GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 6


__ADS_3

Izza mengetuk pintu kamar majikannya saat sop iga yang sudah di hidangkan sudah siap menjadi santapan makan malam. Tidak berapa lama kemudian, pintu kamar tersebut terbuka dan muncul pria itu dari balik pintu dengan benda pipih yang di tempelkan ke daun telinga.


"Pak, makan malamnya sudah siap," kata Izza memberi tahu.


Deon memberi isyarat agar ia menunggu sebentar sebab dia sedang menelepon dengan seseorang.


"Sayang, udah dulu, ya. Aku mau makan dulu. Kamu di sana jangan melewatkan makan malam kamu. Sesibuk apapun."


"Ok. Love you too," kata Deon lagi sebelum menutup panggilan teleponnya.


Izza menunduk diam mendengar begitu romantisnya pria itu pada istrinya.


"Sudah matang?" tanya Deon kemudian lalu Izza mendongakan kepalanya.


"Sudah, pak," jawab Izza cepat.


"Ya sudah, ayo kita makan."


Deon keluar dan menutup pintu kamarnya. Ia hendak pergi namun Izza masih mematung di tempat.


"Kenapa? Ayo makan!" ajak Deon lagi.


"Kita, pak?" tanya Izza memastikan.


"Iya. Memangnya kamu gak lapar?"


"Hehe .. Lapar juga, pak."


"Ya sudah, ayo makan sekarang."


Deon melangkah pergi lebih dulu, sementara Izza masih diam di tempat. Ia mengulum senyum pada saat pria itu mengucapkan kata 'kita'. Terdengar lebih akrab dan ia senang.


"Baru kali ini aku suka berondong," ujar wanita itu sebelum kemudian menyusul langkah Deon menuju tempat makan.

__ADS_1


Deon menarik salah satu kursi makan lalu mendaratkan tubuhnya duduk di sana. Aroma semerbak dari sop iga di mangkuk besar yang masih mengepul membuat perutnya meronta-ronta. Ia sudah tidak sabar untuk segera memakannya.


"Saya ambilkan ya, pak," tawar Izza di angguki oleh Deon.


Izza mengambil nasi dan sop iga untuk majikannya secara terpisah. Nasi di piring sementara sop iga nya di mangkuk. Setelah itu ia letakan di depan pria itu.


"Terima kasih," ucap Deon.


"Sama-sama, pak."


Izza lekas mengambil nasi dan sop iga untuk dirinya. Ia menemukan iga yang lupa belum terpotong. Ia mengambil bagian yang itu.


"Kamu pinter milihnya," ujar Deon saat melihat Izza mengambil iga yang itu.


"Lupa gak kepotong, pak. Tapi gak apa-apa lah, yang besar panjang lebih enak," jawab wanita itu membuat Deon melongo sejenak mendengar jawabannya.


Izza sadar akan ucapannya. Ia langsung menunduk dan mulai untuk makan.


"Enak ya-" Deon hendak memuji wanita itu namun kalimatnya terhenti saat melihat Izza memasukan iga panjang itu ke dalam mulutnya dan mengeluarkannya kembali usai dagingnya berhasil di makan.


Izza langsung menutup mulutnya saat menyadari jika Deon tengah melihat ke arahnya.


"Hm, maaf, pak," ucap wanita itu.


Deon seketika menelan ludah sendiri. Menatap wajah Izza untuk seperti detik sebelum kemudian ia menyantap kembali makanannya.


Deon mulai mencuri pandang melirik Izza yang begitu menikmati iga panjangnya. Dia terus memasukkan tulang panjang itu ke dalam mulutnya dengan sesekali di emmutt.


Deon tidak sengaja menjatuhkan sendoknya ke bawah meja hingga berdenting.


"Eh, sorry," ucap pria itu.


Dengan cepat Izza bergerak untuk mengambil sendok yang terjatuh. Namun di hentikan oleh Deon.

__ADS_1


"Biar aku saja. Kamu lanjut saja makannya."


Deon memundurkan kursinya, lalu membungkukan badan untuk mengambil sendoknya yang terjatuh. Sendoknya sudah berhasil ia ambil, namun ada sesuatu yang membuatnya terhenti.


Gluk!


Deon meneguk air liurnya. Jakun nya terlihat naik turun melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat dari wanita lain selain istrinya.


Pakaian yang di kenakan oleh Izza menyinglar sampai pahha dan celana dallam wanita itu kelihatan. Menonjolkan gundukan daging kenyal dibaliknya.


Deon mengerjapkan matanya sekali, lalu ia segera naik lagi ke atas lantaran takut ketahuan jika baru saja ia melihat sesuatu.


Izza melihat raut wajah majikannya berubah usai mengambil sendok di bawah meja. Pria itu menatap dirinya hingga membuatnya merasa aneh.


"Pak Deon kenapa?" Izza berhenti mengunyah makanannya.


Deon menggeleng kaku.


"Tidak, tidak apa-apa. Bisa ambilkan sendok yang baru? Ini kotor," pintanya kemudian.


"Oh, iya pak."


Izza langsung bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil sendok baru di pantry. Sementara Deon mengusap wajahnya untuk memastikan apa yang baru saja lihat itu nyata atau sekedar halusinasi.


Izza kembali dan memberikan sendok yang baru padanya.


"Terima kasih," ucap Deon.


"Iya, sama-sama," balas Izza.


Setelah itu hingga makan selesai, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Deon terus menyadarkan dirinya dan menepis pemikiran kotor tentang apa yang ia lihat dari asisten rumahnya sendiri.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2