GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 23


__ADS_3

Izza duduk di taman dengan uraian air mata yang mengalir deras di pipinya. Kenapa Deon jadi berubah cuek seperti tadi. Ia tidak habis pikir dengan cara berpikir pria itu.


Kemarin dan semalam hubungannya dengan pria itu baik-baik saja bahkan lebih dari sekedar dekat antara majikan dan pembantu. Tapi sekarang betapa menyakitkan melihat dia secuek ini.


Apa mungkin dirinya yang terlalu berharap. Tapi semalam Deon sendiri yang memulainya. Ia sama sekali tidak menggoda pria itu, dia yang datang sendiri padanya untuk melakukan hal yang memang seharusnya tidak dia lakukan.


Izza mendengar mesin mobil majikannya di hidupkan, itu artinya mereka sudah pergi. Ia menghapus air matanya dan beranjak pergi kembali ke ruang makan untuk membereskan bekas sarapan majikannya.


Izza mengelap mejanya bekas sisa roti dan yang lainnya sampai bersih. Kemudian menumpuk piring lalu ia bawa ke wastafel tempat cucian piring. Ia berdiri di sana untuk mencuci piring kotor tersebut.


Suasana cukup hening. Hanya suara air yang sengaja ia nyalakan dari keran. Tiba-tiba ia di kejutkan oleh tangan seseorang yang melingkar di pinggangnya dan memeluk dirinya dari belakang.


"Aah .." Izza benar-benar terkejut mendapati seseorang yang tiba-tiba memeluknya, begitu ia menoleh ke samping ternyata itu majikan prianya.


Pria itu menatap Izza dengan senyuman.


"Pak Deon!"


Izza memekik pelan saking kagetnya dan hampir tak percaya jika pria yang tadi cuek padanya kini sedang memeluk dirinya.


"Maaf, tadi ada istriku," ucap pria itu.


Izza membalikan badan dan berdiri berhadapan dengan Deon. Izza tampak mencari sesuatu di belakang pria itu.


Deon ikut menoleh ke belakang mengikuti arah pandang Izza.


"Cari apa?" tanya pria itu.


"Bu Adell-"


"Istri aku udah pergi," pungkas pria itu.


"Saya kira pak Deon berangkat bareng sama bu Adell."


"Enggak. Sengaja," jawab pria itu.


Izza memicingkan matanya. "Maksudnya?"


"Supaya bisa minta maaf ke kamu. Maaf karena aku nyuekin kamu tadi. Maaf juga untuk kejadian semalam."


Seketika raut wajah Deon berubah serius.


"Jujur, aku merasa bersalah karena sudah melakukan itu sama kamu. Gak seharusnya aku lakuin itu ke kamu, Za," imbuhnya.

__ADS_1


Izza menundukkan wajahnya lalu mengangguk sekali. "Iya. Gak apa-apa."


"Kenapa bisa gak apa-apa? Memangnya kamu gak merasa keberatan? Maksud aku, kenapa kamu gak coba untuk menolak ketika aku melakukan itu sama kamu?"


Deon jadi penasaran dengan itu. Izza jadi gugup dan salah tingkah. Bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan pria itu, sebab tidak mungkin ia bicara jujur kalau sebenarnya ia suka dengan pria tersebut.


"Mmm .." Izza berusaha mencari cara supaya Deon tidak menanyakan alasan itu padanya. "Oh iya, pak. Semalam pak Deon pindahin saya, ya?"


Hanya itu yang terpikirkan oleh Izza, ia berharap Deon tidak lagi menanyakan alasan yang tadi padanya.


"Oh iya, jam sebelas hujannya sudah reda dan listriknya sudah nyala. Aku dengar suara mobil Adell pulang. Terus aku pindahin kamu ke kamar kamu."


"Oh begitu. Mmm .. Kalau misalkan pak Deon merasa bersalah atas apa yang pak Deon lakukan terhadap saya semalam, kenapa pak Deon barusan memeluk saya?"


Deon diam mendapati pertanyaan Izza. Kini giliran dirinya yang tak bisa menjawab.


"Kamu keberatan ya?" Deon bertanya balik.


"Oh enggak," jawab Izza cepat.


"Kenapa enggak?"


"Ah anu .." Lagi-lagi Deon membalikan pertanyaan sehingga Izza yang tidak bisa menjawab pertanyaan pria itu.


Deon mengulas senyum, lucu melihat ekspresi wajah wanita yang usianya lebih tua darinya tapi terlihat lebih muda.


