
Sudah jam sebelas malam tapi Deon belum juga bisa tidur. Selain memikirkan istrinya sedang apa di sana, pikirannya juga sedikit terganggu akan apa yang ia lihat di bawah meja tadi pada saat sedang makan.
Sekeras apapun ia memejamkan mata, tetap saja alam bawah sadar tidak kunjung menariknya ke alam mimpi. Ia kesulitan tidur malam ini hanya karena Izza.
"Aarghh .. Kenapa aku terus kepikiran Izza?"
Deon mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menepis dan menghilangkan ingatan itu. Namun semakin berusaha ia tepis, bayangannya semakin jelas terlihat.
Pria itu mengambil bantal yang biasa di pakai oleh istrinya, lekas di gunakan untuk menutup seluruh wajah. Berharap dengan itu ia bisa tidur. Namun justru malah terasa pengap dan kesulitan bernapas.
"Aarghh .." Deon melempar bantal ke sembarang arah serentak bangun duduk.
Napasnya terdengar sedikit memburu akibat kekurangan oksigen. Dia memukuli kepalanya akibat terlalu overthinking.
"Ayolah, lupakan apa yang kamu lihat tadi di meja makan, Deon!"
Pria itu berbicara pada dirinya sendiri.
Praang ..
Suara benda jatuh berhasil menarik perhatian Deon.
"Apa itu?" gumamnya.
Lantaran penasaran, dia turun dari tempat tidurnya dan bergegas menuju sumber suara tadi.
"Aww .."
Seseorang tengah meringis kesakitan karena jari telunjuknya berdarah akibat terkena kepingan gelas kaca yang tidak sengaja ia pecahkan.
"Izza."
__ADS_1
Panggilan seseorang membuatnya menoleh. Seorang pria berdiri di hadapannya dan melihat jarinya berdarah.
"Kamu kenapa?" tanya pria itu seraya menarik tangannya yang terluka untuk bangkit berdiri.
Tanpa Izza jelaskan pria itu mungkin sudah tahu apa yang terjadi pada dirinya.
"Jari kamu luka. Ini harus segera di obati, takutnya nanti infeksi."
Deon menarik tangan Izza namun di tahan oleh pemiliknya.
"Maaf, pak. Tapi-"
"Nanti biar aku saja yang bersihkan serpihan kaca nya. Obati dulu lukamu."
Deon menarik pergelangan tangan Izza dan membawanya pergi dari dapur. Pria itu meminta Izza untuk duduk di sofa ruang televisi untuk menunggunya sementara mengambil kotak p3k.
Goresan kaca di tangannya cukup lumayan sehingga Izza merasa kesakitan. Tidak berapa lama Deon kembali dengan kotak p3k nya. Deon duduk di samping menghadap dirinya dan mengambil kapas untuk membersihkan darahnya terlebih dahulu. Akan tetapi darah yang keluar dari tangan Izza yang luka lumayan deras.
Iris mata wanita itu seketika melebar pada saat Deon memasukan jarinya yang luka ke dalam mulutnya untuk menghentikan pendarahan. Pria itu menarik selembar tisu di meja untuk membuang darah dari mulutnya.
Izza tak berhenti memandang wajah pria di hadapannya sampai ia tidak sadar jika lukanya sudah selesai di obati.
"Sudah selesai, Za," kata Deon menyadarkan wanita itu.
Izza langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dan ia terlihat sedikit gugup. Ia tidak menyangka jika Deon akan begitu perhatian dan mengkhawatirkan dirinya.
"Ini terasa seperti mimpi," gumam Izza.
Deon pun mulai sadar jika tindakannya barusan melebihi batas antara seorang majikan dengan pembantu. Kemudian ia kembali merutuki keboddohannya. Padahal ia susah payah melupakan kejadian tadi.
"T-terima kasih, pak," ucap Izza kemudian.
__ADS_1
Deon mengangguk tanpa melihat ke arah Izza. "Iya, sama-sama. Lain kali hati-hati."
"Iya, maaf, pak. Tadi saya gak sengaja menyenggol gelasnya. Kalau misalkan pak Deon mau memotong gaji saya untuk mengganti gelas itu, saya tidak masalah."
"Itu terlalu berlebihan. Lagian cuma gelas. Yang penting kamu gak apa-apa. Semoga lukanya cepat kering."
"Iya, pak. Terima kasih," ucap Izza.
Kini hanya ada kecanggungan di antara keduanya. Deon memutuskan untuk pergi guna membersihkan serpihan kaca.
Sebelumnya Deon belum pernah membersihkan pecahan kaca. Pernah dulu waktu ia masih sekolah dan sudah lama sekali. Saat mamanya masih ada.
Dengan hati-hati Deon membersihkan pecahan gelas kacanya. Memasukan ke dalam kantong kresek. Setelah memastikan jika tidak ada yang tertinggal, barulah ia buang ke tempat sampah. Namun, begitu ia bangkit berdiri dan membalikan badan, ia mendapati Izza tengah berdiri di hadapannya.
"Izza, kamu kenapa gak tidur?" tanya Deon sedikit kaget ternyata ada orang di sana.
"Saya gak mungkin tidur duluan, pak. Pak Deon pasti terbangun gara-gara saya."
Deon menarik napas dalam-dalam.
"Aku belum tidur sejak tadi."
Jawaban Deon membuat Izza semakin merasa bersalah.
"Kalau begitu pak Deon tidur saja, biar saya yang buang itu."
Izza hendak mengambil kantong plastik berisi pecahan gelas kaca di tangan Deon, namun segera di alihkan oleh pria itu.
"Gak usah, biar aku saja. Ini sudah terlalu malam. Kamu tidur saja sana, biar lukanya cepat sembuh."
Deon melipir pergi melewati Izza, pria itu hendak membuang sampah kaca itu langsung ke tempat sampah luar rumah.
__ADS_1
Izza jadi merasa bersalah. Tapi di sisi lain ia merasa senang karena perhatian pria itu padanya barusan.
_Bersambung_