GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 32


__ADS_3

Jam setengah enam pagi Deon terbangun karena mendengar dering panggilan masuk ke ponsel istrinya. Ternyata pemiliknya sedang di kamar mandi. Terpaksa ia yang menjawab telepon tersebut. Namun, belum kunjung di angkat, telepon sudah berhenti.


Ting ..


Notifikasi pesan masuk menyusul. Deon yang mengurungkan niat untuk meraih ponsel istrinya kembali bangun dan meraih benda pipih tersebut. Melihat siapa pengirim pesan tersebut.


F [emoticon love]:


Good morning, baby. Jangan lupa temui aku jam delapan pagi di kantor aku, ya. Aku kangen banget sama kamu. Love you, my princess.


Seketika darah Deon mendidih usai membaca pesan tersebut. Ia naik pitam. Apa yang selama ini curigai benar adanya.


Ia hendak bangun dari tempat tidur untuk menghampiri istrinya di kamar mandi. Akan tetapi ia rasa Adell akan menyangkal. Oleh karena itu ia harus tetap tenang dan bermain lebih cantik juga.


Deon mendengar suara shower berhenti. Ia pikir sebentar lagi istrinya akan keluar dan dengan cepat meletakkan kembali ponselnya di tempat semula. Setelah itu ia mengambil posisi tidur.


Pintu kamar mandi terbuka, Deon memejamkan matanya. Terdengar derap langkah mendekat.


"Ah ya ampun, kamu masih tidur, baby."


Adell mengecup bibir Deon singkat. Sebelum kemudian perhatiannya beralih pada layar hp nya yang menyala. Ia melirik suaminya dan memastikan jika Deon masih tidur sebelum meraih ponselnya.


Ada pesan masuk berasal dari F yang ia beri emoticon love ujungnya. Sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum kecil. Ia mengetikkan balasan di room chat tersebut.


"Aku harus dandan lebih cantik hari ini," ujar wanita itu.


Deon berusaha menahan amarahnya yang ingin meledak saat ini juga. Tapi ia harus sabar dan tenang dalam menghadapi ini.


Langkah Adell terdengar menjauh dan terdengar pintu lemari di buka. Mungkin dia sedang mencari pakaian yang pantas di pakai untuk menemui sosok inisial F itu.


Cukup lama Deon pura-pura tidur. Karena Adell merias wajah. Ia berusaha lebih sabar lagi karena jika ia bangun, maka emosinya akan meluap seketika itu juga.


Langkah Adell terdengar mendekat. Ia merasakan tangan mengusap pipinya.


"Sayang .."


Mungkin ini saatnya Deon pura-pura baru bangun. Ia membuka kelopak matanya secara perlahan.


"Mm apa, sayang?" sahut pria itu seraya menggeliatkan badan.


"Aku berangkat duluan, ya. Soalnya orang di kantor aku telepon minta aku buat datang lebih awal. Kamu gak apa-apa, kan?"


Deon mengangguk. "Iya, hati-hati."


"Ok, baby."


Cup!


Adell meninggalkan ciuman di bibir Deon, kemudian dia pergi dan melambaikan tangannya sebelum dia benar-benar hilang di telan pintu.


Setelah Adell pergi keluar kamarnya. Deon langsung bangun dan mengambil hp nya. Mencari kontak seseorang yang bisa membatu dirinya saat ini. Setelah ketemu, ia mendial kontak tersebut.


"Halo, Ga. Kamu bisa bantu saya?"


"Saya minta kamu stay di perempatan jalan menuju rumah saya, nanti akan ada mobil istri saya, terus kamu ikuti mobilnya kemanapun dia pergi," pinta Deon.


"Baik, terima kasih. Kalau kamu berhasil, nanti saya akan tf tiga kali lipat dari bayaran biasanya."


Panggilan telepon pun di akhiri. Deon berharap orang suruhannya biasa mengikuti mobil Adell sampai ia tahu dia pergi kemana untuk menemui siapa.


