
Setelah mandi dan memakai pakaian, Deon kembali ke kamar Izza. Menurut Izza pria itu terlihat lebih ganteng sekarang. Mungkin karena ia sudah mendengar pernyataan pria itu yang mengatakan nyaman dengannya. Jadi auranya terasa lebih beda.
Waktu sudah menunjukan jam setengah tujuh malam. Adell tadi sudah izin akan pulang agak malam. Jadi ada waktu untuk Deon ngobrol dengan Izza.
"Za, aku boleh tanya sesuatu?" Deon mengawali pembicaraan.
"Apa?"
Deon memantapkan diri untuk menanyakan soal ini pada Izza. Berharap wanita itu mau jujur padanya.
"Waktu aku nanya pendapat kamu soal keinginan punya anak sama Adell, kamu pernah bilang kalau aku lebih baik menunggu sampai Adell siap, di bandingkan dengan anak itu lahir tanpa diinginkan kehadirannya seperti kamu. Itu maksudnya apa? Tolong jawab jujur kali ini!"
Izza langsung bergeming. Jujur ia masih belum siap untuk cerita soal dirinya pada siapapun termasuk Deon. Ia tidak ingin Deon jadi ilang feeling terhadap dirinya.
"Apa kamu memiliki luka trauma di keluarga yang sangat dalam?" tanya pria itu lagi.
Izza menundukan kepalanya. Tangannya mengopeki kukunya karena bingung harus ia ceritakan atau tidak. Ia masih takut dan ragu. Dan ini seharusnya tidak Deon tanyakan padanya.
"Untuk apa?" kata Izza setelah beberapa saat memilih diam.
"Aku hanya ingin tahu. Tapi kamu tenang saja, kalau kamu memang gak mau cerita, aku gak bakalan maksa. Tapi kalau kamu memang mau cerita, aku bakal dengerin kamu dan gak bakal menghakimi kamu, Za."
Deon berusaha meyakinkan Izza agar wanita itu mau cerita padanya. Karena ia pun penasaran dengan hidup wanita itu. Ia ingin tahu latar belakang Izza seperti apa.
"Aku takut, Deon," ucap wanita itu, kini tidak lagi memanggil 'pak' pada majikannya.
"Jangan takut, Za. Aku yakin kamu akan merasa jauh lebih baik setelah kamu mengungkapkan apa yang selama ini kamu pendam sendirian. Kamu pasti akan merasa lega setelahnya."
Izza menatap dalam wajah Deon. Ia masih ragu apa Deon bisa di percaya atau tidak. Tapi jika di lihat dari wajahnya, sepertinya Deon bisa menjaga rahasia tentang dirinya.
Izza memantapkan diri untuk membuka cerita kehidupannya pada Deon.
"Aku adalah anak perempuan yang tidak tahu siapa orang tuaku." Izza memulai ceritanya dan Deon menyimak baik-baik.
"Orang tuaku meninggalkan aku di depan panti asuhan tanpa alasan. Suatu hari, aku mendengar ibu panti tengah bicara dengan pengurus panti yang lain, kalau aku adalah anak hasil hubungan sepasang kekasih di luar nikah. Setelah itu, aku memutuskan untuk kabur dari pangi untuk mencari orang tuaku. Tapi tidak semudah itu. Jangankan wajahnya, namanya saja aku tidak tahu."
"Kemudian aku mencoba melamar kerja ke sebuah tempat, tapi tidak pernah di terima karena status aku tidak jelas. Kemudian aku menerima tawaran dari seseorang untuk kerja di tempatnya, di club malam ketika usiaku dua puluh empat tahun. Itu bukanlah pekerjaan yang aku inginkan. Tapi percayalah, aku melakukan itu karena itu satu-satunya tempat dimana aku bisa bekerja. Aku melayani pria setiap malam dan aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan itu karena aku sadar kalau selama itu aku hanya di manfaatkan. Aku menerima royalti yang tidak seberapa dari yang seharusnya aku dapatkan."
Air mata Izza mulai menggenang di pelupuk matanya. Namun ia masih berusaha untuk menahan bulir bening itu agar tidak jatuh.
"Aku lalu memutuskan kerja di rumah menjadi asisten rumah tangga. Aku mendapat perlakuan yang tidak wajar. Aku pernah kerja tiga bulan di salah satu rumah tapi tidak bayar. Aku tidak menjelaskan satu persatu dan secara detail. Dan terakhir kali aku bekerja sebagai asisten rumah sebelum di sini, aku di usir oleh majikan perempuan."
"Karena apa?" tanya Deon saat Izza berhenti bicara.
