
Izza masih duduk selonjor di lantai kamar mandi karena kakinya sulit untuk berdiri. Ia sudah mencobanya berulang kali namun tetap saja kesulitan dan butuh bantuan. Ia juga sudah berteriak meminta tolong berharap ada tetangga yang mendengar suara teriakannya. Namun ia sadar, dia siang bolong orang-orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Wanita itu memang suka membawa ponsel ke kamar mandi dan menyetel musik ketika sedang mandi. Beruntung ia belum tellanjang bulat. Dan baru baju dan celana saja yang ia buka. Tanktop putih polos dan celana street hitam polos sebatas pahha yang ketat belum sempat ia buka.
Dia terjatuh karena ada setetes sabun cair yang mungkin terjatuh saat ia mandi pagi. Itu membuat lantainya licin dan ia terpeleset. Kakinya memang tidak mengeluarkan darah, tapi sakitnya luar biasa dan mungkin nanti akan memar.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dia mendengar suara mobil berhenti di halaman depan rumah. Ia yakin jika itu pasti majikan prianya. Tidak lama kemudian, terdengar pintu kamarnya di buka seseorang.
"Pak, tolong saya!" teriak Izza dan pintu kamar mandi pun terbuka, muncul Deon dari balik pintu.
"Astaga, Izza!"
Reaksi Deon terkejut sekaligus khawatir melihat wanita itu terduduk di lantai kamar mandi. Dengan cepat ia mendekat dan berjongkok di depan Izza.
"Kamu gak apa-apa?" seru pria itu sambil memegang bahu wanita di hadapannya.
"Sakit, pak. Kalau saya gak apa-apa, saya gak mungkin sampai minta pak Deon untuk pulang tolongin saya," jawab wanita itu.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Deon langsung membopong tubuh Izza hingga membuat wanita itu terkejut bercampur rasa senang. Deon membawanya dan membaringkan di atas ranjang tempat tidur. Menumpuk dua bantal dan satu guling untuk di jadikan sandaran.
"Aaw .. Pelan-pelan, pak!" pinta wanita itu.
"Iya, maaf."
Deon meluruskan kaki Izza dengan pelan dan sangat hati-hati. Lalu pria itu duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Aaw .. Sakiitt .." Izza merintih sambil terus memandangi kakinya, apalagi bagian bokong itu sakitnya luar biasa.
"Kenapa bisa terpeleset?" Akhirnya Deon membuka suara mempertanyakan.
"Ada sisa sabun di lantai bekas mandi tadi pagi, jadi licin."
"Kamu gak bisa berdiri tapi bisa ambil hp. Gimana ceritanya?" tanya Deon lagi.
"Beruntung saya suka bawa HP ke kamar mandi buat nyetel musik, pak. Jadi saya bisa telepon pak Deon buat tolongin saya. Suara saya sudah hampir habis teriak minta tolong sama tetangga, tapi gak ada yang denger."
Deon kemudian memandang wajah Izza yang tidak berhenti merintih kesakitan.
"Kamu dapat nomer aku darimana?"
"Saya punya nomer pak Deon dari seseorang yang merekomendasikan saya untuk kerja di rumah ini. Saya juga masih simpan nomer bu Adell, tadinya saya mau telepon bu Adell buat tolongin saya, tapi saya rasa itu akan sia-sia. Dan saya berpikir lebih baik telepon pak Deon saja. Dan terbukti kan pak Deon datang dan tolongin saya. Terima kasih ya, pak," jelasnya.
Deon menghembuskan napas mendengar cerita wanita itu.
"Gara-gara kamu aku jadi gagal buat ikutin istriku tadi," celetuk pria itu.
"Hm? Maksudnya ikutin istri pak Deon gimana?" Izza tidak paham maksud Deon.
Deon mengabaikan pertanyaan Izza. Ia rasa itu tidak perlu di ceritakan. Biarlah itu menjadi urusannya tanpa perlu Izza tahu.
Tangan pria itu lekas memegang kaki Izza. Sontak saja wanita itu menjerit kesakitan.
__ADS_1
"Aaaaa ..."
Dengan cepat Deon mengangkat tangannya ke udara, padahal belum sempat ia pegang. Hanya tersentuh sedikit saja.
"Pak Deon mau apa?!" seru wanita itu.
"Memangnya sakit sekali, ya?"
"Iya, sakit, pak."
"Kalau begitu kamu mau aku bawa kemana? Rumah sakit atau-"
"Tukang pijat saja," pungkas Izza.
"Tukang pijat?"
Izza mengangguk. "Iya, kira-kira sekitar sini ada tukang pijat gak ya? Tapi yang bisa datang ke rumah."
"Ok, aku cari tukang pijat sekitar sini."
Deon bergegas bangun dari duduknya dan pergi dari kamar tersebut. Sementara Izza merintih kesakitan sampai keluar air mata. Ia harap tidak terjadi sesuatu buruk. Karena tidak sedikit orang yang jatuh di kamar mandi bisa berakibat fatal bahkan tidak jarang ada yang sampai meninggal.
"Aaaww sakiitt .." Tak tanggung-tanggung ia menumpahkan tangisnya sendirian.
_Bersambung_
__ADS_1