Di dapur, seroang wanita tengah berdiri melamun sambil memasak. Ia kepikiran apa yang ia dengar tadi malam dari kamar majikannya. Sebelum ia tertidur semalam usai menangis, ia sempat berciuman panas dengan pria itu. Melakukan lagi apa yang pertama kali mereka lakukan ketika hujan petir dan listrik padam. Namun anehnya, Deon lagi-lagi memintanya memainkan pusaka miliknya menggunakan tangan agar sampai pada puncak permainan. Padahal dia bisa memasukan langsung dan ia sama sekali tidak keberatan untuk melakukannya.


Dan apa yang ia dengar semalam membuatnya jadi iri. Jujur kali ini ia berubah menjadi sosok yang egois. Yang ingin memiliki pria itu seutuhnya. Keinginan menyatukan diri dengan pria itu kini semakin membesar. Jika mendapat kesempatan berdua lagi dengan pria itu, maka ia yang akan melakukannya.


"Bau apa ini?" teriak seseorang dari kejauhan membuyarkan lamunan Izza.

__ADS_1


Wanita itu tersadar jika saat ini ia sedang memasak nasi goreng. Akibat melamun, nasi gorengnya gosong.


"Ah ya ampun, nasi gorengku."


Izza panik dan dengan cepat mematikan kompor. Padahal nasi goreng itu akan menjadi menu sarapan untuk Deon.


"Masak apa?" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.


"Nasi goreng. Tapi gosong," jawab wanita itu lesu.


"Kenapa bisa gosong?"


"Mikirin-" Izza menggantung kalimatnya, ia tidak mungkin mengatakan jika ia memikirkan pria yang saat ini berdiri di sampingnya.


"Mikirin apa?"


Izza menggelengkan kepala.


Deon melihat nasi goreng di wajan tersebut. Sepertinya hanya gosong bawahnya saja. Ia berjalan mengambil sendok dan menyendok nasi goreng di wajah tersebut.


"Eh jangan di makan! Ini gosong." Izza menghentikan pria itu tapi Deon mengabaikannya.


Deon memakan sesuap nasi goreng tersebut dan rasanya tidak terlalu buruk.


"Ini masih bisa di makan. Enak," katanya.


"Hah, serius?"


Deon mengangguk membenarkan.


"Coba deh." Deon memberikan sendoknya pada Izza dan wanita itu mencoba nasi goreng itu sedikit.


"Enak kan?"


"Iya, tapi kan gosong."


"Serius mau makan yang ini aja? Atau aku bisa buat ulang dari awal."


"Jangan, ini juga enak. Aku mau makan sekarang."


Izza menatap Deon. Dari wajahnya pria itu tidak sedang berbohong. Kemudian ia hidangkan dua piring nasi goreng di meja makan. Satu untuk Deon, satu lagi untuknya.


"Kaki kamu udah sembuh?" Deon membuka obrolan saat mereka sedang makan.


"Iya, udah. Ini berkat kamu. Kamu datang tepat waktu kemarin."


"Kalau aku gak datang?"


"Aku mungkin tidur di kamar mandi."


Deon seketika terkekeh mendengar jawaban Izza.


"Syukurlah kalau kaki kamu udah sembuh."


Deon lanjut menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Walaupun sedikit gosong, tapi itu sama sekali tidak menghilangkan cita rasa.


"Semalam kamu keluar dari kamar aku jam berapa?" tanya Izza kemudian.


"Jam sembilan."


"Oh ya?"


"Iya, kenapa?"


"Padahal aku tidur jam delapan. Kenapa kamu gak langsung keluar begitu aku sudah tidur?"

__ADS_1


"Gak apa-apa, kan aku bilang sama kamu sebelumnya. Kalau aku nemenin kamu sampai istri aku pulang."


Izza diam. Ia menghentikan makannya dan menatap pria yang duduk di hadapannya.


