
Deon melepaskan pelukannya perlahan. Ia mengusap air mata di pipi Izza.
"Jadi kamu mau tidak jadi calon istri barunya aku?" tanya pria itu.
"Orang lain pasti tidak setuju dengan ini. Memangnya pantas, pelakor seperti aku bahagia dengan cintanya?"
"Apa maksud kamu?"
"Kita tidak boleh happy ending, Deon. Kita harus mendapat karma yang setimpal."
"Za, kamu bicara apa, sih? Lagian, selama ini aku juga udah ngerasain karma juga. Mungkin kecelakaan yang aku alami, yang membuat aku koma, adalah karma yang aku terima juga. Lagian, aku, kamu, kita berhak bahagia, Za. Mungkin di luar sana, Adell juga sudah bahagia dan mendapat karmanya juga. Tidak usah perdulikan apa kata orang lain, yang terpenting mulai saat ini kita ada kemauan untuk mengubah hidup jadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Memangnya kamu gak mau nikah sama aku?"
Izza bingung harus memberi jawaban apa. Lebih tepatnya ia masih gengsi untuk memberi jawaban jika ia pun sebenarnya mau menikah dengan pria itu.
__ADS_1
"Aku serius mau menikahi kamu, Za. Tapi kalau kamu memang gak mau, aku gak bakalan maksa. Yang terpenting kamu harus tahu, kalau aku tulus sama kamu. Kamu harus percaya itu. Apapun keputusan dan pilihan kamu, aku akan terima. Aku siap."
Izza terus berpikir. Apakah ia akan membohongi diri hatinya, atau justru ia akan memilih dan memutuskan sesuai dengan apa yang ia yakini.
Setelah lama berpikir, sebuah anggukan menjadi pertanda atas jawaban wanita itu.
"Iya, aku mau."
"Kamu yakin, Za?"
Izza mengangguk. "Iya, Deon. Seperti yang kamu bilang barusan. Kita berhak bahagia."
Deon menatap Izza dengan perasaan masih tidak percaya. Sudah empat bulan lebih tanpa adanya komunikasi, dan ia bertemu lagi dengan membawa perasaannya, berharap perasaannya terbalaskan. Ia pikir Izza akan menolak dan wanita itu sudah berubah, tapi nyatanya Tuhan masih baik padanya. Sebagai manusia yang tak luput dari dosa, Tuhan masih memberi bahagia untuknya. Mewujudkan harapannya.
__ADS_1
Deon membawa Izza ke dalam pelukannya, memeluk tubuh wanita itu erat-erat sampai pemilik raganya merasa pengap. Tapi tak apa, pelukan itu menjadi obat atas rasa rindu yang selama ini berusaha ia tepis.
Deon melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Izza dengan erat dan menatap wajah itu cukup lekat.
"Makasih, Za. Kamu masih beri aku kesempatan buat kita bersama."
Deon memeluk Izza kembali dan menumpahkan perasaan rindu yang selama ini ia pendam.
Kenapa Deon lebih memilih Izza di bandingkan memperbaiki hubungannya dengan Adell? Meskipun Deon cinta pada istrinya, tapi ia percaya jika seseorang mencintai dia hati dalam satu waktu, maka pilihlah wanita yang kedua. Karena jika ia benar-benar mencintai wanita yang pertama, ia tidak akan jatuh cinta pada wanita yang kedua. Lagipula, posisinya Adell juga mencintai pria lain. Dan cintanya juga pada saat itu sudah mulai teralihkan sepenuhnya untuk Izza. Bahkan berbulan-bulan tidak berhubungan dan komunikasi sekalipun, ia masih bisa menjaga perasaannya untuk Izza, begitupun dengan Izza. Ia berjanji, Izza akan menjadi yang terakhir untuknya. Mulai hari ini, ia akan belajar menjadi seseorang yang merasa cukup untuk sesuatu yang ia miliki.
_TAMAT_
Haiii .. Terima kasih sudah mengikuti perjalanan GAIRAH PEMBANTUKU. Semoga cerita ini bisa menghibur kalian semua. Jika berkenan, mampir di karyaku yang publish di KABEEM dengan judul CINTA DAN KEHORMATAN. Sampai ketemu di sana❤
__ADS_1