
Deon menutup pintu kamarnya dan berdiri menyandar di daun pintu. Ia membenturkan kepalanya pelan ke daun pintu dengan kedua mata terpejam. Ia tidak tahu lagi cara membujuk Adell agar istrinya itu patuh dan mau menuruti keinginannya.
Apa ia harus memberi geretakan berupa ancaman akan menceraikan jika Adell tak mau juga hamil anaknya? Tapi ia rasa itu cara yang sangat boddoh. Bagaimana jika Adell tidak takut dengan ancamannya? Sementara ia tidak ingin kehilangan wanita tercintanya.
"Aarghhh .."
Deon membalikan dan memukul pintu dengan sangat keras, dia berusaha melampiaskan amarahnya dengan cara itu.
Tring ..
Izza refleks menjatuhkan pisau yang sedang ia gunakan untuk memotong bawang begitu mendengar suara teriakan di iringi dengan pukulan keras yang berasal dari kamar majikannya. Jantungnya berdetak kencang saking kagetnya.
Seketika Izza merasa khawatir. Ia khawatir jika pria itu nekad melakukan hal yang tidak di inginkan. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun. Biarkan dia meluapkan amarahnya.
Izza memungut pisaunya di lantai. Beruntung tidak jatuh mengenai kakinya.
"Aku harap dia tidak berbuat yang aneh-aneh," ucap Izza.
Izza memegang dadanya. Jangungnya masih berdegup dengan kencang saking kaget dan takutnya. Meski ia khawatir, tapi ia yakin jika Deon tidak akan melakukan sebuah keboddohan.
__ADS_1
_Bersambung_