"Aku selingkuh dengan majikan pria itu demi mendapatkan gaji lima kali lipat."
Jawaban Izza membuat Deon terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa dan jujur ia speechless oleh pengakuan wanita itu.
"Aku tahu kamu pasti ilfeel kan sama aku setelah aku ceritakan semua tentang aku?"
Izza menyesal sudah menceritakan siapa dirinya pada pria itu.
__ADS_1
Deon menggelengkan kepalanya pelan. Ia memegang kedua bahu wanita itu dan menatap matanya dengan tatapan dalam.
"Aku salut sama kamu karena masih bisa bertahan sampai detik ini di kehidupan kamu yang menurut aku itu sangat keras. Aku tahu, hidup yang kamu lalui ini tidaklah mudah. Ketika semua orang melontarkan perkataan yang buruk sama kamu, aku akan mengakui jika kamu perempuan yang kuat. Terlepas dari apapun yang sudah kamu lakukan selama ini. Seseorang tidak berhak mencap diri kamu sebagai perempuan yang buruk. Karena mereka tidak akan pernah paham dan mengerti kehidupan seperti apa yang kamu jalani," tutur Deon.
Bulir bening yang sedari tadi Izza tahan supaya tidak terjadi kini luruh menembus benteng pertahanan pelupuk mata dan mulai terjun bebas dengan deras. Ia tidak menyangka jika respon Deon di luar dugaan.
Deon lekas membawa Izza ke dalam pelukannya. Mendekap wanita itu erat-erat.
Deon masih tidak percaya jika wanita yang saat ini ada dalam pelukannya ternyata memiliki masalalu yang sangat buruk. Tapi ia salut karena wanita itu sama sekali tidak ada niatan untuk mengakhiri hidupnya.
"Kamu boleh nangis yang keras. Keluarkan semua beban kamu yang selama ini kamu pendam sendirian sampai kamu merasa lega. Nangis saja, jangan ragu."
Setelah Deon mengatakan itu, tangis Izza semakin pecah, air matanya tumpah ruah di pelukan Deon. Wanita itu menangis tersedu-sedu sampai sesenggukan.
Deon memeluk tubuh Izza, mengusap punggung wanita itu dan sesekali membelai rambutnya, memberi ketenangan pada wanita itu.
Setelah puas menangis. Izza melepaskan pelukannya. Deon menghapus air mata di pipi Izza menggunakan kedua ibu jarinya.
"Gimana? Udah lega sekarang?" tanya pria itu kemudian.
Izza mengangguk. Sesenggukannya belum hilang karena ia menangis begitu lama. Ia mencoba mengatur deru napasnya yang masih tersengal-sengal. Setelah merasa semuanya jauh lebih baik, barulah ia mengucapkan terima kasih pada pria itu.
"Terima kasih karena kamu sudah mendengarkan cerita aku tanpa memberi penghakiman tentang hidup aku, Deon. Terima kasih juga untuk pelukannya, aku merasa sangat lega sekarang. Terima kasih banyak, terima kasih banyak, Deon."
"Iya, sama-sama. Jangan sungkan untuk cerita apapun yang ingin kamu ceritakan."
Izza mengangguk. "Iya, terima kasih."
Deon mengalihkan rambut yang menutupi wajah Izza, lalu memberi kecupan singkat di kening wanita itu.
***
Deon meninggalkan Izza ketika wanita itu sudah tertidur. Dia bilang ngantuk usai menangis dalam waktu yang cukup lama.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan lebih lima menit. Akan tetapi Adell belum pulang juga. Dan begitu ia berjalan menuju kamarnya, seorang wanita datang.
"Sayang .." seru wanita itu dan langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya.
Tiba-tiba Adell melepaskan pelukannya dan menatap wajah Deon.
"Sayang, kamu bau parfum orang lain."
"Hah?" Deon terlihat ketar-ketir dan langsung mencium bajunya. Mungkin itu bau parfum Izza yang menempel karena tadi ia memeluk wanita itu cukup lama.
"Ah ini bukan parfum, sayang. Ini bau pewangi pakaian." Deon mengelak.
"Masa sih?" Adell mencium kembali baju suaminya, beruntung bekas air mata Izza sudah mengering.
"Ini bau parfum, sayang."
"Pewangi pakaian, baby. Aku sama sekali gak pakai parfum tadi setelah mandi."
__ADS_1
Deon berusaha meyakinkan istrinya. Adell memicingkan kedua matanya menatap pria itu dengan kecurigaan. Akan tetapi ia tidak mau ribut, ia sangat happy hari ini.
