
Izza mencekeram kaus Deon mempererat pelukannya dan Deon dapat merasakan gundukan daging kembar Izza yang menempel ke tubuhnya dan terasa empuk.
Deon menyadari jika ini tidak seharusnya terjadi padanya. Tapi situasi ini membuatnya harus berempati pada Izza. Wanita itu sangat ketakutan dengan gelap. Apalagi petir terus menerus menyambar. Hujan tak kunjung reda. Padahal ini belum magrib tapi suasananya sangat gelap.
"Izza, kamu tunggu di sini sebentar, ya. Aku mau ambil senter dulu di kamar."
"Enggak, saya gak mau di tinggal. Saya takut, pak," rengek wanita itu.
"Sebentar aja, Izza. Kalau gak ambil senter justru kamu akan semakin takut karena gelap. Gak tahu kapan listrik akan menyala."
"Jangan tinggalin saya sendiri, pak. Kalau begitu saya ikut saja."
Tidak ada pilihan lain selain Izza ikut ke kamar untuk mengambil senter. Mereka berjalan masih sambil berpelukan melebihi suami istri yang aslinya. Izza berjalan dengan kedua mata terpejam. Ia melangkah mengikuti kemanapun Deon membawa dirinya menggunakan naluri.
"Kamu duduk dulu di sini, aku mau cari dulu senternya." Deon meminta Izza untuk duduk di tepi ranjang tempat tidurnya.
Izza pun menurut. Lagipula pria itu masih di sekitaran dirinya. Jadi tidak terlalu takut.
Deon mulai mencari senter di laci nakas. Ia biasanya menyimpan senter di sana. Tapi ia cari-cari tidak ada. Entah kemana. Setiap barang yang cari pasti mendadak hilang.
Izza menutupi telinganya dengan kedua tangan lantaran suara petir semakin lama semakin mengeras dan kerap. Suara hujan yang deras juga terdengar bergemuruh. Jika hujan tidak kunjung berhenti, bisa-bisa terjadi banjir karena air sungai pasti meluap.
__ADS_1
Deon berpindah mencari ke tempat lain dan masih di sekitar kamarnya.
"Sudah ketemu, pak?" tanya Izza memastikan karena lama sekali.
"Belum," jawab pria itu sibuk mencari.
Tangan Deon terasa meraba benda pipih dan ternyata itu ponselnya. Ia menghentikan pencarian senternya karena di ponsel pun ada senternya meski tidak seterang senter.
Deon menyalakan flash hp nya untuk di jadikan penerangan. Tapi ia mengeluh karena baterai hp nya sisa tujuh persen. Ia lupa men charger karena biasanya ia akan charger hp pada malam hari ketika tidur.
"Pakai flash hp aja, ya. Soalnya senternya gak ketemu juga," ujar pria itu sambil meletakkan ponselnya di atas nakas.
Kemudian pria itu duduk di samping Izza.
"Hp kamu masih banyak baterai nya? Ini punyaku tinggal tujuh persen dan pasti gak bakal bertahan lama."
"Gak tahu, pak. Saya belum sempat main hp lagi dari siang. Memangnya gak ada alat yang bisa menyalakan lampu ketika listrik padam ya, pak?"
"Ada, di belakang. Cuma harus pakai bahan bakar. Kebetulan bahan bakarnya habis."
Izza menghembuskan napas pelan. Tapi baginya ia lebih beruntung juga, di saat situasinya seperti ini, majikan perempuannya tidak ada. Coba saja Adell ada, Deon pasti bersama istrinya sekarang dan ia harus menahan diri dari rasa takut.
__ADS_1
Tidak ada pembicaraan lagi di antara keduanya. Mereka menatap ke arah jendela dimana sesekali petir menyambar dan memancarkan cahaya ke dalam kamar.
Izza hanya bisa mencekeram ujung bajunya sendiri saat ini sambil menahan takut. Ia berharap hujan segera berhenti begitupun dengan petir dan listrik segera menyala.
Deon memeriksa ponselnya, baterai hp nya tersisa tinggal dua persen. Itu artinya sebentar lagi ia hanya bisa mengandalkan cahaya petir yang masuk ke celah jendela.
Lima menit berikutnya, flash hp nya mati dan ruangan kembali gelap.
"Pak!"
Deon menekan tombol powernya lama dan ternyata hp nya benar-benar lowbat.
"Baterainya habis, Za."
"Yaahh .." keluh wanita itu.
"Gak apa-apa. Mudah-mudahan listriknya cepat menyala, ya."
"Iya, pak. Semoga saja."
Izza tidak mungkin memeluk pria itu lagi. Ia hanya bisa berdoa saat ini berharap listrik segera menyala dan hujan cepat mereda.
__ADS_1
_Bersambung_