GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 37


__ADS_3

Izza merutuki keboddohan dirinya usai pulang dari rumah sakit tadi. Kenapa juga ia harus pergi ke sana untuk menemui pria itu. Apa mungkin karena hampir setiap malam ia memimpikan kebersamaan dengannya.


Jika mengingat pria itu terbaring lemah tak berdaya di ranjang pasien seperti tadi dalam keadaan tidak sadarkan diri, ia jadi sedih. Sebenarnya Deon pria yang baik. Tapi mungkin ia mengenal pria itu di waktu yang salah. Salah karena ia terlalu mengharapkan pria yang jelas-jelas sudah menjadi suami perempuan lain.


Jika mengingat kebersamaan waktu itu bersama Deon, itu membuatnya bahagia sekaligus menyakitkan. Ia tidak mau hidup di dalam kenangan semanis apapun. Karena yang namanya hidup harus terus berjalan. Ia tidak boleh stuck di kehidupan itu.


Melihat jarum jam sudah menunjukan jam sebelas malam, ia memutuskan untuk tidur dan berharap tidak lagi memimpikan tentang Deon.


***


Tiga bulan kemudian.


Izza sudah terlihat ceria lagi. Dia bahkan terlihat bahagia jika main bersama anak-anak. Anak-anak panti pun sangat senang jika di ajak main olehnya.


Ia sudah mulai melupakan semua tentang Deon. Ia sudah belajar beradaptasi dengan kehidupan barunya. Ia juga berusaha menjadi sosok ibu yang hangat untuk anak-anak yang membutuhkan sosok ibu.


Sampai tiba waktunya makan siang. Bu Peni, pemilik panti itu memanggil dirinya.


"Zaa .."


Izza menoleh dan meminta anak-anak untuk pergi lebih dulu. Kemudian ia berjalan menghampiri bu Peni.

__ADS_1


"Ada apa, bu?" tanya Izza antusias.


"Tolong kamu cek tanaman bunga sebelah sana, ya. Kalau ada yang mati atau di makan ulat kamu beri tahu tukang kebun. Soalnya dia mau beli tanaman baru nanti sore."


"Bukannya tadi sudah di cek langsung sama tukang kebunnya, ya?"


"Iya, tapi tadi dia minta tolong di cek lagi."


"Oh. Baik, bu," jawab Izza nurut.


Bu Peni pun pergi dari sana. Izza merasa ada yang aneh dari bu Peni. Tidak biasanya beliau seperti ini. Tapi ya sudahlah, cuma ngecek tanaman saja tidak masalah.


Izza berjalan menuju tanaman yang harus di cek kata bu Peni. Ia tidak menemukan ada tanaman rusak ataupun di makan ulat. Karena tadi memang sudah di cek oleh tukang kebunnya.


"Tanamannya tidak ada yang-" Izza menggantungkan kalimatnya saat mendapati sosok yang ia kira bu Peni itu ternyata orang lain.


"Hai .." sapa orang itu mampu menggetarkan lagi hati Izza.


Izza tak berani menatap wajah itu. Wajah yang sudah susah payah ia lupakan selama beberapa bulan ini, kini muncul lagi di hadapannya.


"Untuk apa kamu datang lagi?" Izza memberanikan diri membuka suara, meski suaranya terdengar bergetar.

__ADS_1


"Karena kamu juga pada hari itu."


Izza mendongakan wajahnya dengan kerutan di kening. "Maksudnya?"


"Kamu datang ke rumah sakit kan di hari aku kecelakan?"


Izza kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Enggak, aku bahkan gak tahu kamu kecelakaan. Mungkin itu hanya alasan kamu saja supaya bisa ketemu aku lagi."


Orang itu terkekeh mendengar sangkalan dari dirinya.


"Aku mungkin pada saat itu gak sadarkan diri. Tapi sepupu aku yang bilang, ada wanita cantik yang datang dan berdiri di depan jendela ruangan sambil menangis. Katanya, wanita itu mirip dengan foto yang aku jadikan di hp aku."


Izza merasa agak bingung. "Maksudnya?"


Kemudian orang itu mengeluarkan benda pipih dari kantong celananya, dan memperlihatkan layar ponselnya yang berisi foto dirinya.


"Kata sepupu aku, orangnya mirip foto ini."


Izza menundukkan kepalanya. Ia masih ingat perkataan wanita yang ia temui di rumah sakit kala itu.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2