
Sebelum Izza menjadi asisten di rumahnya, Deon merasa apa yang ia makan di restoran manapun tidak begitu ia perdulikan. Yang terpenting ia kenyang dan bayar. Namun, ia sekarang menjadi seseorang yang membandingkan masakan yang ia makan di restoran dengan makanan yang ia makan di rumah hasil masakan Izza.
Baginya, makanan di restoran kini terasa biasa saja. Meskipun makanan mahal dan memiliki ciri khas dari negara tertentu, ia lebih suka masakan lokal khas Izza.
Deon menyudahi makananya yang baru tersentuh sedikit. Rasanya ia ingin pulang saja dan meminta Izza masak untuknya.
"Kenapa gak habis, sayang?" tanya Adell melihat suaminya berhenti makan.
"Sudah kenyang," jawab Deon bohong.
"Really? Kamu baru makan sedikit itu."
"Iya, sudah kenyang, sayang."
"Mau aku suapin?" Adell menyendok makanan di piringnya namun Deon menolak.
"Enggak, aku sudah kenyang, sayang."
Adell merasa ada yang aneh dari suaminya. Deon biasanya suka dengan masakan khas Jepang bahkan tidak pernah menyisakan makanannya. Tapi kali ini, baru sedikit dia sudah bilang kenyang.
"Oh ya sudah, kalau begitu aku juga udah deh." Adell ikut berhenti makan.
"Eh, kenapa? Kamu makan aja, sayang. Aku beneran udah kenyang. Aku suapin aja gimana?" tawar Deon.
"Enggak ah, sayang. Aku udah gak selera makan."
"Gara-gara aku?" Deon menunjuk dirinya.
"Enggak, bukan."
"Ya terus?"
"Gak apa-apa sih, sayang. Aku rasa aku udah kenyang juga."
"Heh, serius?"
__ADS_1
Adell mengangguk. Kemudian mereka memutuskan untuk pergi dari sana karena sebelumnya makanan sudah di bayar.
Begitu keluar skat, langkah mereka di hentikan oleh dua gadis dari belakang.
"Kak, kak, tunggu!"
Adell menoleh begitu lengannya di sentuh oleh seseorang.
"Iya, kenapa?"
"Kakak owner skincare yang lagi viral di toktok itu, ya?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya."
"Aku juga pakai produk kakak dan hasilnya emang bagus banget."
"Serius?"
"Iya, kak. Kita mau minta foto sama kakak boleh, kak?" pinta yang satunya lagi.
Adell terlihat senang karena kedua gadis itu memakai produk skincare nya. Dengan baik hati ia memenuhi permintaan gadis itu.
Dua kali jepretan dan gadis itu tidak lupa mengucapkan terima kasih. Adell dan Deon lalu pamit duluan pergi usai mereka foto.
Sayup-sayup Deon mendengar gadis itu bisik-bisik usai ia pergi beberapa langkah dari sana.
"Eh, cowoknya kok beda sama yang pernah kita lihat di .."
Deon tidak bisa mendengar gadis itu sampai akhir kalimat karena ia keburu jauh dari sana. Ia penasaran apa lanjutan kalimat kedua gadis itu. Ia melirik istrinya dan wanita itu mengulas senyum padanya.
Sampai di parkiran. Mereka tidak segera masuk ke dalam mobil. Karena ada sesuatu yang ingin Deon bicarakan.
"Sayang .. Sepertinya aku batal ikut kamu ke tempat ketemuan kamu sama sahabat lama kamu itu."
Adell mengerutkan keningnya heran.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"
"Mm .. Aku harus balik ke kantor. Karena aku harus pastikan apa sekretaris aku bisa untuk handle masalah kantor sendiri atau tidak. Karena ini penting sekali," jelasnya.
Sebelumnya Deon sudah cerita pada istrinya mengenai masalah yang terjadi di perusahaannya tadi saat perjalanan menuju restoran. Di lanjut saat mereka melangsungkan makan.
"Oh iya, gak apa-apa, baby. Aku berharap urusan kamu cepat selesai, ya."
Deon mengangguk. Lalu mereka masuk ke dalam mobil untuk kembali ke kantor. Adell meninggalkan mobilnya di kantor suaminya.
***
Mobil Adell sudah pergi. Deon ada niat untuk membuntuti mobil istrinya untuk memastikan apakah dia benar-benar pergi untuk menemui sahabat lamanya atau ke tempat lain. Dari struk pembayaran hotel dan ucapan kedua gadis di restoran tadi menimbulkan sedikit kecurigaan.
Deon hendak mengikuti mobil istrinya. Tapi urung begitu ponselnya berdering mengeluarkan nomer tidak di kenal.
Deon mengabaikan panggilan teleponnya dan masuk ke dalam mobil tapi nomer itu meneleponnya lagi. Ia abaikan lagi dan jika nomer tersebut kembali menelepon, mungkin itu penting. Dan di panggilan masuk ketiga, Deon terpaksa menjawab teleponnya.
"Halo, siapa?"
"Pak, ini saya Izza. Tolong saya, pak. Saya terpeleset di kamar mandi. Aaaaww .."
Deon refleks menjauhkan pondelnya dari telinganya begitu mendengar seruan dan rintihan sakit dari sebrang telepon. Lalu ia tempelkan lagi benda pipih itu di telinganya.
"Hallo, Za. Kamu tenang tunggu sebentar, ya. Aku otw pulang sekarang."
"Ah iya, pak. Gak apa-apa ngebut, soalnya ini saya sakit banget, pak," ujar wanita itu.
Alih-alih mengingatkan dirinya supaya tidak ngebut, wanita itu justru malah memintanya untuk melakukan hal ekstrem itu.
Panggilan telepon di akhiri. Deon tertegun sejenak, ia bingung mengambil keputusan untuk pergi mengikuti istrinya atau pulang untuk menolong pembantunya.
Tanpa pikir panjang lagi, Deon menghidupkan mesin mobil dan mobil pun melesat pergi ke tujuan yang sudah ia putuskan matang-matang.
_Bersambung_
__ADS_1