"Ah ya sudahlah. Kita ke kamar, yuk. Aku capek mau istirahat."
"Iya."
Adell menarik tangan Deon dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Deon duduk tepi ranjang sementara Adell berdiri di depan lemari untuk mengganti pakaian.
"Aku happy sekali hari ini, sayang. Tadinya sahabat aku ngajak aku nginap di apartemennya, tapi kamu bilang aku gak boleh pulang kemalaman. Itu artinya kamu gak memperbolehkan aku menginap kan?"
Adell mencari piyama tidurnya di lemari.
"Kamu kan gak bilang mau nginap. Bilangnya pulang agak malam, makanya aku bilang jangan kemalaman," jawab Deon.
Adell menoleh melirik suaminya.
"Jadi kalau aku izin nginap, kamu bakal izinin aku?"
"Kalau izin, pasti aku izinin. Asal alasannya jelas saja."
"Serius? Kamu gak keberatan aku nginap?"
Deon mengangguk. Adell menyesal karena tidak bilang akan nginap. Tahu begitu ia bilang dan mungkin sekarang ia masih di tempat bersama seseorang.
Pria itu memberi izin istrinya nginap karena di rumah pun ia ada Izza.
Adell melepas satu persatu pakaiannya di depan suaminya seperti biasa. Entah kenapa kali ini merasa biasa saja melihat istrinya tellanjjang di depan mata. Mungkin karena ia sudah melihat milik Izza yang jauh lebih besar dan mungil di banding punya Adell yang hanya pas di genggaman.
Meski demikian, sebagai pria normal ia tetap ingin melakukan hubungan suami istri. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri sang istri memeluknya dari belakang. Kebetulan Adell belum memakai piyama tidurnya, dan hanya memakai pakaian dallam saja.
Deon merremmas buah dadda istrinya dari belakang sambil mencium bibirnya secara menyamping. Ia juga tak lupa menempelkan pusaka miliknya pada bagian bokkong istrinya yang ramping. Serta satu tangannya mulai menyusup ke bagian cellana dalam.
Saat sedang menikmati itu, tiba-tiba ia teringat hal serupa yang pernah ia lakukan juga pada Izza. Bedanya, punya Izza lebih monttok dan mungil juga lebih terasa.
Akhirnya Deon membayangkan jika saat ini ia sedang bermain dengan Izza. Tidak perduli jika istrinya saat ini di jadikan objek halusinasi untuk dirinya.
Deon menjatuhkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur dengan napas terdengar memburu. Pria itu melepas pakaiannya satu persatu hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang. Kemudian menurunkan cellana dallam Adell sampai terlepas.
Pria itu menindih tubuh istrinya di bawah kungkungannya sebelum kemudian menjalankan aksinya. Adell tak ingin kalah dari suaminya, seperti biasa ia pun akan lebih aktif dan agresif dan itulah hal yang di sukai oleh Deon ketika di atas ranjang bersama istrinya. Namun, kali ini ia membayangkan jika itu adalah Izza.
Di kamar lain, seorang wanita tiba-tiba bangun karena merasa haus. Ia terpaksa bangun ketika ia tidak mendapati keberadaan pria yang tadi menemaninya.
Izza turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu dengan pelan-pelan dan juga hati-hati karena kakinya belum sepenuhnya sembuh total. Masih ada rasa sakit sedikit.
Saat berjalan menuju dapur, tiba-tiba langkahnya terhenti. Sayup-sayup ia mendengar suara errangan seseorang dari balik kamar majikannya.
Izza pun berjalan mendekat ke arah pintu kamar tersebut. Suara itu terdengar semakin jelas di telinganya ketika ia menempelkan daun telinga ke pintu.
Boddohnya, kenapa ia harus melakukan itu padahal ia sudah tahu jika suara itu pasti suara majikan perempuannya. Suara yang sama seperti pertama kali ia mendengarnya pada saat itu. Namun kali ini rasanya berbeda, ia merasa cemburu dan hatinya terasa sakit mendengar suara ber cinta mereka. Ada perasaan tidak rela.
__ADS_1
"Aahh .. Ohh .. Babyyhh .." Suara itu berasal dari Deon. Sepertinya pria itu begitu menikmati ber cinta nya dengan Adell.
Izza merasa iri dan sedih meski ia tidak berhak karena bagaiamana pun pria itu sedang melakukan bersama istrinya. Rasa ingin memiliki Deon semakin besar. Dan ia akan pastikan jika pria itu akan menjadi miliknya seutuhnya. Suatu hari, apa yang Deon sedang lakukan bersama Adell, akan di lakukan juga dengannya.