"Selama kamu nemenin kamu tidur, kamu ngapain aja?"


"Maksudnya?"


"Enggak, maksud aku kamu cuma diam?"


Deon mengangguk. "Iya, lihatin kamu."


"Cuma lihatin aja?"


Deon mengangguk lagi. "Iya."


"Mm .. Selama kamu lihatin aku saat tidur, apa yang kamu pikirkan?" tanya Izza lagi.


"Gak ada."


"Yakin?"


"Iya, kenapa emangnya?"


"Apa kamu gak ada pikiran buat ngelakuin apa yang kamu lakuin sama bu Adell ke aku?"


"Uhuk uhuk .."


Tiba-tiba Deon tersedak makanan. Dengan cepat ia mengambil gelas air minum yang sudah di tuangkan oleh Izza sebelumnya dan meminumnya sedikit.


Deon menatap wajah wanita di depannya. Izza tampak serius dengan obrolannya.


"Apa kamu gak ada pikiran buat lakuin itu ke aku, Deon?" ulang wanita itu.


"Za-"


"Aku gak bakalan marah kok kalau misalkan kamu mau ngelakuin sama aku. Aku pasti bakal melayani kamu lebih dari bu Adell."


Izza bangkit berdiri dan duduknya, berjalan mengitari meja untuk sampai ke sebrang. Ia berdiri di samping pria itu.


Deon menatap Izza dan melihat ada yang aneh dari wanita itu. Kerasukan apa Izza sepagi ini? Apa efek nasi goreng gosong?


Izza mengusap pipi Deon dan mendaratkan ciuman di bibir pria itu. Satu tangannya mengambil tangan Deon dan ia letakan di dadanya.


Setelah tangan Deon mengikuti keinginannya, barulah ia merrabba pahha pria itu dan berakhir di aset berharga. Mengelus aset pria itu sampai merasakan sesuatu yang bangun hidup dan mengeras.


Izza membuka satu persatu kancing piyama tidur yang di kenakan oleh Deon. Melepas piyama tersebut dan melemparnya ke sembarang arah. Kemudian ia membuka pakaiannya sendiri menyisakan brraa dan rok mini yang yang masih terpasang.


Wanita itu melingkarkan tangannya di leher Deon dan mengarahkan dadanya pada wajah pria itu. Kemudian dengan kode meminta agar Deon melepas brraa hitamnya sampai tellanjjang dada.


Deon mengemut kedua boba gunung kembarnya dan ia merasakan geli di sekujur tubuhnya. Tak ingin berlama-lama lagi, Izza membuka celana Deon, menurunkan sampai lutut hingga terlihat dengan sangat jelas burung pria itu sudah berdiri tegak.


Izza menurunkan cellana dalamnya, tanpa menurunkan rok mininya, ia langsung duduk ke pangkuan pria itu dan mengambil posisi supaya burung Deon masuk ke sangkarnya.


Ia mengalungkan tangannya di leher pria itu dan mulai menggerakan pinggulnya naik turun seperti gerakan memompa. Dan ..


"Aaahhh .."


Tiba-tiba Izza berteriak sambil menutupi wajahnya membuat pria yang duduk di hadapannya terheran-heran.


"Za, kamu kenapa?" tanya pria itu khawatir.


Izza membuka kedua tangannya yang ia gunakan untuk menutupi wajah dan menatap pria itu sambil kebingungan. Sedetik kemudian ia tersadar jika semua itu hanya halusinasinya belaka.


"E-enggak, gak apa-apa," jawab wanita itu gugup dan terbata.

__ADS_1


Izza melihat Deon masih sibuk makan dan ia menatap dirinya sendiri. Keinginan terbesarnya membuat ia jadi berhalusinasi. Padahal obrolan terakhirnya dengan pria itu berakhir ketika Deon menjawab jam sembilan. Selanjutnya, ia mulai halusinasi.


_Bersambung_


__ADS_2