GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 21


__ADS_3

DUARRRRR ..


Suara petir masih terus menyambar. Izza hanya bisa memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa takutnya. Tangannya terus mencekeram ujung baju yang ia pakai.


Deon memandang wajah Izza dari samping ketika wanita itu terkena cahaya yang berasal dari petir. Ia pandangi wajah itu cukup lama dan entah kenapa rasa ingin melakukan sesuatu dengan wanita itu terus saja menggelora.


Gunung kembar Izza yang tadi menempel di tubuhnya membuat aset penting miliknya semakin berdiri. Dan hanya dengan melihat Izza seperti ini saja sudah membuatnya kembali bangun dan berdiri.


Izza sadar jika pria yang duduk di sebelahnya sedang memperhatikannya. Ia menoleh dan melihat pria itu menatap dirinya dengan tatapan yang sulit di artikan. Kemudian kilatan cahaya petir memancar menerangi wajah mereka. Dan ..


Cup!


Deon memegang sebelah pipi Izza dan mendaratkan ciumannya di bibir wanita itu.


Kedua bola mata Izza refleks melebar. Izza terkesiap mendapati ciuman pria yang ia suka selama tinggal di rumah tersebut.


Deon mengusap bibir Izza yang terasa sangat lembut menggunakan ibu jarinya. Ia tidak ingin berhenti sampai di sana. Karena ia juga sudah tidak bisa menahan lagi keinginannya yang sempat terbendung.


Tanpa mengatakan apapun, pria itu menarik tengkuk Izza dan kembali mencium dan juga memagutkan bibirnya dengan bibir Izza. Ia menciumi bibir Izza dengan pelan mengikuti alur hujan deras yang bergemuruh.

__ADS_1


Deon kemudian menarik pinggul Izza guna merapatkan duduk mereka yang semula berjarak satu jengkal. Kini pria itu tidak dapat lagi mencegah keinginannya untuk melakukan ciuman dengan pembantunya.


Apa yang Deon lakukan terhadap wanita itu sama sekali tidak ada penolakan. Izza justru menyambut hangat ciuman Deon dan mulai mengimbangi permainan pria itu.


Deon menarik tangan Izza dan mengalungkan tangan wanita itu ke lehernya. Sementara tangannya ia lingkarkan di pinggang Izza. Dan tidak lama kemudian tangannya mulai bergerak liar.


"Mhhh .." Izza mulai mengeluarkan suara dessahhan pada saat Deon meraba dan merremmas gunung kembar miliknya.


Kemudian dia berinisiatif dan membalasnya dengan meraba aset berharga pria itu yang ternyata sudah mengeras di balik celana.


Deon refleks melepaskan tautan bibirnya. Ia menatap wajah Izza yang terkena kilatan cahaya petir dengan tatapan tidak percaya.


Wanita itu kira Deon akan marah. Tapi ia salah besar. Deon menarik tangannya dan dia letakan di area itu lagi. Bahkan dia meminta agar tangannya tidak sekedar meraba, tapi juga di remmas.


Izza terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi bibirnya kembali di lahap oleh Deon.


Tak ingin berhenti sampai di sana, Deon turun menciumi leher Izza dan berhenti pada tonjolan gunung kembar. Ia menarik baju Izza sampai ke atas hingga dada Izza setengah terbuka. Ia mencium aroma yang khas dari sana.


Kemudian Deon mengalihkan tangan Izza yang tengah merremmas aset berharganya. Ia keluarkan burung itu dari dalam sangkar tanpa menurunkan celananya, dan menarik tangan Izza lagi untuk melakukan apa yang ia mau dan pasti Izza paham maksudnya.

__ADS_1


Setelah itu, barulah Deon membuka dan mengeluarkan gunung kembar Izza dari cup braa wanita itu. Tanpa ia sangka ternyata ukurannya melebihi perkirannya. Tanpa pikir panjang lagi ia malahap boba gunung itu.


"Ahh .." Izza mengeluarkan lagi dessahhan ketika Deon menggigit boba gunungnya.


Izza terus mengeluarkan dessahhan sambil memainkan burung pria itu.


Deon mendongakan kepalanya dan menegakkan tubuhnya ketika ia sudah hampir pada puncak pelepasan. Beberapa saat kemudian Izza menghentikan gerakan tangannya ketika ia merasa ada cairan yang menembak keluar dan membasahi tangan.


"Aaahhhh .." Deon menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan berbaring di tempat tidur saat ia sudah sampai pada puncaknya.


Pria itu merasa lega sekali mengeluarkan yang ia tahan-tahan sebelumnya.


Izza tidak tahu harus bicara apa sekarang setelah permainannya sudah selesai. Deon memasukkan kembali burung miliknya ke dalam celana. Kemudian dia terlihat melempar senyum pada Izza. Merentangkan sebelah tangan dan menepuk kasur di sebelahnya, sebagai tanda meminta agar Izza tidur di sampingnya dan lengannya sebagai bantalan wanita itu.


Izza pun menurut. Ia membaringkan tubuhnya dan menggunakan lengan Deon sebagai bantalan. Ia berbaring dengan posisi menyamping. Kemudian Deon memeluk tubuh Izza.


Tidak lama kemudian tangan yang pria ith pakai untuk memeluk tubuhnya, beralih menyusup ke dalam cup braa nya. Tanpa merasa bersalah, pria itu melakukan dengan seulas senyum di bibirnya. Sebelum kemudian dia memejamkan mata tidur.


Hangatnya hembusan napas Deon yang terhempas ke wajah Izza. Izza menatap wajah Deon dalam jarak yang cukup dekat bahkan hanya beberapa mili saja. Ia masih tidak menyangka jika ia saat ini sedang melakukan sesuatu yang ia kira itu hal yang tidak mungkin ia lakukan dengan Deon. Sang majikan pria muda yang ia sukai.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2