
"Kata sepupu aku, orangnya mirip foto ini."
Izza menundukkan kepalanya. Ia masih ingat perkataan wanita yang ia temui di rumah sakit kala itu.
"Apakah kamu orangnya?"
Ia memang tidak begitu paham apa maksud pertanyaan wanita itu. Karena ia berpikir jika wanita itu adalah istri barunya.
"Jadi dia sepupumu?" tanya Izza kemudian.
"Iya. Memangnya kamu berpikir dia siapa?"
Izza menggeleng. Ia tidak berani mengatakan jika ia berpikir itu istri barunya.
"Bagaimana kabar bu Adell?" tanya Izza lagi, entah kenapa tiba-tiba ia menanyakan soal wanita itu.
"Aku tidak tahu. Kami sudah resmi berpisah sejak hari itu. Mungkin sekarang dia sudah bahagia dengan kehidupannya. Kami tidak pernah ada lagi komunikasi, dan tidak pernah berpikir ada hubungan lagi."
Beberapa minggu lalu Izza melihat bisnis skincare milik wanita itu di gandrungi oleh para remaja yang ingin glowing. Mungkin Adell memang sudah bahagia dengan hidup yang dia jalani sekarang.
"Za .." panggil pria itu lirih.
Izza menatap wajah pria itu yang tampak serius sekali.
"Aku datang kesini karena ada yanga ingin aku beritahukan sama kamu."
__ADS_1
"Apa itu?"
Deon menghela napas panjang, sebelum kemudian ia mengatakannya.
"Aku mau menikah lagi."
Degg!
Tiba-tiba sekujur tubuh Izza membeku. Ia merasa degup jantungnya berhenti. Seharusnya ia biasa saja, atau ikut senang mendengarnya. Tapi entah kenapa, mendengar itu justru ia merasakan ada sesak di dada, dan ia coba untuk menahan nya, menutupinya dengan tersenyum.
"Aku mau kamu datang. Aku tidak menerima alasan apapun. Kamu harus datang, Za."
Izza mengangguk kaku. Ia berusaha untuk ikut bahagia, meski matanya sudah terasa sangat panas.
"Pasti. Aku pasti akan bahagia. Karena aku mau menikah dengan orang yang kucintai."
"Selamat. Selamat, Deon."
"Iya, Za. Boleh aku memperkenalkan calon istri aku ke kamu?"
"Ah iya, tentu saja."
Sebenarnya sesak, tapi Izza berusaha untuk tegar di hadapan pria itu. Mungkin ia memang harus benar-benar move on.
Ckrek ..
__ADS_1
Tiba-tiba Deon memotret dirinya. Ia di buat heran oleh itu.
"Kenapa kamu mengambil gambarku?" tanya Izza bingung.
"Karena aku ingin mengenalkan calon istri aku ke kamu. Dan ini calon istri aku." Deon memperlihatkan foto hasil jepretannya.
"Cantik kan?" imbuh pria itu bertanya.
Mata yang terasa panas sejak tadi kini sudah mengumpulkan bulir bening di pelupuk kedua mata. Entah apa maksud pria itu, yang pasti Izza merasa ingin menangis. Melihat itu, Deon jadi panik.
"Hei, kenapa nangis?"
Di tanya seperti itu, tangis Izza semakin mengeras. Deon bahkan khawatir tangisan Izza mengundang perhatian banyak orang yang ada di panti, meski saat ini mereka sedang berada di taman panti tersebut.
Deon lekas membawa Izza ke dalam pelukan. Ia berusaha menenangkan wanita itu dengan mengusap punggung beberapa kali.
"Kamu orang paling jahat yang pernah aku temui, Deon. Kamu jahat. Kamu jahat. Hiks.."
Tangis Izza semakin menjadi. Deon bingung kenapa Izza mengatakan dirinya jahat.
"Aku susah payah lupain kamu, setelah aku hampir berhasil, kamu datang lagi ke kehidupan aku. Kamu merusak semuanya."
Izza benar-benar merasa gagal. Munafik jika ia bilang tidak rindu. Pelukan pria itu mampu mengembalikan seluruh kehidupannya yang sempat hilang, yang sempat ia paksa buang.
_Bersambung_
__ADS_1