GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 14


__ADS_3

Izza tak henti-hentinya tersenyum karena ia bisa makan bareng lagi dengan Deon. Namun ia berusaha menyembunyikan senyuman nya lantaran tidak ingin ketahuan jika sebenarnya ia tengah bahagia.


Deon makan dengan lahap. Sebenarnya ia masih ingin nambah, hanya saja ketutup oleh gengsi lantaran tadi ia sempat bilang jika sedang tidak selera makan.


"Mau nambah, pak?" tawar Izza melihat piring majikannya sudah kosong sementara orangnya masih melihat makanan sambil melet-melet.


Deon menggeleng. "Gak, aku sudah kenyang."


"Oh, ya sudah."


Izza melanjutkan makannya yang belum habis. Deon pikir Izza akan memaksanya untuk nambah lagi. Tapi ternyata dia tidak perduli. Menyesal ia bilang sudah kenyang padahal kapasitas perut masih banyak.


Deon meminum air putih di gelas kaca yang sudah Izza tuangkan sebelumnya. Ia melihat Izza yang masih makan membuatnya ingin makan lagi. Tapi itu tidak akan ia lakukan.


"Kamu kuat habisin ini semua?" tanya pria itu kemudian.

__ADS_1


Izza mendongakan wajahnya dan melihat makanan di meja yang masih seabreg.


"Mana mungkin muat di perut saya, pak. Mungkin kalau gak habis nanti bisa di bagi ke tetangga."


"Jangan!" seru pria itu cepat.


"Kan tadi pak Deon sendiri yang bilang."


"Mmm .. Tapi nanti istri pulang terus dia lapar mau makan gimana? Kamu harus masak ulang dan itu lama. Jadi biarkan saja di sini, gak usah di masukin kulkas juga."


Deon beranjak pergi dari meja makan, meninggalkan Izza yang masih makan tanpa berpamitan dan kembali ke kamar. Di kamar ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa juga ia harus gengsi untuk nambah makan. Lagian di sini ia majikannya dan Izza hanya seorang asisten rumah tangga.


Jujur, masakan Izza memang sangat enak sehingga membuatnya enggan untuk berhenti makan.


Lima menit setelah berdiam diri di dalam kamar dalam keadaan perut masih lapar. Deon keluar kamar dan berjalan ke arah dapur dengan langkah mengendap-endap sudah seperti orang yang mau maling saja.

__ADS_1


Dia melihat Izza tengah mencuci piring. Ia memperhatikan Izza dari kejauhan. Wanita itu terdengar sedang melantunkan nyanyian dengan sesekali berjoget. Deon menahan tawanya melihat kelakuan Izza. Dia kira tidak ada orang di sana. Padahal dia sedang di perhatikan dari kejauhan.


Deon bersembunyi di balik tembok saat Izza membalikan badan dan rupanya dia selesai mencuci piring. Deon mendengar suara derap langkah Izza mendekat. Ia menahan napas di balik tembok agar tidak ketahuan. Dan Izza pun pergi dari sana mungkin kembali ke kamarnya.


"Huffhhh .." Deon menghembuskan napas lega lantaran Izza tidak melihat dirinya.


Dengan cepat Deon menuju meja makan dan melihat makanannya masih banyak. Ia pun mengambil piring di dekat pantry lalu mengambil nasi dan lauk pauk ke dalam piringnya dengan banyak. Setelah itu ia kembali ke kamar dengan langkah terburu-buru khawatir Izza memergokinya.


Deon bersandar di daun pintu kamarnya setelah berhasil membawa makanan ke dalam kamar tanpa di ketahui oleh Izza. Ia sudah seperti asisten rumah dan Izza adalah majikannya. Posisinya bagaikan terbalik karena ia harus sembunyi-sembunyi mengambil makanan di rumah sendiri hanya karena kata gengsi.


Deon meletakan piringnya di atas meja dan duduk di sofa di kamarnya. Bibirnya mengulas senyum lebar karena ia akan melanjutkan makan enaknya.


"Akhirnya .." ucap pria itu dan tanpa pikir panjang lagi dia pun menyantap makanannya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2