"Hm?" Izza agak terkejut mendengarnya, ia tidak habis pikir kenapa Deon terus mengobok-obok perasaannya.


"Apa kamu pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya dengan orang lain? Berapa kali? Sama siapa aja?"


Tiba-tiba Deon mempertanyakan hal itu padanya dan Izza merasa pertanyaan pria itu merujuk pada dirinya yang ternyata mudah untuk di ajak begituan. Meski demikian Izza sama sekali tidak merasa tersinggung karena ia merasa demikian.


Izza sadar jika ia belum menyelesaikan cuci piringnya, bahkan tangannya saja masih ada busa sabun.


"Maaf, pak. Saya mau lanjut cuci piringnya."


Izza membalikan badan lagi membelakangi pria itu, ia melanjutkan cuci piringnya yang sempat tertunda gara-gara pria itu.


Deon geleng-geleng kepala melihat tingkah Izza yang gugup seperti itu. Kemudian dia di buat gagal fokus oleh lekuk tubuh Izza di lihat dari belakang yang tampak aduhai. Ia memandangi tubuh Izza dari ubun-ubun sampai ujung kaki. Secara fisik Izza sangat menarik untuk siapapun yang melihatnya.


Deon membuka jas hitamnya, kemudian ia sampirkan ke kursi makan. Setelah itu ia berjalan menghampiri Izza lagi, memeluk tubuh wanita itu sambil menempelkan aset miliknya ke bagian panttat Izza.


"Eh, pak!" Izza kaget karena majikan prianya itu memeluknya lagi.

__ADS_1


Deon menempelkan dagunya di bahu Izza dan ia sama sekali tidak ada niatan untuk melepaskan pelukannya.


"Udah, lanjutin aja cuci piringnya."


"Tapi-"


"Aku tahu kamu juga suka kan, Za?"


Izza tidak menggeleng juga tidak mengangguk. Jujur, dalam hatinya ia bersorak kegirangan. Tapi ia berusaha untuk tidak menunjukan perasaannya itu.


Deon menggesekkan aset miliknya ke tengah-tengah panttat Izza yang empuk sambil menghirup aroma leher Izza yang wangi. Sehingga Izza bisa merasakan sesuatu yang hidup dan terasa mengganjal.


Tangan Deon yang semula hanya memeluk pinggang wanita itu kini mulai merayap ke atas bagian dada. Izza hampir mengeluarkan dessahhan saat pria itu memberi remmassan kecil di gunungnya.


Izza merasa jika ia bukan lagi seperti pembantu di rumah ini. Ia sudah seperti nyonya yang tengah bercinta dengan pria yang merupakan suaminya.


Perasaan geli menjalar di sekujur tubuh Izza saat Deon menggesekkan ujung batang hidungnya yang runcing ke daun telinga.


Iris mata Izza seketika melebar saat sebelah tangan Deon mulai meraba daerah intimnya. Ia memejamkan matanya untuk beberapa saat sambil menggigit bibirnya sendiri. Lalu ia pun tersadar.


"Sudah selesai, pak."


Izza membalikan badan memberi tahu pria itu jika ia sudah selesai mencuci piring.


"Oh bagus kalau begitu," jawab pria itu.


Izza menatap wajah pria di hadapannya. Ia berpikir akankah kejadian yang semalam akan terulang pagi ini. Jika benar, ia senang sekali tentunya.


Deon ingin melanjutkan yang barusan ia lakukan terhadap Izza, tapi urung begitu ia mendengar ponselnya berdering di saku jas.


Dia mengambil ponselnya dan menempelkan di daun telinga usai menggeser ikon hijau di layar.


"Halo, kenapa?"


Deon tampak mendengar apa yang akan di sampaikan oleh si penelepon.


"Oh, ok. Baik. Saya kesana sekarang."


Setelah itu ia mengakhiri panggilan teleponnya. Ia kembali melihat ke arah Izza.


"Za, aku mau ke kantor dulu, ya. Ada meeting penting dengan klien," pamit Deon.


Izza mengangguk. Pria itu memakai kembali jas hitamnya dan buru-buru pergi dari sana lantaran setengah jam lagi meeting akan segera di mulai.

__ADS_1


Izza masih mematung di tempat. Sudut bibir nya terangkat membentuk senyum kecil karena Deon izin pergi padanya. Dan apa yang sempat terjadi barusan, membuatnya terbang melayang. Sedikit lagi, ia hampir gila karena majikannya sendiri.


_Bersambung_


__ADS_2