
Izza tidak mau diam dan terus merengek ketakutan melihat adegan drama tersebut dan meminta Deon untuk segera mengganti channel nya. Dia tidak sadar jika tangannya sedari tadi menggesek area penting Deon.
"Pak Deon, saya mohon ganti chanell nya, saya takut adegan seperti itu." Izza memohon sambil mengeratkan pelukannya.
Deon hanya bisa menghela napas. Bagaimana ia bisa menjangkau remot televisinya jika Izza terus memeluk dirinya.
"Pak, cepat ganti channel nya," pinta Izza untuk yang kesekian kalinya.
"Iya, iya. Aku ganti. Tapi tolong lepaskan dulu tangan kamu."
Izza berhenti merengek. Ia membuka kedua matanya dan sadar ternyata sedari tadi ia memeluk majikannya. Wanita itu spontan mundur dan menjauh dalam keadaan mulut terbuka sempurna.
"Apa aku barusan memeluknya?" gumam wanita itu tidak sadar.
Deon menjangkau remot televisinya kemudian ia alihkan pada drama lain. Masih tentang drama Korea namun bukan tentang psikopat. Yang sekarang full romance.
Izza melihat kemanapun Deon bergerak. Ia masih tidak percaya jika dirinya baru saja memeluk pria itu.
__ADS_1
"Saya minta maaf, pak," ucap Izza kemudian berharap pria itu tidak marah padanya.
"Iya, gak apa-apa," jawab Deon dan kembali fokus melihat tayangan dramanya.
"Saya baru saja memeluk pak Deon. Apa pak Deon akan memotong gaji saya?" Izza sempat sempatnya cemas soal gajinya.
Deon diam. Dia sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Izza. Pria itu fokus pada tayangan di layar televisi. Kali ini tentang perselingkuhan. Dimana si pria di selingkuhi oleh kekasihnya.
Tayangan tersebut menarik perhatian Izza. Melihat wajah majikannya tampak serius sekali, ia pun ikut fokus pada dramanya.
"Selingkuh adalah suatu kesalahan besar. Dan kesalahan di bayar dengan maaf itu curang. Selingkuh harus di balas dengan perselingkuhan juga," ucap si pria kemudian menarik tangan wanita yang merupakan sahabat kekasihnya, lalu dia mencium wanita tersebut nya di depan kekasihnya.
Ujung ekor mata Deon tidak sengaja melihat ke arah Izza. Sebelum kemudian dia menatap wanita yang tengah menggigit dan juga sesekali menjillat bibirnya sendiri ketika menyaksikan adegan ciuman tersebut.
"Hei, kamu ngapain?"
Pertanyaan Deon sontak mengalihkan perhatian Izza dari layar televisi. Wanita itu kemudian menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Enggak, saya gak ngapa-ngapain," jawab Izza gugup lantaran ketahuan menggigiti bibirnya sendiri.
Bibir pink kemerahan tanpa polesan lipstik milik Izza tampak sedikit basah. Hal itu membuat Deon lagi-lagi harus meneguk salivanya dengan susah payah. Ingin sekali ia melahap bibir mungil itu, tapi ia sadar dan segera menepis pemikiran itu. Ia sadar jika hal itu tidaklah mungkin ia lakukan.
Akan tetapi, semakin ia tahan, keinginan itu semakin mendorong dirinya untuk melakukannya.
Sampai akhirnya, suara sambaran petir yang begitu keras membuat listrik padam.
"Aaaaa .."
Ketika itu pula, Izza kembali menghambur ke dalam pelukan Deon dan pria itu menangkap tubuh Izza. Keduanya berpelukan dalam keadaan ruangan gelap.
Izza memeluk Deon dengan sangat erat, dia bersembunyi di balik dada bidang pria itu.
"Pak, saya takut .." rengek wanita itu.
"Kamu tenang aja, ada aku," jawab pria itu sambil mengeratkan pelukannya supaya Izza merasa aman.
__ADS_1
_Bersambung_