
Setelah saling diam untuk waktu yang cukup lama, akhirnya Izza memberanikan diri untuk membuka suara membelah keheningan.
"Pak Deon .." panggil Izza lirih.
"Hm? Kenapa, Za?" jawab Deon antusias.
"Pak Deon tadi bilang lagi ada urusan sama bu Adell. Kenapa pak Deon memilih pulang untuk saya?"
Deon terdiam sejenak sambil menyusun kalimat untuk menjawab pertanyaan Izza.
"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku sebagai seorang majikan harus bertanggung jawab terhadap asisten rumah sepenuhnya," jawab pria itu.
"Tapi urusan rumah tangga pak Deon jauh lebih penting ketimbang saya kan, pak?"
"Iya, tapi keselamatan kamu juga lebih penting."
"Akan lebih baik pak Deon menyelematkan rumah tangga," sahut wanita itu.
"Maksud kamu?" Deon tidak paham.
"Saya tidak mau karena ini dan gara-gara saya, hubungan pak Deon dan bu Adell renggang." Izza mencoba untuk sadar diri.
Deon terdengar menghela napas panjang.
"Jika aku tidak datang tadi, maka siapa yang menolong kamu? Mungkin sampai sekarang kamu masih duduk tuh di kamar mandi. Kedinginan di tempat lembab. Mana gak pake baju lagi."
Izza spontan menundukan wajah dan melihat tubuhnya yang hanya sebatas memakai tanktop yang memperlihatkan bellahhan dadanya dengan jelas dan celana street sebatas paha yang ngetat.
"Terima kasih, pak Deon. Tapi, kenapa pak Deon sangat baik sama saya sampai pak Deon mengesampingkan rumah tangga atas dasar rasa tanggung jawab pak Deon sebagai majikan terhadap pembantunya."
Deon kembali diam seribu bahasa. Entahlah ia juga tidak tahu kenapa bisa mengambil keputusan untuk pulang menolong Izza di bandingkan dengan pergi mengikuti istrinya. Untuk saat ini ia memilih untuk percaya saja pada Adell, karena ia pikir Adell tidak seperti apa yang ia curigai.
"Pak Deon, kenapa pak Deon diam saja?"
__ADS_1
Deon masih tidak menjawab. Ia mengabaikan sederet pertanyaan Izza.
"Pak Deon tolong jawab pertanyaan saya, pak. Kenapa pak Deon malah diam?"
"Pak-"
Deon menarik tengkuk Izza dan mengecup bibir wanita itu supaya diam. Kedua mata Izza terbelalak meski ini bukan yang pertama kalinya. Ia tetap terkejut jika pria itu melakukan sesuatu terhadap dirinya.
Deon melepaskan ciumannya dan mengusap bibir Izza yang basah. Sorot mata Izza tak terlepas dari wajah Deon.
"Bagus sekarang kamu udah diam."
Izza menelan ludahnya sendiri tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Deon. Ia tidak mengerti apa yang Deon pikirkan terhadapnya. Apa benar Deon hanya menganggap dirinya sebagai pembantu atau dia juga sebenarnya menyukai dirinya. Entahlah, pikiran pria itu sulit sekali untuk di tebak.
"Sekarang kamu tidur aja. Biar nanti begitu kamu bangun, sakitnya sudah berkurang."
Izza diam tak mengedip, ia masih tenggelam akan pemikirannya dan tidak mendengar apa yang baru saja Deon katakan.
"Izzaaa .."
"I-iya, pak."
"Kamu tidur, ya. Aku mau ke kamar aku."
Izza mengangguk cepat. "Iya, pak."
Deon bangkit berdiri dan mulai meninggalkan Izza di kamar. Pria itu kemudian menyandarkan tubuhnya di daun pintu kamar Izza setelah keluar. Entah kenapa ia sulit sekali mengendalikan diri di saat sedang berduaan seperti tadi. Rasanya ia ingin melakukan hal yang lebih jika berlama-lama dekat wanita itu. Hawanya aset berharga miliknya bangun dan berdiri tegak jika melihat tubuh Izza. Mungkin karena Izza memiliki tubuh mungil yang berisi di banding Adell yang tinggi kurus.
Deon berjalan pergi menuju kamarnya. Ia membuka jas hitam dan melemparnya ke sembarang arah. Duduk di tepi ranjang sambil membuka dua kancing atas kemeja putih polosnya, kemudian membuka kancing di lengan kiri kanan. Menggulung lengan bajunya sampai bawah siku.
Deon merogoh benda pipih di kantong celana hitamnya, mendial nomer Adell via panggilan video call. Tidak berapa lama, Adell menjawab panggilan video call nya.
"Hallo, baby," jawab wanita itu dengan ceria.
__ADS_1
"Sudah ketemu sama sahabat lamanya?" tanya Deon tanpa basa-basi.
"Sudah, ini aku lagi shoping, sayang."
Adell memperlihatkan dirinya tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan.
"Mana sahabat kamu?" Deon tidak melihat Adell bersama wanita.
"Lagi pilih baju sebelah sana, sayang. Kenapa memangnya?"
"Enggak, gak apa-apa. Kamu pulang jam berapa nanti?"
"Malam kayaknya. Soalnya melepas rindu sama sahabat aku yang udah lama gak ketemu. Gak apa-apa kan?"
"Iya, tapi jangan kemalaman, ya."
"Ok, baby. Eh, tunggu. Kamu itu dimana?"
Deon lupa jika Adell tahunya ia masih di kantor untuk urusannya.
"Ini aku pulang dulu untuk ambil berkas yang aku simpan di laci, sayang."
"Oh begitu."
"Iya. Have fun, ya. Jangan kemalaman pulangnya."
"Ok, baby. Bye .."
"Bye, sayang .." balas Deon sebelum mengakhiri panggilan video call nya.
Deon meletakkan ponselnya di sisinya. Ia tertegun sejenak. Merasa bersalah karena sudah membohongi orang yang ia cintai hanya demi Izza. Tapi entahlah, ia juga mulai tidak mengerti dengan pikirannya saat ini.
Deon bergegas bangkit dari duduknya dan hendak pergi menuju kamar Izza lagi untuk memastikan apa wanita itu tidur atau tidak. Sampai di depan pintu kamar Izza, Deon membuka pintu kamar tersebut pelan-pelan dan sangat hati-hati. Ia masuk ke kamar itu dan mendapati Izza sudah tidur.
__ADS_1
Ia berdiri di dekat ranjang tempat tidur Izza dan menatap wajah wanita itu dalam waktu yang cukup lama. Tidak bisa di pungkiri, Izza memang memiliki paras yang cantik dan postur tubuh mungil berisi yang sangat di idamkan oleh banyak pria. Tanpa ia sadari jika ia mulai ada perasaan suka terhadap wanita itu, bukan hanya ketertarikan fisik belaka, melainkan hati dan perasaan.
_Bersambung_