
Izza berdiri di depan pantry dapur tanpa memudarkan senyumannya. Ia kira pria itu kan ikut marah juga padanya, tapi ternyata dia justru membela dirinya di depan istrinya sendiri. Di tambah lagi, sempat-sempatnya dia meminta agar dirinya masak lagi yang enak, padahal jelas-jelas istrinya sedang merasa kesal.
Senyum Izza tiba-tiba hilang. Mengingat apa yang tidak sengaja ia lihat barusan. Ia kembali sadar diri, jika perlakukan baik Deon hanya sebatas majikan dan pembantu. Tidak lebih dari itu. Sebab Deon pasti begitu mencintai istrinya. Bahkan sekarang mereka pasti sedang melanjutkan hubungan suami istri di siang bolong sebagai pelepas rasa rindu karena semalam Adell tidak pulang.
Meski demikian, Izza tak berhenti berharap dan menyerah begitu saja. Jika ia sudah suka terhadap seseorang, maka ia akan berusaha menggapainya. Tidak perduli siapapun itu. Yang penting dia tidak merebut milik orang lain secara paksa. Ia membiarkan semua berjalan begitu saja.
"Aaww .."
Tiba-tiba Izza meringis kesakitan pada saat luka di jarinya kembali mengeluarkan darah sebab perban semalam sudah ia buka. Izza mengingat apa yang semalam Deon lakukan untuk menghentikan darah lukanya. Lalu ia memasukan jarinya ke dalam mulut seperti apa yang di lakukan oleh pria itu.
Izza berjalan menuju wastaffel tempat cuci piring dan memuntahkan darah yang baru saja ia hissap dari jarinya. Darah pun berhenti mengalir. Ia bergegas pergi menuju ruang televisi untuk mengambil kotak p3k yang semalam dan membungkus jarinya dengan perban. Ia kira itu hanya luka kecil, tapi cukup lumayan juga.
Setelah selesai membungkus jarinya dengan perban, barulah ia mulai memasak untuk makan siang nanti. Ia berharap menu makan siang ini di sukai oleh Deon.
Deon membaringkan tubuhnya di sisi sebelah istrinya usai pelepasan cairan yang ia tembakan di dalam rahim istrinya. Napas pria itu terdengar tersengal dan memburu. Keringat bercucuran di pelipisnya. Sementara Adell pergi ke kamar mandi.
Deon berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Sambil berpikir jika ini mungkin waktu yang tepat untuk membicarakan soal keinginannya memiliki anak. Ia sudah tidak bisa menunda lagi soal ini.
Adell kembali dari kamar mandi, wanita itu berdiri di depan lemari besar untuk mengambil pakaian sebab tubuh polosnya saat ini hanya di balut dengan handuk.
Deon bangun dan duduk, mengambil celana yang tadi ia lempar ke lantai menggunakan jangkauan kakinya yang panjang. Setelah itu ia pakai kembali celananya.
"Hari ini kamu gak ke kantor lagi kan?" tanya Deon memastikan sambil memakai celana.
"Enggak. Kenapa?" Adell bertanya balik.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
Adell diam sejenak sambil menatap wajah suaminya. "Apa?"
__ADS_1
"Pakai dulu saja bajumu."
"Ok."
Adell mempercepat diri. Ia penasaran apa yang ingin di bicarakan Deon padanya. Deon duduk menyandar di sandaran ranjang tempat tidur, tidak lama kemudian Adell menyusul duduk di sebelahnya.
"Kamu mau bicara apa, baby?" tanya Adell dengan sangat antusias.
Deon sudah memikirkan ini matang-matang. Jadi keinginannya ini harus segera di sampaikan tanpa di tunda lagi.
"Aku ingin punya baby," ungkap pria itu.
"Hah??" Adell terkejut dan dia tampak tidak suka mendengarnya.
"Sayang .. Kamu gak salah?" Adell memastikan jika ia tidak salah dengar.
Adell menggelengkan kepalanya. "Kamu mimpi apa tiba-tiba ingin punya baby?"
Deon mengerutkan keningnya. "Kok mimpi apa, sih? Ya wajarlah aku ingin punya anak. Tujuan menikah untuk mendapat keturunan. Memangnya kamu gak mau?"
"Deon, kamu tahu kan kita ini sekarang lagi sibuk-sibuknya. Kamu juga tahu sendiri aku lagi banyak urusan. Tolong lah kamu mengerti situasinya."
"Ya, aku mengerti. Setidaknya setelah urusan kamu clear, kita program kehamilan."
"Aku gak setuju."
"Why?"
"Aku rasa belum saatnya kita punya baby. Aku sibuk, kamu apalagi. Terus nanti siapa yang ngurus anak kita setelah lahir?"
__ADS_1
"Ya kamu, lah."
"Aku? Terus gimana sama bisnis aku?"
"Kamu tinggalkan."
"What? Are you crazy, Deon?"
Deon menghela napas dalam-dalam. Ia sudah menduga jika ini pasti akan berujung dengan perdebatan. Tapi ia sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya.
"Sayang, kamu CEO produk skincare kamu. Dan kamu gak perlu hadir setiap hari di kantor. Kamu pasti punya orang kepercayaan bukan? Kamu berikan kepercayaan penuh untuk orang kamu itu, biarkan dia menghandle semuanya."
"Tidak semudah itu, Deon!"
"Ya terus, sampai kapan kamu mau menunda kehamilan anak kita?"
Adell berdecak. Entah kenapa ia tidak suka jika Deon sudah membahas soal anak. Ia masih ingin bebas tanpa ada beban. Ini yang membuat ia malas.
Adell turun dari ranjang tempat tidur dan menghentakkan kakinya. Dia menyambar ponsel dan kunci mobilnya di atas nakas, setelah itu pergi keluar kamar.
"Sayang kamu mau kemana? Kita belum selesai bicara, sayang," seru Deon.
Adell tidak perduli dengan panggilan Deon. Dia tetap pergi tanpa menghiraukan suaminya.
"Hei, Adell ..!!"
Panggilan Deon sama sekali tidak di gubris. Adell benar-benar marah padanya. Padahal yang harusnya marah itu dirinya. Deon hanya bisa menghembuskan napas seraya mengusap wajah sedikit kasar.
_Bersambung_
__ADS_1